Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Dakwah Kehilangan Ruh: Tadabbur QS. Ash-Shaff Ayat 2–3

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Ahad, 1 Februari 2026 - 16:17 WIB

Ahad, 1 Februari 2026 - 16:17 WIB

155 Views ㅤ

Ilustrasi: pepohonan hutan tidak bisa mencegah sinar matahari menerangi tanah hutan. (Gambar: Dreamina)

ADA satu kegelisahan halus yang sering terasa di ruang-ruang dakwah kita hari ini. Majelis ramai, panggung megah, suara lantang, konten melimpah—namun entah mengapa, hati terasa hampa. Dakwah berjalan, tetapi ruhnya seperti tertinggal. Kata-kata tersusun rapi, dalil berbaris indah, namun tidak selalu berbuah perubahan. Di sinilah Al-Qur’an menegur kita dengan lembut sekaligus tegas, melalui QS. Ash-Shaff ayat 2–3, sebuah ayat pendek yang mampu mengguncang alam bawah sadar orang-orang beriman.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)

Ayat ini tidak sedang berbicara kepada orang kafir, bukan pula kepada kaum munafik yang terang-terangan menolak iman. Ayat ini dimulai dengan panggilan penuh cinta dan kehormatan: “Yā ayyuhalladzīna āmanū”—wahai orang-orang yang beriman. Artinya, teguran ini justru ditujukan kepada mereka yang berada di barisan dakwah, di lingkar iman, di ruang-ruang kebaikan. Teguran ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menyelamatkan.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Dakwah kehilangan ruhnya bukan karena kurang dalil, tetapi karena jarak antara lisan dan perbuatan semakin melebar. Kita pandai berbicara tentang keikhlasan, namun sibuk menghitung tepuk tangan. Kita fasih menjelaskan tentang zuhud, tetapi hati terpaut pada kemewahan. Kita mengajak orang shalat tepat waktu, sementara kita sendiri sering menunda. Bukan karena kita munafik, tetapi karena kita manusia—dan ayat ini hadir agar kita kembali jujur pada diri sendiri.

Menariknya, Allah tidak langsung melarang berbicara. Islam tidak pernah membungkam dakwah. Yang ditegur adalah ketidaksinkronan. Dakwah sejatinya adalah kesatuan antara kata dan laku. Ketika keduanya bersatu, dakwah menjadi hidup. Ketika terpisah, dakwah kehilangan ruh, menjadi kering, bahkan bisa berubah menjadi beban moral bagi orang lain.

Rasulullah SAW adalah contoh paling sempurna tentang dakwah yang hidup. Beliau bukan hanya menyampaikan wahyu, tetapi menjadi Al-Qur’an yang berjalan. Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak Nabi, menjawab singkat namun dalam, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Orang-orang tidak hanya mendengar dakwah Nabi, mereka melihat dakwah itu hidup dalam keseharian beliau.

Inilah rahasia mengapa dakwah Nabi menyentuh hati, bahkan sebelum kata-kata terucap. Kejujuran, kesederhanaan, kasih sayang, dan keteladanan beliau adalah “bahasa dakwah” yang paling fasih. Maka wajar jika Al-Qur’an menegur kita: jangan sampai dakwah hanya berhenti di lidah, sementara hati dan perilaku berjalan ke arah lain.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Ayat ini juga mengandung peringatan keras: “Kabura maqtan ‘indallāh”—amat besar kebencian di sisi Allah. Ini bukan soal penilaian manusia, bukan tentang citra, bukan tentang komentar publik. Ini tentang pandangan Allah terhadap ketidaktulusan. Betapa berbahayanya jika seseorang sibuk membenahi panggung dakwah, tetapi lupa membenahi hati. Betapa ruginya jika kita tampak hebat di mata manusia, namun tercela di sisi Allah.

Namun Al-Qur’an tidak pernah menegur untuk membuat kita putus asa. Teguran ini justru membuka pintu harapan. Artinya, ruh dakwah bisa dihidupkan kembali. Selalu ada jalan pulang. Selalu ada kesempatan untuk menyelaraskan kembali niat, ucapan, dan perbuatan.

Rasulullah SAW bersabda,

 إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Hadis ini mengingatkan bahwa inti dakwah bukan sekadar transfer ilmu, tetapi transformasi akhlak. Dakwah yang kehilangan ruh biasanya terlalu fokus pada “apa yang disampaikan”, namun lupa pada “siapa yang menyampaikan dan bagaimana ia hidup”.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Dakwah yang hidup selalu dimulai dari kejujuran batin. Seorang dai tidak harus sempurna, tetapi harus jujur. Tidak harus suci, tetapi harus terus memperbaiki diri. Mengakui keterbatasan bukan kelemahan, justru itulah kekuatan dakwah. Ketika seorang dai berkata, “Saya pun sedang berjuang,” maka kata-katanya terasa manusiawi dan menguatkan, bukan menghakimi.

Agar dakwah tidak kehilangan ruhnya, ada beberapa kiat sederhana namun mendasar. Pertama, luruskan niat setiap hari. Niat bukan sekali di awal, tetapi perlu diperbarui terus-menerus. Tanyakan pada diri sendiri: apakah aku berdakwah untuk Allah, atau untuk pengakuan? Untuk hidayah, atau untuk popularitas? Niat yang jujur akan melahirkan dakwah yang menenangkan.

Kedua, dahulukan amal sebelum lisan. Tidak semua kebaikan harus diumumkan. Ada dakwah yang paling kuat justru tanpa mikrofon: kejujuran dalam bekerja, kesabaran dalam keluarga, akhlak mulia di tengah perbedaan. Inilah dakwah diam yang sering kali lebih membekas daripada seribu kata.

Ketiga, lembutkan hati sebelum meninggikan suara. Dakwah adalah pekerjaan hati ke hati. Jika hati dai keras, kata-katanya mudah melukai. Jika hati lembut, bahkan nasihat yang tegas pun terasa menyejukkan. Rasulullah SAW diingatkan Allah: “Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh darimu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Keempat, jadilah basyīran wa nadhīran—pembawa kabar gembira sekaligus pemberi peringatan. Dakwah bukan hanya tentang ancaman neraka, bukan pula hanya janji surga. Keduanya harus seimbang. Hati manusia hidup dengan harapan dan takut. Dakwah yang terlalu mengancam membuat orang menjauh, dakwah yang terlalu memanjakan membuat orang lalai.

Kelima, teruslah bertumbuh bersama Al-Qur’an. Tadabbur bukan hanya untuk disampaikan, tetapi untuk dihidupi. Biarkan ayat-ayat Al-Qur’an lebih dulu menegur diri kita, sebelum kita gunakan untuk menegur orang lain. Dakwah akan terasa hidup jika dai adalah orang pertama yang tersentuh oleh ayat yang ia sampaikan.

Pada akhirnya, QS. Ash-Shaff ayat 2–3 adalah cermin. Ia tidak memukul, tetapi memantulkan wajah kita apa adanya. Apakah dakwah kita masih bernyawa, atau hanya bergerak tanpa ruh? Kabar baiknya, selama kita masih mau bercermin dan memperbaiki diri, Allah Maha Penerima Taubat. Dakwah tidak harus sempurna, cukup jujur dan terus berusaha selaras.

Semoga Allah menghidupkan kembali ruh dakwah di hati kita. Menjadikan lisan kita jujur, perbuatan kita bersaksi, dan dakwah kita menjadi jalan hidayah—bukan hanya bagi orang lain, tetapi pertama-tama bagi diri kita sendiri.[]

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Hikmah
Tausiyah
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat