BULAN Ramadhan adalah tamu agung yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam di dunia. Kehadirannya membawa jutaan rahmat, ampunan, dan keberkahan yang tidak ditemukan di bulan lainnya. Di bulan yang mulia ini, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak hanya meningkatkan kuantitas ibadah, tetapi juga kualitas doa-doa yang beliau panjatkan. Doa menjadi senjata utama seorang mukmin, dan di Ramadhan, pintu langit terbuka lebar untuk menyambut setiap permohonan hamba-Nya.
Ada momen yang selalu dinanti-nantikan oleh Rasulullah dan para sahabat, yaitu saat pertama kali melihat hilal Ramadhan. Hilal bak utusan yang membawa kabar gembira akan kedatangan tamu mulia. Di saat itulah, bibir Baginda Rasulullah basah dengan doa penuh harap.
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
“Ya Allah, jadikanlah bulan ini muncul kepada kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. (Wahai bulan sabit) Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah.”
Baca Juga: Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan
Dalam doa yang singkat namun sarat makna ini, Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon empat hal utama: keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Beliau juga mengingatkan bahwa bulan dan seluruh alam semesta ini adalah makhluk Allah, yang Rabb-nya adalah sama, yaitu Allah Subhanau wata’ala.
Dalam hadis dijelaskan, dari Thalhah bin Ubaidillah RA, ia berkata: “Adalah Nabi Muhammad apabila melihat hilal (bulan sabit), beliau mengucapkan doa tersebut.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ad-Darimi. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan)
Doa Memasuki Gerbang Ramadhan
Setelah hilal terlihat dan Ramadhan resmi dimulai, Rasulullah kembali memanjatkan doa. Doa ini sangat unik karena mengandung tiga permohonan keselamatan yang berlapis. Ini menunjukkan betapa beliau sangat memperhatikan kualitas ibadahnya di bulan suci.
Baca Juga: Ramadhan di Balik Penjara Israel, Tidak Tahu Kapan Mulai Puasa dan Waktu Shalat
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّيْ
“Ya Allah, selamatkanlah aku (dari penyakit dan uzur) untuk mencapai (ibadah) bulan Ramadhan, selamatkanlah (hilal) Ramadhan untukku (agar aku dapat menjalani ibadah dengan baik), dan selamatkanlah aku (dari maksiat dan perbuatan sia-sia) di bulan Ramadhan.”
Pertama, kita memohon keselamatan untuk mencapai Ramadhan. Betapa banyak orang yang tidak sempat bertemu Ramadhan karena ajal menjemput. Kedua, kita memohon keselamatan dalam menjalan Ramadhan, agar ibadah kita tidak terhalang oleh penyakit atau uzur. Ketiga, kita memohon keselamatan dari diri kita sendiri, agar Ramadhan yang kita lalui tidak ternoda oleh maksiat dan kelalaian.
Diriwayatkan oleh Imam At-Thabarani dan Imam Ad-Dailami. Dalam kitab Ad-Du’a karya At-Thabarani, disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam membaca doa ini ketika telah memasuki bulan Ramadhan.
Baca Juga: Bulan Ramadhan, Perbaikan Diri dan Kepedulian Sosial
Doa Berbuka: Syukur atas Nikmat yang Tersembunyi
Saat adzan Maghrib berkumandang, saat itulah momen yang paling ditunggu oleh setiap insan yang berpuasa. Namun, Rasulullah mengajarkan bahwa berbuka bukan sekadar melepas dahaga dan lapar, melainkan juga momen untuk bersyukur dan berdoa. Doa yang beliau panjatkan singkat, namun sangat dalam filosofinya.
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.”
Baca Juga: Lima Keutamaan Memberi Makan Orang Berpuasa di Bulan Ramadhan
Doa ini mengandung tiga kabar gembira: pertama, hilangnya rasa haus yang menyengat. Kedua, tubuh kembali segar karena urat-urat yang tadinya kering kini basah kembali oleh air yang kita minum. Ketiga, dan ini yang terpenting, pahala puasa kita telah ditetapkan di sisi Allah, insya Allah. Ini adalah bentuk optimisme seorang mukmin bahwa Allah pasti menerima amal ibadah hamba-Nya.
Dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata: “Adalah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam apabila berbuka puasa, beliau mengucapkan doa tersebut.” (HR. Abu Dawud dan Daruquthni. Hadits hasan).
Doa Sapu Jagat: Permohonan yang Paling Sering Dipanjatkan
Memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah semakin giat beribadah. Beliau menghidupkan malam dengan shalat, dzikir, dan doa. Di antara sekian banyak doa, ada satu doa yang paling sering beliau baca, bahkan para ulama menyebutnya sebagai doa yang paling komprehensif karena mencakup kebaikan dunia dan akhirat.
Baca Juga: UEA Serahkan 30 Ton Kurma untuk Indonesia, Perkuat Solidaritas dan Persaudaraan
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”
Doa ini begitu indah karena mengajarkan keseimbangan. Seorang muslim tidak hanya memikirkan akhirat, tetapi juga memohon kebaikan di dunia. Kebaikan di dunia bisa berarti ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, keluarga yang sakinah, atau lingkungan yang mendukung ketaatan. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah ampunan, ridha Allah, dan surga-Nya.
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: “Doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam adalah *Rabbana atina fid-dunya hasanah…*” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Menyemai Dakwah di Aceh Tamiang: Menguatkan Iman, Meringankan Beban
Doa Malam Seribu Bulan: Memohon Ampunan di Lailatul Qadar
Di sepuluh malam terakhir, terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam itu adalah Lailatul Qadar, malam diturunkannya Al-Qur’an. Aisyah RA, istri tercinta Rasulullah, pernah bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca di dalamnya?” Maka Rasulullah pun mengajarkan doa yang sangat pendek namun agung maknanya.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafaz:
Baca Juga: Kisah Relawan UAR Menghidupkan Ramadhan di Aceh Tamiang
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf (lagi Maha Mulia), Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.”
Mengapa doa ini yang diajarkan? Karena pada malam Lailatul Qadar, pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Allah menunggu hamba-Nya memohon ampun. Dan kata “al-‘Afuww” (Maha Pemaaf) memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar pengampunan. Al-‘Afuww berarti Allah tidak hanya mengampuni dosa, tetapi juga menghapuskannya hingga seolah-olah tidak pernah terjadi.
Dari Aisyah RA, ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca di dalamnya?” Beliau bersabda: “Bacalah: *Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni*.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih)
Baca Juga: Di Ketinggian Tanpa Daya, Tawakkal Menemukan Maknanya
Doa Perpisahan dengan Ramadhan: Harapan untuk Bertemu Kembali
Ketika Ramadhan hampir berlalu, hati para sahabat dan Rasulullah dipenuhi perasaan haru. Mereka tidak tahu apakah tahun depan masih bisa bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini. Di saat-saat perpisahan itulah, Rasulullah mengajarkan doa yang mengharukan.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِي مَرْحُوْمًا وَلَا تَجْعَلْنِي مَحْرُوْمًا
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku (untuk berpuasa). Jika Engkau menjadikannya yang terakhir, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan Engkau jadikan aku sebagai orang yang terhalang (dari rahmat-Mu).”
Baca Juga: Kisah Haru dari Pedalaman Aceh: Perempuan “Kurang Waras” Ikut Tadarus Al-Qur’an
Doa ini mengajarkan kita untuk selalu berharap kepada Allah. Jika Ramadhan ini bukan yang terakhir, maka izinkan kami bertemu lagi tahun depan. Namun jika ternyata ini adalah Ramadhan terakhir, maka jadikanlah kami sebagai orang-orang yang dirahmati, bukan orang-orang yang diharamkan dari rahmat-Mu.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah RA, bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini di penghujung bulan Ramadhan. (HR. Ahmad dan Thabarani)
Keutamaan Berdoa di Bulan Ramadhan
Mengapa doa-doa ini begitu istimewa? Karena Ramadhan adalah bulan di mana Allah secara khusus menjamin pengabulan doa. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Baca Juga: Ramadhan Bulan Kekuatan Menjawab Provokasi, Meluruskan Narasi Perjuangan Rakyat Palestina
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Subhanallah, orang yang berpuasa termasuk dalam golongan istimewa ini. Maka, jangan sia-siakan kesempatan emas di bulan Ramadhan. Isilah setiap detiknya dengan doa dan harapan kepada Allah.
Ramadhan adalah lautan rahmat yang tidak bertepi. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah memberikan contoh-contoh doa yang indah untuk kita panjatkan di setiap fase bulan suci ini. Mulai dari doa menyambut kedatangan Ramadhan, doa saat menjalani ibadah puasa, doa di saat berbuka, doa di malam Lailatul Qadar, hingga doa perpisahan dengan Ramadhan.
Marilah kita amalkan doa-doa ini dengan penuh penghayatan dan keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik dalam hidup kita, dan semoga kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic