Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hubungan antara Al-Haramain dan Al-Quds

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Senin, 15 Juni 2026 - 14:59 WIB

Senin, 15 Juni 2026 - 14:59 WIB

78 Views ㅤ

Tiga masjid suci dalam Islam. Masjidil Haram (kiri), Masjid Nabawi (tengah) dan Masjid Al-Aqsa (kanan).

Oleh Dr. Deni Rahman, S.Sos. I, M.I Kom, Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah, Bogor.

Allah SWT berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (QS. Al-Isra’: 1)

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Bagi jamaah haji, Al-haramain (Makkah dan Madinah) adalah dua kota yang sangat akrab di hati. Bertahun-tahun mereka menunggu antrean keberangkatan demi dapat menunaikan rukun Islam kelima di Makkah dan berziarah ke Kota Rasulullah SAW di Madinah. Namun di antara dua kota suci yang selalu dirindukan itu, terdapat satu kota mulia yang sering kali kurang mendapatkan perhatian yang semestinya, yaitu Al-Quds dengan Masjid Al-Aqsha di dalamnya.

Padahal dalam perspektif Al-Qur’an dan sejarah Islam, Makkah, Madinah, dan Al-Aqsha merupakan tiga simpul penting yang saling terhubung dalam satu rangkaian perjalanan iman umat Islam.

Makkah adalah kota tauhid. Madinah adalah kota peradaban. Sedangkan Al-Aqsha adalah kota para nabi dan simbol kesinambungan risalah langit. Ketiganya bukanlah tempat yang berdiri sendiri-sendiri. Ketiganya terhubung oleh sejarah kenabian, oleh perjuangan dakwah, dan oleh misi besar membimbing manusia menuju Allah SWT.

Ketika jamaah haji memasuki Masjidil Haram, mereka menyaksikan Ka’bah yang menjadi kiblat seluruh umat Islam. Setiap hari, lebih dari satu miliar Muslim menghadap ke arah Ka’bah dalam shalat mereka. Di tempat inilah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS meninggalkan warisan tauhid yang terus hidup hingga hari ini.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Makkah juga mengajarkan ketundukan total kepada Allah. Talbiyah yang terus dikumandangkan oleh jamaah :

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu.”

Lafadz tersebut merupakan deklarasi penghambaan yang sangat mendalam. Seorang jamaah belajar bahwa hidup bukan untuk mengikuti hawa nafsu. Selama hidup kita seyogyanya senantiasa siap  menjawab panggilan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Selanjutnya, Madinah. Di kota ini para hujjaaj berziarah ke Masjid Nabawi, berdoa di Raudhah, dan mengirimkan salam kepada Rasulullah SAW.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Jika Makkah mengajarkan tauhid, maka Madinah mengajarkan bagaimana tauhid diterjemahkan menjadi akhlak dan peradaban. Di kota inilah Rasulullah SAW membangun masyarakat yang berlandaskan persaudaraan, keadilan, pelayanan, dan kasih sayang.

Karena itu, banyak jamaah yang merasakan bahwa Makkah dan Madinah memberikan dua pelajaran yang berbeda tetapi saling melengkapi. Makkah mendidik hubungan manusia dengan Allah, sedangkan Madinah mendidik hubungan manusia dengan sesama.

Namun ada satu mata rantai yang sering terlupakan dalam kesadaran umat Islam, yaitu Al-Aqsha. Padahal Al-Aqsha memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Sebelum Ka’bah menjadi kiblat, kaum Muslimin selama kurang lebih enam belas bulan menghadap ke Baitul Maqdis dalam shalat mereka. Selain itu, Al-Aqsha juga menjadi titik penting dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Menarik untuk dicermati bahwa Allah tidak langsung mengangkat Rasulullah SAW ke langit dari Makkah. Allah terlebih dahulu memperjalankannya dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsha, seperti yang disebutkan Allah dalam QS Al-Isra ayat 1. Di sanalah menurut sebagian riwayat, Rasulullah SAW mengimami para nabi sebelum naik ke Sidratul Muntaha menerima perintah shalat.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Peristiwa ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Seolah-olah Allah ingin menunjukkan bahwa risalah Nabi Muhammad saw merupakan penyempurna dari risalah para nabi sebelumnya. Makkah, Madinah, dan Al-Aqsha adalah satu kesatuan sejarah kenabian.

Rasulullah saw juga memberikan kedudukan istimewa kepada tiga masjid tersebut. Beliau bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدُ الْأَقْصَى

“Tidak dianjurkan melakukan perjalanan khusus untuk ibadah kecuali menuju tiga masjid, Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Hadis ini menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha berada dalam posisi yang sejajar dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam konteks keutamaan perjalanan ibadah. Sayangnya, dalam realitas umat Islam hari ini, perhatian terhadap ketiga masjid tersebut belum seimbang.

Makkah dan Madinah menjadi tujuan jutaan jamaah setiap tahun. Sementara Al-Aqsha sering kali hadir hanya dalam berita konflik, peperangan, dan penderitaan rakyat Palestina.

Banyak Muslim yang sangat mengenal detail Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, tetapi tidak banyak yang mengetahui sejarah Masjid Al-Aqsha, keutamaannya, bahkan posisinya dalam aqidah Islam. Inilah salah satu pekerjaan rumah besar umat Islam. Pertanyaannya, bagaimana seorang jamaah haji dapat menyambung hubungan spiritual dengan Al-Aqsha?

Pertama, dengan memperluas wawasan keislaman. Jamaah haji hendaknya memahami bahwa perjalanan iman Islam tidak hanya berkaitan dengan Makkah dan Madinah, tetapi juga Al-Aqsha. Kajian sirah, tafsir Surat Al-Isra’, sejarah para nabi, dan sejarah Baitul Maqdis perlu diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Kedua, dengan menumbuhkan kepedulian dan doa. Kepedulian kepada Al-Aqsha tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk perjalanan fisik. Ketika kondisi belum memungkinkan, umat Islam tetap dapat menunjukkan solidaritas melalui doa, edukasi, dan dukungan kemanusiaan kepada rakyat Palestina yang hingga kini masih menghadapi berbagai kesulitan.

Ketiga, bagi yang memiliki kesempatan dan kondisi yang memungkinkan, perjalanan umrah yang dilanjutkan dengan ziarah ke Al-Aqsha dapat menjadi salah satu bentuk penguatan hubungan spiritual dengan salah satu masjid suci umat Islam. Bukan semata-mata wisata sejarah, tetapi sebagai upaya mengenal lebih dekat salah satu simbol penting dalam sejarah kenabian.

Namun yang paling penting, kepedulian kepada Al-Aqsha jangan hanya muncul ketika terjadi konflik atau tragedi. Al-Aqsha harus tetap hidup dalam kesadaran umat sebagai bagian dari identitas keislaman. Bagi jamaah haji, pelajaran terbesar dari Makkah, Madinah, dan Al-Aqsha adalah bahwa Islam juga mengajarkan kesinambungan sejarah, persaudaraan umat, dan tanggung jawab peradaban.

Makkah mengajarkan tauhid. Madinah mengajarkan akhlak dan peradaban. Al-Aqsha mengajarkan amanah sejarah dan kepedulian umat. Ketika seorang Muslim mencintai ketiganya secara seimbang, maka selain ia menjadi pribadi yang rajin beribadah, ia juga memiliki kesadaran sejarah, kepedulian kemanusiaan, dan pandangan yang lebih luas tentang umat Islam.

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Perjalanan haji tidak seharusnya berhenti di Makkah dan Madinah. Perjalanan itu harus melahirkan kesadaran bahwa umat Islam memiliki warisan besar yang harus juga dijaga bersama. Warisan itu bernama tauhid di Makkah. Warisan itu bernama akhlak di Madinah. Dan warisan itu bernama amanah Al-Aqsha yang hingga hari ini terus menanti perhatian dan kepedulian umat Islam di seluruh dunia. Al-Aqsha Haqquna. Wallāhu a‘lam bi ash-shawāb.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat
Indonesia
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat
MINA Edu