Jakarta, MINA – Lonjakan harga kedelai berdampak langsung pada industri pangan rakyat, dengan para perajin tempe terpaksa memperkecil ukuran produk demi menjaga kelangsungan usaha di tengah biaya produksi yang meningkat.
Kenaikan harga bahan baku tersebut membuat produsen tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan ukuran tempe, karena menaikkan harga jual dinilai berisiko menurunkan daya beli masyarakat. Kondisi ini menyebabkan tempe yang beredar di pasaran kini lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
Sejumlah perajin di pasar Cileungsi dan sekitarnya, pada Senin (6/4) mengaku harga kedelai yang terus merangkak naik telah menekan margin keuntungan mereka. Harga kedepai impor semula Rp8.500,- kini menjadi Rp.11.000,-.
Para produsen memilih memilih tetap mempertahankan harga jual, namun mengurangi berat dan ukuran tempe sebagai strategi bertahan di tengah fluktuasi harga bahan baku.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Fenomena ini bukan hal baru, namun kembali terjadi seiring kenaikan harga kedelai global. Data menunjukkan harga kedelai impor mengalami peningkatan pada awal April 2026 akibat gangguan rantai pasok internasional, yang berdampak langsung pada industri tempe di Indonesia.
Selain faktor global, ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai juga menjadi salah satu penyebab utama rentannya harga di dalam negeri. Ketika harga internasional naik, pelaku usaha kecil seperti perajin tempe menjadi pihak yang paling terdampak karena keterbatasan modal dan daya tawar.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik melalui stabilisasi harga maupun penguatan produksi kedelai lokal. Tanpa langkah strategis, dikhawatirkan daya beli masyarakat akan terus tergerus, sementara keberlangsungan usaha kecil di sektor pangan semakin terancam. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
















Mina Indonesia
Mina Arabic