Jakarta, MINA – Imaam Yakhsyallah Mansur menegaskan bahwa iman sejati menuntut solidaritas dan kepedulian terhadap kaum yang tertindas. Pernyataan itu disampaikannya dalam sambutan pada Seminar Refleksi Nakbah yang diselenggarakan oleh Aqsa Working Group (AWG) di Aula HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Ahad (17/5).
Dalam sambutannya, Imaam Yakhsyallah menjelaskan bahwa ikatan iman melahirkan solidaritas, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama di antara kaum mukminin. Seorang mukmin tidak boleh bersikap acuh terhadap penderitaan saudaranya, sebab iman itu sendiri menuntut kepedulian dan solidaritas aktif.
“Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar,” ujarnya mengutip Surat At-Taubah ayat 71.
Ayat ini, lanjut Imaam Yakhsyallah, menjadi fondasi penting tentang kewajiban amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan umat Islam. Kewajiban ini bersifat kolektif dan tidak bisa ditawar, karena ia adalah ruh dari kehidupan berjamaah.
Baca Juga: Semeru Erupsi Dua Kali Hari Ini, Warga Diminta Jauhi Aliran Besuk Kobokan
Imaam Yakhsyallah menekankan bahwa ayat tersebut menjadi sangat relevan ketika dikaitkan dengan tragedi Nakbah yang telah menimpa rakyat Palestina sejak tahun 1948. Selama lebih dari tujuh dekade, mereka mengalami pengusiran massal dari tanah air mereka, kehilangan desa-desa dan tempat tinggal, penghancuran rumah dan infrastruktur, serta Kehidupan panjang di kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak.
Hingga hari ini, penderitaan itu belum berakhir. Bahkan di Jalur Gaza, genosida yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menambah derita baru yang jauh lebih berat.
Persatuan Harus Diwujudkan
Imaam Yakhsyallah mengingatkan bahwa persatuan umat Islam bukanlah sekadar simbol identitas atau slogan di atas kertas. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata: membela yang tertindas, membantu yang lemah, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
“Persaudaraan dalam Islam tidak boleh berhenti pada ucapan dan slogan. Ia harus tampak dalam keberpihakan terhadap keadilan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa ketika ada saudara seiman yang dijajah, dibunuh, dan diusir dari tanahnya, maka umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk membantu mereka, sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Solidaritas Tanpa Batas Geografis
Seminar Refleksi Nakbah yang digelar AWG ini menjadi salah satu bentuk nyata dari solidaritas tersebut. Dengan menghadirkan para narasumber dari berbagai latar belakang, acara ini bertujuan untuk mengedukasi publik tentang sejarah dan realitas Nakbah, membangun kesadaran kolektif tentang penderitaan Palestina dan menggerakkan aksi nyata dukungan untuk kemerdekaan Palestina
Baca Juga: BPOM Ungkap Sejumlah Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin
Sejumlah tokoh nasional dan internasional dijadwalkan hadir sebagai narasumber dalam seminar ini, antara lain: Dubes Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah A.K. Al-Sattari, Prof. Yon Machmudi (Akademisi dan Pengamat Politik Timur Tengah dari UI), Prof. Suzie Sri Suparin Sudarman (Pakar Hubungan Internasional), Dr. Nasruddin Djoko Surjono (Kepala Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta), Wanda Hamidah (Aktivis) dan Ahrul Tsani Fathurrahman – Pejabat Kementerian Luar Negeri RI.
Kehadiran para tokoh ini menunjukkan bahwa isu Palestina bukanlah isu yang jauh dan asing. Ia adalah isu kemanusiaan yang melibatkan seluruh elemen bangsa. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Yayasan Darussalam Kotawisata Dukung Bulan Solidaritas Palestina 2026
















Mina Indonesia
Mina Arabic