Semarang, MINA – Kenaikan harga minyak goreng disertai kelangkaan stok MinyaKita mulai dirasakan warga di Kota Semarang dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini memicu keluhan warga, terutama dari pelaku usaha kecil yang bergantung pada komoditas tersebut untuk aktivitas harian.
Pantauan di Pasar Karangayu pada Senin (27/4) menunjukkan harga minyak goreng mengalami kenaikan signifikan dalam satu bulan terakhir. MinyaKita yang sebelumnya dijual sekitar Rp15.700 hingga Rp16.000 per liter kini melonjak hingga Rp21.000 per liter akibat pasokan yang tidak stabil.
Tidak hanya MinyaKita, harga minyak goreng jenis lain juga ikut terdampak. Minyak goreng curah kini berada di kisaran Rp22.000 per kilogram, sementara minyak goreng kemasan bermerek mencapai sekitar Rp23.000 per liter, dengan kenaikan rata-rata Rp2.000 hingga Rp3.000.
Baca Juga: Semeru Erupsi Dua Kali Hari Ini, Warga Diminta Jauhi Aliran Besuk Kobokan
Pedagang mengungkapkan keterbatasan distribusi menjadi faktor utama kelangkaan. Pasokan MinyaKita yang tidak rutin memaksa pedagang mencari stok dari luar jalur resmi, sehingga harga jual menjadi lebih tinggi dari harga eceran yang ditetapkan pemerintah.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Semarang. Sejumlah daerah lain di Indonesia juga melaporkan kenaikan harga MinyaKita yang melampaui harga eceran tertinggi (HET) akibat terganggunya distribusi dan keterbatasan stok di pasar tradisional.
Pemerintah sebelumnya telah menerapkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk menjaga stabilitas pasokan minyak goreng di dalam negeri. Namun, dinamika distribusi di lapangan masih menjadi tantangan yang perlu diatasi agar harga tetap terjangkau dan pasokan merata di seluruh wilayah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic