Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia Pulang dari Asian Games dengan 39 Medali, 5 Emas, Apa yang Harus Dibenahi?

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 20 jam yang lalu

20 jam yang lalu

77 Views ㅤ

Penutupan Ajang Asian Games 2026 (foto: IG/Asian Games)

ASIAN GAMES Aichi-Nagoya 2026 telah berakhir. Dari Jepang, kontingen Indonesia membawa pulang 39 medali, terdiri dari 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Jumlah itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-16 klasemen akhir.

Jumlah 5 emas tersebut juga berarti Indonesia berhasil melewati target awal pemerintah, yakni 4 medali emas.

Tentu, ada rasa bangga. Ada Merah Putih yang berkibar. Ada lagu Indonesia Raya yang berkumandang. Ada atlet yang menangis haru setelah perjuangan panjangnya berbuah medali.

Tetapi setelah tepuk tangan mereda dan para atlet meninggalkan arena Aichi-Nagoya, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan: Apakah lima emas sudah cukup untuk menggambarkan kekuatan olahraga Indonesia di Asia?

Baca Juga: Usai Juara FIFA ASEAN Cup, Timnas Indonesia Bersiap Hadapi Piala Asia 2027

Pertanyaan ini bukan untuk mengecilkan perjuangan para atlet. Justru sebaliknya. Penghargaan kepada atlet harus berjalan bersama evaluasi terhadap sistem yang melahirkan mereka.

Sebab atlet boleh menang hari ini, tetapi negara harus memikirkan siapa yang akan menang sepuluh tahun lagi.

Lima Emas yang Patut Disyukuri

Mari kita mulai dari hal yang baik. Lima medali emas Indonesia datang dari cabang yang cukup beragam. Bulutangkis menyumbangkan dua emas, melalui tim beregu putra dan pasangan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin.

Baca Juga: Ini Kata-Kata Pelatih John Herdman Usai Timnas Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Kemudian ada Rahmat Erwin Abdullah dari angkat besi, Desak Made Rita Kusuma Dewi dari panjat tebing, dan Nurisa Dian Ashrifah dari panahan.

Artinya, Indonesia tidak hanya bergantung pada satu cabang olahraga. Ini penting.

Sebab dalam kompetisi multievent, ketergantungan pada satu cabang merupakan risiko besar. Ketika cabang tersebut gagal, perolehan medali suatu negara dapat langsung terjun bebas.

Di Nagoya, bulutangkis memang tetap menjadi salah satu penopang utama. Namun panjat tebing, angkat besi, dan panahan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber medali lain.

Baca Juga: Timnas Portugal Masih Buka Pintu untuk Ronaldo, Pelatih Jorge Jesus Sebut Hanya Kesalahpahaman

Bahkan beberapa medali perak juga datang dari cabang yang relatif baru atau sedang berkembang, seperti padel dan voli pantai. Kemenpora mencatat pasangan Fadona Kusumawati/Fitriani Sabatini meraih perak padel, sementara Bintang Akbar/Sofyan Rachman Efendi meraih perak voli pantai.

Ini menunjukkan bahwa ruang untuk berkembang sebenarnya cukup luas. Persoalannya adalah bagaimana ruang tersebut dikelola.

Target tercapai, dan peringkat ke-16 perlu dibaca. Ada dua cara melihat prestasi Indonesia di Nagoya. Cara pertama: Target empat emas tercapai, bahkan menjadi lima.

Cara kedua: Lima emas memang tercapai, tetapi Indonesia berada di peringkat ke-16. Apa yang membuat jarak dengan negara-negara teratas masih begitu lebar?

Baca Juga: “King Indo” Resmi Jadi “King ASEAN”

Kedua cara pandang tersebut sama-sama sah. Kita tidak perlu menghapus rasa syukur hanya karena ingin melakukan evaluasi. Sebaliknya, kita juga tidak perlu menutup mata terhadap kekurangan hanya karena target telah tercapai.

Lihat klasemen akhir. China menjadi juara umum dengan 169 emas. Jepang sebagai tuan rumah meraih 83 emas, disusul Korea Selatan dengan 39 emas. Bahkan Thailand mengumpulkan 18 emas, Kazakhstan 12 emas, dan Uzbekistan 21 emas.

Indonesia? 5 emas. Jarak tersebut berbicara dengan sendirinya.

Bukan berarti Indonesia harus langsung menargetkan ratusan emas. Tetapi angka tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar mencari atlet berbakat menjelang Asian Games. Yang diperlukan adalah sistem pembinaan prestasi yang bekerja jauh sebelum Asian Games dimulai.

Baca Juga: Juara FIFA ASEAN Cup, Ini Peringkat Indonesia di Dunia

Bakat saja tidak cukup Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan anak muda berbakat. Kita melihatnya di berbagai daerah.

Anak-anak berlari di lapangan desa. Bermain bulutangkis di gedung sederhana. Berlatih sepak bola di tanah kosong. Memanjat dinding latihan. Mengangkat beban dengan disiplin.

Bakat itu ada. Tetapi bakat tidak otomatis menjadi prestasi internasional. Di antara bakat dan medali terdapat jalan panjang: pemanduan bakat, pelatih, fasilitas, nutrisi, sport science, kompetisi, pembiayaan, kesehatan, psikologi, dan kesinambungan pembinaan.

Di sinilah pekerjaan rumah Indonesia. Seorang atlet mungkin memiliki bakat luar biasa, tetapi tanpa program latihan yang tepat, ia dapat berhenti berkembang.

Baca Juga: Emil Audero: Kiper Timnas Indonesia yang Menepis Mimpi Buruk

Seorang atlet mungkin memiliki fisik kuat, tetapi tanpa nutrisi dan pemulihan yang baik, performanya sulit mencapai puncak.

Seorang atlet mungkin memiliki teknik hebat, tetapi dalam pertandingan final ia dapat kehilangan fokus karena tekanan mental.

Olahraga prestasi modern bukan lagi hanya soal siapa yang paling rajin berlatih. Ia juga soal siapa yang paling baik mengelola seluruh ekosistem atlet.

Jangan hanya membina atlet ketika Asian Games sudah dekat. Ini salah satu hal yang penting dibenahi.

Baca Juga: Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Melalui Drama Adu Pinalti

Pembinaan atlet tidak boleh menggunakan pola: Asian Games datang, cari atlet, latihan intensif, dan target medali.

Pola semacam itu terlalu pendek untuk menghasilkan prestasi berkelanjutan. Negara-negara yang konsisten berada di papan atas membangun sistem sejak usia muda.

Atlet dipantau sejak tahap junior. Prestasinya dicatat. Perkembangannya diukur. Kondisi fisik dan mentalnya dipantau. Kemudian jalurnya disiapkan dari junior menuju senior, dari kompetisi nasional menuju internasional, dan dari Asian Games menuju Olimpiade.

Dengan demikian, ketika seorang atlet senior pensiun, sudah ada generasi berikutnya yang siap naik. Bukan mencari pengganti setelah sang juara pergi, tetapi menyiapkan penerus sebelum sang juara pensiun.

Baca Juga: Pemain Israel Diduga Ludahi Staf Timnas Irlandia dalam Laga Nations League

Itulah makna regenerasi. Jangan hanya menghitung medali emas Evaluasi juga sebaiknya tidak berhenti pada jumlah emas.

Ada pertanyaan yang lebih penting: Berapa atlet Indonesia yang masuk final? Berapa yang masuk semifinal? Berapa yang mencatat rekor nasional? Berapa yang mengalami peningkatan performa? Berapa atlet muda yang berhasil menembus level senior?

Dan yang tidak kalah penting: dari 39 medali tersebut, berapa yang berasal dari atlet yang memiliki peluang berkembang hingga Olimpiade Los Angeles 2028?

Inilah data yang seharusnya menjadi bagian dari evaluasi pasca-Asian Games.

Baca Juga: Malaysia vs Vietnam: Gol Pemain Pengganti Buat Harimau Malaya Raih Perunggu FIFA ASEAN Cup 2026

Sebab medali adalah hasil akhir. Di belakangnya ada proses yang jauh lebih panjang.

Justru salah satu hal menarik dari Nagoya adalah munculnya sumber-sumber medali di luar cabang yang selama ini menjadi andalan.

Panjat tebing misalnya. Desak Made Rita bukan hanya membawa emas, tetapi juga menunjukkan bahwa cabang yang dulu mungkin dianggap sebagai olahraga alternatif kini dapat menjadi salah satu sumber prestasi Indonesia.

Begitu pula panahan dan angkat besi. Padel bahkan memberikan perak. Ini berarti strategi Indonesia tidak perlu sekadar mempertahankan cabang lama.

Baca Juga: Malaysia vs Vietnam: Harimau Malaya dan The Golden Star Kurang Menggigit pada Babak Pertama

Indonesia juga perlu berani membaca perubahan peta olahraga Asia.

Asian Games 2026 memperlihatkan hadirnya olahraga baru seperti padel dan surfing, sementara cabang-cabang modern lainnya semakin mendapat tempat. Secara keseluruhan, Asian Games Aichi-Nagoya menghasilkan ratusan rekor baru.

Dunia olahraga bergerak. Indonesia pun harus bergerak.

Jangan Lupakan Sport Science

Inilah salah satu bidang yang semakin penting. Olahraga prestasi modern membutuhkan ilmu.

Bukan hanya pelatih teknik, tetapi juga dokter olahraga, fisioterapis, ahli nutrisi, psikolog olahraga, analis data, biomekanik, hingga teknologi pemantauan performa.

Latihan atlet sekarang dapat dianalisis dari berbagai sisi. Seberapa cepat ia berlari. Bagaimana pola geraknya. Bagaimana tingkat pemulihannya. Kapan ia mengalami kelelahan. Bagaimana kualitas tidurnya. Bagaimana respons tubuhnya terhadap beban latihan.

Bahkan kondisi psikologis menjelang pertandingan penting dapat menjadi bagian dari persiapan.

Karena itu, Indonesia perlu memperkuat hubungan antara olahraga dan ilmu pengetahuan.

Atlet jangan hanya disuruh berlatih lebih keras. Kadang yang dibutuhkan justru adalah berlatih lebih cerdas.

Anggaran penting, tetapi sistem lebih penting Pembinaan olahraga tentu membutuhkan anggaran. Tidak mungkin membangun prestasi dunia dengan fasilitas seadanya.

Tetapi anggaran yang besar juga tidak otomatis menghasilkan medali. Yang menentukan adalah bagaimana anggaran tersebut diterjemahkan menjadi program yang terukur.

Berapa banyak atlet yang dibina? Berapa lama? Dengan indikator apa? Siapa yang bertanggung jawab? Bagaimana evaluasinya? Dan apakah program tersebut berkelanjutan ketika terjadi pergantian kepemimpinan?

Ini penting karena pembinaan olahraga membutuhkan waktu panjang.

Seorang anak usia 12 tahun yang mulai dibina hari ini mungkin baru mencapai puncak prestasi pada usia 22 atau 24 tahun.

Berarti kebijakan olahraga hari ini hasilnya bisa dinikmati oleh pemerintahan yang berbeda satu dekade kemudian.

Karena itu, pembinaan olahraga seharusnya tidak terjebak dalam kepentingan jangka pendek.

Dari Nagoya menuju Los Angeles

Asian Games 2026 sudah selesai. Tetapi perjalanan atlet Indonesia belum selesai. Di depan ada Olimpiade Los Angeles 2028, kemudian Asian Games 2030 di Doha.

Kemenpora sendiri menyatakan hasil Aichi-Nagoya menjadi bahan evaluasi untuk menyusun strategi pembinaan menuju ajang multievent berikutnya.

Waktu dua tahun menuju Los Angeles memang tidak panjang. Tetapi cukup untuk memperbaiki sesuatu jika dilakukan secara terarah.

Bukan semuanya harus diubah. Yang sudah baik dipertahankan. Yang lemah diperbaiki. Yang berpotensi dikembangkan diperbesar. Dan yang selama ini kurang diperhatikan perlu diberi ruang.

Jangan biarkan medali menutup pekerjaan rumah. Sejumlah 39 medali adalah kabar baik, dan 5 emas adalah prestasi yang patut diapresiasi.

Para atlet telah memberikan yang terbaik. Mereka meninggalkan keluarga, menjalani latihan panjang, menahan sakit, menghadapi tekanan, lalu bertanding membawa nama Indonesia.

Kita layak berterima kasih kepada mereka.

Tetapi justru karena menghargai perjuangan para atlet, kita tidak boleh berhenti pada ucapan: “Target sudah tercapai.”

Target memang tercapai. Namun olahraga Indonesia memiliki target yang lebih besar daripada sekadar memenuhi target sebuah Asian Games.

Target itu adalah membangun generasi juara yang berkelanjutan. Generasi yang tidak muncul secara tiba-tiba ketika Asian Games tiba. Generasi yang tumbuh dari sekolah, klub, daerah, pelatnas, kompetisi nasional, kompetisi Asia, hingga panggung dunia.

Maka setelah Merah Putih diturunkan dari arena Nagoya, pekerjaan sebenarnya justru baru dimulai.

Bukan lagi bagaimana mendapatkan lima emas. Tetapi bagaimana lima emas hari ini menjadi awal dari lebih banyak emas di masa depan.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika Indonesia berdiri di podium tertinggi Asia, kita tidak lagi bertanya: “Berapa emas yang kita dapat?”

Melainkan: “Sudah sejauh mana olahraga Indonesia mampu berdiri sejajar dengan kekuatan-kekuatan olahraga Asia?”

Nagoya telah memberikan medali. Kini saatnya Indonesia memetik pelajaran.

Medali boleh dibawa pulang. Evaluasi jangan ditinggalkan di Jepang. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda