Gaza, MINA— Hamas membantah tuduhan Israel yang menyebut Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza Utara digunakan untuk aktivitas militer. Hamas menyebut tuduhan tersebut palsu dan tidak berdasar, setelah serangan Israel di sekitar rumah sakit itu menewaskan dua warga Palestina pada Rabu (7/10).
Militer Israel mengklaim dua warga Palestina keluar dari kompleks Rumah Sakit Kamal Adwan dan salah satunya memasang bahan peledak yang disebut dibawa dari dalam fasilitas kesehatan tersebut. Keduanya kemudian menjadi sasaran serangan dan tewas. Wafa melaporkan.
Israel mengidentifikasi salah satu korban sebagai Mohammed Tamous yang disebut sebagai anggota sayap bersenjata Hamas sekaligus bekerja untuk Pertahanan Sipil Palestina.
Namun, militer Israel tidak memberikan bukti yang dapat diverifikasi secara independen mengenai klaim bahwa bahan peledak tersebut berasal dari rumah sakit atau bahwa fasilitas kesehatan itu digunakan untuk kepentingan militer.
Baca Juga: Israel Buka Tender 1.080 Unit Permukiman Baru di Yerusalem Timur
Hamas menilai tuduhan tersebut merupakan pengulangan klaim sebelumnya mengenai penggunaan rumah sakit sebagai pusat komando.
Hamas juga menuduh Israel menggunakan tuduhan mengenai aktivitas militer di rumah sakit sebagai alasan untuk menargetkan fasilitas kesehatan dan bangunan sipil di Gaza.
Kelompok tersebut sebelumnya menyerukan agar lembaga internasional melakukan pemeriksaan terhadap rumah sakit guna memverifikasi klaim mengenai keberadaan aktivitas militer di dalam fasilitas medis.
Di tengah polemik tersebut, seorang petugas medis Pertahanan Sipil Palestina dilaporkan meninggal akibat luka yang dideritanya dalam serangan Israel ketika hendak membantu korban luka di sekitar Rumah Sakit Kamal Adwan.
Baca Juga: Ben-Gvir Gunakan Kebencian terhadap Arab dan Islam sebagai Kampanye Pemilu
Sumber medis menyebut pesawat Israel kembali menyerang kawasan tersebut ketika petugas itu menuju lokasi untuk melakukan pertolongan.
Sementara itu, sistem kesehatan Gaza masih menghadapi tekanan berat setelah tiga tahun perang. WAFA melaporkan pada 6 Oktober bahwa hanya 22 dari 38 rumah sakit yang beroperasi sebelum perang masih berfungsi, dengan kapasitas tempat tidur turun menjadi 2.637 dari sekitar 3.950.
Kondisi tersebut berlangsung ketika ribuan pasien masih membutuhkan pengobatan dan evakuasi ke luar Gaza. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Krisis Dana Paksa PBB Pangkas Bantuan Pangan bagi 500.000 Warga Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic