Indrawati Zuhara: Membentuk Mubaligah Berkualitas Baik

Koordinator Muslimah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek Indrawati Zuhara. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

Jakarta, MINA – Kaum muslimah seharusnya mengikuti informasi dan terus menambah ilmu untuk menjadi mubaligah dan daiyah yang berkualitas baik.

Itulah kiat yang dipaparkan oleh Indrawati Zuhara, S.Pd, M.Si, Koordinator Muslimah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) dalam wawancara khususnya dengan jurnalis MINA, Rudi Hendrik.

Berikut wawancara lengkap dengan Indrawati di Pondok Pinang Centre, Kebayoran Lama, Sabtu, 25 November 2017:

 

MINA: Bagaimana Anda memandang minat kaum muslimah terhadap dakwah?

Indrawati Zuhara: Jika kita merujuk contoh di zaman Rasulullah, yang namanya muslimah adalah salah satu pondasi dakwah. Kita ketahui ada Khadijah, Aisyah, Nusaibah dan shahabiah lainnya. Jadi hubungan antara muslimah dengan dakwah sangat erat. Peran muslimah bukan sekedar melengkapi, tapi memang sealur dan searah dengan muslimin.

 

MINA: Anda sedang membentuk para mubaligah di kalangan muslimah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabodetabek. Apa tantangannya?

Indrawati Zuhara: Karena para calon daiyah-daiyah kebanyakan ummahat, ibu-ibu yang sudah menikah, jadi tantangannya itu ada di gerak. Karena yang namanya “ibu” yang sudah berumah tangga, itu ada suami, harus mengurus anak dan segala macam. Jadi untk bisa beraktivitas yang utama harus ada izin dari suami. Ini harus dikelola dengan baik. Jangan sampai majunya kita di dakwah, tapi melangkahi hak-hak suami dan anak, itu tidak bisa. Karena ibu tugas utamanya di keluarga untuk anak-anaknya. Jadi tantangan utamanya adalah menyeimbangkan kegiatan di luar dengan tanggung jawab di keluarga. Karena pula latar belakang ummahat yang berbeda-beda, untuk menetapkan satu titik target dakwah itu butuh pemerataan dalam hal informasi. Terkadang kita mau begini, tapi lingkungan yang jadi target dakwah pandangannya berbeda.

 

MINA: Muslimah tidak memiliki keleluasaan seperti muslimin. Bagaimana peran muslimah bisa maksimal?

Indrawati Zuhara: Ukuran maksimal itu relatif, tergantung kita menentukan targetnya. Bagi saya, maksimalisasi itu bisa dilakukan dari menyempurnakan niat. Seperti saya pribadi, saya sudah niatkan setengah hidup saya untuk dakwah. Jadi pikiran saya, tenaga saya, dan segala sesuatu itu otomatis konsen langsung ke dunia dakwah. Itu maksimalisasi bagi saya. Meskipun dalam gerak tidak sebanyak lelaki, tapi dakwah bisa dilakukan dengan porsinya sendiri. Bisa lewat tulisan, juga bisa dengan memperbaiki kualitas diri dan berdakwah dengan memberi contoh yang baik bagi anak-anak dan lingkungan sekitar. Pengertian dakwah kan luas.

 

MINA: Bagi muslimah, di ranah mana mereka harus benar-benar mencurahkan segala potensinya untuk dakwah?

Indrawati Zuhara: Untuk pengkhususan tidak bisa dispesifikasi seperti itu, karena setiap perempuan, berbeda pribadi dan kemampuannya. Ada yang bisa menulis, ada yang concern-nya kepada pemberdayaan masyarakat, atau dunia medis, parenting, atau ada juga yang terjun langsung ke lapangan sebagai relawan seperti ke Gaza dan tempat-tempat lain. Itu semua spot-spot yang bisa ditempati oleh muslimah.

 

MINA: Setelah adanya para mubaligah, apa selanjutnya?

Indrawati Zuhara: Tujuan dari pelatihan mubalighah adalah membentuk para daiyah untuk memperkuat dari dalam terlebih dahulu. Agar dakwah di Jama’ah Muslimin (Hizbullah) tidak hanya melesat ke luar, tapi juga kuat ke dalam.

Sementara para dai ditugaskan untuk berdakwah ke luar bahkan hingga meninggalkan keluarga untuk berdakwah ke luar negeri, para daiyah diharapkan dapat menguatkan muslimah-muslimah di dalam agar dapat menjadi pemimpin bagi anak-anaknya di keluarga dan juga dapat membenahi lingkungan sekitar.

 

MINA: Kiat apa yang Anda miliki agar muslimah itu tidak berhenti di tengah jalan?

Indrawati Zuhara: Muslimah harus terus-menerus terpapar informasi dan meningkatkan ilmu. Kedua hal itu yang akan memancing segala pengetahuan dan semangat untk tetap stay di jalan dakwah. Jadi ketika muslimah itu sudah menikah, yang mereka pikirkan tidak hanya dapur, sumur, dan kasur.

 

MINA: Kaum muslimah sendiri penuh permasalahan, bagaimana mungkin mereka bisa mmentingkan urusan yang lebih global?

Indrawati Zuhara: Memperhatikan permasalahan umat, permasalah di sekitar, pada dasarnya adalah mengisi kualitas diri sendiri. Dan kualitas diri ini akan membentuk jati diri sebagai muslimah, sebagai ibu, sebagai istri. Selanjutnya pribadi yang baik itu akan diturunkan kepada anak, melalui pendidikan anak. Bagaimana kita bisa mengajarkan kepada anak untuk peduli terhadap kondisi masyarakat sekitar jika kita tidak peduli? Bagaimana kita bisa mengajarkan kepada anak untuk empati kepada orang-orang tertindas, jika kita tidak aware dengan hal-hal seperti itu? Perhatian kita kepada masalah umat itu justru untuk mengoptimalisasi kualitas kita sebagai perempuan itu sendiri, baik di rumah maupun di luar. Dalam pendidikan anak dan keluarga, ada istilah social learning, jadi anak itu melihat apa yang orang tua lakukan. Ibu yang paling dekat kepada anak memegang peranan penting dalam hal ini. Jika ibunya peduli terhadap permasalahan umat, anak yang melihat nantinya juga akan terbiasa dengan hal-hal seperti itu.

Untuk bisa menjadi daiyah atau orang yang peduli terhadap permasalahan umat, sangat diperlukan kualitas diri yang baik. Kita harus mencari ilmu, meningkatkan amal dan sebagainya. Hal-hal seperti ini yang akan meningkatkan kualitas diri sebagai manusia dalam konteks habluminannas dan habluminallah.

Orang-orang yang bisa peduli terhadap permasalahan dakwah, biasanya akan tergiring kepada Allah. Di titik Allah itu, ada tuntutan untuk memperbaiki diri dalam kualitas sebagai ibu, istri, anak, dan anggota masyarakat. Jadi, justru dengan peduli terhadap masalah-masalah global, muslimah akan terus terpacu untuk meningkatkan kualitas diri.

 

MINA: Setelah adanya daiyah dan mubaligah, apa yang menjadi prioritas awal untuk diselesaikan?

Indrawati Zuhara: Pertama, pendidikan terhadap diri sendiri. Seorang mubaligah artinya penyampai. Menyampaikan ini bukan hanya kepada orang lain, tapi juga kepada diri sendiri. Ada orang-orang yang bisa menyampaikan kepada orang lain tetapi tidak kepada diri sendiri. Jadi, ilmu yang disampaikan itu tidak digunakan untuk perbaikan kualitas diri sendiri. Padahal menyampaikan kepada diri sendiri itu akan lebih bernilai dan memberi perubahan yang besar. Dakwah itu butuh SDM yang benar-benar riil dan amalannya baik. Pribadi-pribadi yang istiqomah dalam dakwah itu tidak akan pernah muncul jika kualitas dalam diri sendiri itu tidak baik. Kedua, adalah menyampaikan kepada orang-orang sekitar seperti keluarga dan lingkungan. (W/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)