London, MINA – Departemen Bisnis dan Perdagangan Inggris (DBT) memberikan dua lisensi baru untuk ekspor peralatan militer ke Israel, termasuk lisensi senilai £8,7 juta (Rp 205,59 miliar) yang mencakup komponen dan teknologi untuk peralatan penargetan,” demikian diungkapkan oleh Campaign Against Arms Trade (CAAT).
Seperti dikutip Middle East Monitor, Jumat (8/5), lisensi ini diberikan meskipun pemerintah Inggris telah memberlakukan penangguhan ekspor semacam itu pada September 2024 karena kekhawatiran senjata tersebut akan digunakan dalam genosida Israel di Gaza.
Analisis CAAT terhadap statistik perizinan ekspor Inggris untuk kuartal keempat tahun 2025, yang dipublikasikan pada 30 April, menemukan bahwa Inggris menerbitkan lisensi ekspor senilai total £20,5 juta ($27,9 juta) untuk transfer ke Israel selama kuartal tersebut.
Yang paling signifikan adalah lisensi untuk komponen dan teknologi untuk peralatan penargetan, kategori ekspor yang sebelumnya secara resmi ditangguhkan pemerintah Inggris delapan bulan sebelumnya karena risiko penggunaan dalam genosida Israel di Gaza.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Ketika ditanya tentang lisensi tersebut, DBT menjawab bahwa lisensi itu mencakup barang untuk re-ekspor dari Israel, dan Pemerintah Israel bukanlah pengguna akhir.
CAAT mengatakan pembelaan ini didasarkan pada fiksi hukum. Kelompok pengawas itu memperingatkan risiko auto-diversi, proses di mana Israel dapat gagal memindahkan kembali peralatan militer ke tujuan yang dinyatakan dan malah menyerahkannya kepada pengguna akhir yang tidak sah, seperti pasukan penjajah Israel untuk digunakan di Gaza.
Tindakan semacam itu akan merupakan pelanggaran lisensi ekspor dan potensi pelanggaran pidana berdasarkan hukum Inggris.
Menteri Inggris sebelumnya mengatakan mereka akan mencabut lisensi jika ada bukti bahwa peralatan yang diekspor tidak mencapai tujuan yang dinyatakan, tetapi CAAT mencatat bahwa pemerintah tidak melakukan upaya verifikasi pada ekspor militernya setelah meninggalkan Inggris.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Kekhawatiran kelompok pengawas ini tidak bersifat teoretis. Pada bulan Maret, sebuah investigasi mengungkapkan bahwa anak perusahaan Elbit di Inggris telah mengirimkan puluhan komponen drone ke Israel selama periode 18 bulan.
Israel gagal memindahkan kembali peralatan tersebut ke Rumania sebagaimana yang diwajibkan oleh lisensi, dengan alasan force majeure akibat serangannya di Gaza.
Seorang peneliti CAAT mengatakan, lisensi ekspor baru ini menunjukkan seberapa besar kerelaan Inggris untuk terus memungkinkan serangan genosida Israel.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic