KHUTBAH JUMAT kali ini mengingatkan jamaah akan pentingnya Masjid Al-Aqsa bagi umat Islam, dengan topik “Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa,” oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds dan Redaktur Senior MINA News. Berikut naskah selengkapnya.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarganya, para sahabatnya dan pengikutnya yang setia hingga Yaumul Kiamah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan sebenar-benar takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Semoga dengan ketakwaan itu, Allah membuka pintu-pintu pertolongan-Nya bagi kita dan bagi saudara-saudara kita di tanah suci Palestina yang sedang berjuang mempertahankan kehormatan dan kemuliaan Masjidil Aqsa.
Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Al-Aqsa bukan sekadar bangunan dari batu dan kubah. Al-Aqsa adalah pusat sejarah kenabian, poros perjuangan umat, dan cermin kehormatan Islam. Allah sendiri telah memuliakannya dalam firman-Nya:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ [17]: 1).
Ayat ini bukan sekadar narasi sejarah. Ayat ini adalah landasan akidah yang menegaskan bahwa Al-Aqsa adalah tempat yang dipilih Allah sendiri untuk perjalanan suci Nabi-Nya. Allah menyebutnya sebagai tempat yang diberkahi sekelilingnya, baik secara fisik maupun spiritual.
Di sanalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi imam bagi seluruh nabi dan rasul, titik pertemuan seluruh risalah kenabian dari Nab Adam hingga Nabi Isa ‘Alaihimussalam.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Allah juga menegaskan keberkahan Kawasan Baitul Maqdis dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 71:
وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 71).
Negeri yang diberkahi itu adalah negeri Syam, tempat di mana Masjidil Aqsa berdiri. Keberkahannya meliputi seluruh alam, bukan hanya untuk satu golongan atau satu bangsa, tetapi untuk semesta. Inilah tanah para nabi: tempat Nabi Ibrahim, Nab Ishaq, Nab Ya’qub, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan Nab Isa berdakwah dan mengabdi kepada Allah.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Hari ini Al-Aqsa dan Palestina masih dijajah. Masjidil Aqsa terus dinodai, Gaza dibombardir, dan rakyat Palestina merintih di bawah penindasan. Inilah saatnya kita tidak boleh diam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).
Menyuarakan Al-Aqsa adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Diam ketika Al-Aqsa dinodai adalah bentuk kelemahan iman. Maka, jangan pernah berhenti menyuarakan Al-Aqsa, melalui aksi, lisan, tulisan, media massa, media sosial, doa, dan segala cara yang kita mampu.
Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 60:
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يُوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ
Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah
“ Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya. Apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu, sedangkan kamu tidak akan dizalimi.” (QS. Al-Anfal [8]: 60).
Para ulama menjelaskan bahwa kekuatan dalam ayat ini bersifat luas, tidak terbatas pada kekuatan fisik dan militer saja, tetapi mencakup juga kekuatan ekonomi, intelektual, budaya, media, dan moral.
Di era modern ini, media dan narasi adalah salah satu senjata paling efektif untuk menggentarkan musuh. Setiap tulisan yang membongkar kebohongan, setiap suara yang menyuarakan kebenaran, setiap konten yang membangun kesadaran, semua itu adalah kekuatan yang diperintahkan Allah untuk kita persiapkan.
Selanjutnya, hadirin rahimakumullah
Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup
Menyuarakan Al-Aqsa tidak akan berarti jika kita berjalan sendiri-sendiri. Allah telah memberikan arahan yang jelas:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ
“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…..” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103)
Perhatikan dalam ayat ini. Allah tidak memerintahkan “berpeganglah pada tali-Ku” secara perorangan, tetapi secara kolektif, berjama’ah. Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa perintah ini tidak hanya mencakup ibadah ritual, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun kehidupan umat Islam yang kokoh.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya
Kita boleh berbeda pendapat dalam masalah fiqih. Kita boleh berbeda mazhab dalam masalah ibadah. Namun jangan biarkan perbedaan itu memecah belah kita dalam isu yang lebih besar: pembelaan terhadap Al-Aqsa.
Semoga kita dapat mengamalkan kehiduan berjama’ah, untuk memperkuat pembebasan Al-Aqsa dan Palestina. Aamiin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kemerdekaan Hakiki Sebagai Hamba Allah
















Mina Indonesia
Mina Arabic