Jakarta, MINA – Harga minyak mentah dunia kembali menembus level psikologis USD100 per barel, memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya beban subsidi energi di Indonesia serta potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertalite.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu sentimen pasar energi global. Al-Jazeera melaporkan, Jumat (24/7).
Kondisi tersebut membuat biaya pengadaan minyak mentah dan produk BBM impor meningkat. Apabila harga minyak bertahan di atas USD100 per barel dalam waktu yang cukup lama, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin besar.
Di sisi lain, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan besaran subsidi atau melakukan penyesuaian harga BBM untuk menjaga kesehatan fiskal negara.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Meski demikian, pemerintah hingga kini belum mengumumkan rencana kenaikan harga Pertalite. Sejumlah pejabat menegaskan bahwa kebijakan harga BBM subsidi akan mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional, daya beli masyarakat, serta stabilitas sosial.
Pemerintah juga terus memantau perkembangan harga minyak internasional sebelum mengambil keputusan terkait kebijakan energi.
Kenaikan harga minyak dunia juga diperkirakan berdampak pada sektor industri dalam negeri. Biaya logistik, transportasi, hingga produksi berpotensi meningkat apabila harga energi terus bertahan di level tinggi.
Selain itu, margin keuntungan kilang minyak domestik dapat tertekan apabila kenaikan harga minyak mentah tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual produk BBM di pasar.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Di sisi lain, Indonesia masih mengandalkan impor minyak mentah dan BBM untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Karena itu, setiap kenaikan harga minyak global akan langsung memengaruhi biaya impor energi dan nilai subsidi yang harus disiapkan pemerintah.
Situasi ini menjadi momentum untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan, meningkatkan kapasitas kilang nasional, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.
Harga minyak dunia sebelumnya melonjak menyusul meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan global.
Meski harga sempat bergerak fluktuatif, para analis memperkirakan volatilitas masih akan berlangsung selama konflik belum mereda.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Pemerintah Indonesia pun diperkirakan akan terus mengevaluasi kebijakan energi dan fiskal agar mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak pasar minyak dunia. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic