Ir. Niel Makinuddin: COVID-19 Sampaikan Pesan Bumi untuk Manusia

Samarinda, MINA – Terkait merebaknya wabah corona atau Covid 19, Ir. Niel Makinuddin MA, Pemerhati Sosial dan Lingkungan Hidup dari Kalimantan Timur (Kaltim), berpandangan bahwa pandemi corona ini bisa jadi cara bumi untuk meminta perhatian manusia sejenak saja. Seolah bumi sedang mengirim pesan kepada manusia.

“Tolong berhentilah sejenak eksploitasi dan berbuat kerusakan atasku,” kata Niel yang juga pegiat di Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN-TNC) itu.

Menurut Penasihat Pesantren Shuffah Hizbullah Al-Fatah Samarinda ini, hal itu diperlukan untuk memberikan waktu barang sejenak agar bumi bisa bernafas dan memulihkan diri dari aneka kerusakan yang telah diperbuat manusia. Manusia sering lupa, sebagai khalifah (manager) di muka bumi mereka mempunyai tanggung jawab untuk merawat dan menjaga bumi.

“Kita diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk makan dan minum serta mencari rezeki di muka bumi, namun “dilarang” berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan dan ketidakseimbangan,” katanya.

Ahmad Fauzi, koresponden MINA di Kaltim mewancarai Niel Makinuddin di sela-sela kesibukannya sering mendampingi Gubernur Kaltim untuk urusan lingkungan di Samarinda pada Selasa, 7 April 2020. Berikut petikannya:

 

MINA: Apa tanggapan Bapak tentang wabah corona saat ini?

Niel  Makinuddin: Sebagai insan beriman tentu meyakini bahwa setiap cobaan/bala tentu ada hikmah dan ibrah bagi manusia. Wabah Covid-19 ini menjadi ujian apakah kita semakin dekat dan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau sebaliknya, semakin jauh dan hobi maksiat. Dengan wabah ini kita bisa memetik ibrah, khususnya terkait akhlak manusia kepada bumi di mana kita hidup.

 

MINA:  Apa kaitan corona dengan lingkungan dan pelestarian alam?

Niel  Makinuddin:  Pandemi corona ini bisa jadi cara bumi untuk meminta perhatian kita (manusia) sejenak saja. Seolah bumi sedang kirim pesan ke manusia, “tolong berhentilah sejenak eksploitasi dan berbuat kerusakan atasku. Berikan waktu sejenak saja agar aku bisa bernafas dan memulihkan diri dari aneka kerusakan yang telah engkau perbuat.” Manusia sering lupa, sebagai khalifah (manager) di muka bumi mereka punya tanggung jawab untuk merawat dan menjaga bumi. Kita diperintahkan Allah SWT untuk makan dan minum serta mencari rezeki di muka bumi, namun “dilarang” berlebihan (sehingga menimbulkan kerusakan dan ketidak-seimbangan).

Coba kita tengok sejenak ke belakang. Pandemik global seperti ini sebetulnya sudah beberapa kali terjadi. Pada Tahun 1976 di Kongo menyebar virus ebola, yang menyebabkan korban meninggal dunia sekitar 14.000 jiwa. Sementara pada Tahun 2009 di Amerika dan Meksiko mewabah virus H1N1 yang menelan korban lebih besar sebanyak 123.000 jiwa. Namun, pandemik dahsyat pernah terjadi sekitar 100 tahun lalu, yakni pada Tahun 1918, dengan menyebarnya virus H1N1 atau lebih dikenal dengan Spanish flu (Flu Spanyol) yang menjangkiti 500 juta jiwa (27 % dari populasi dunia waktu itu) dan menelan korban meninggal sekitar 75 Juta jiwa.

MINA: Adakah kajian/jurnal yang menjelaskan relasi antara ancaman biologis seperti virus corona atau virus flu spanyol dulu dengan perubahan iklim?

Niel  Makinuddin: WHO sudah memprediksi ancaman perubahan iklim terhadap sebaran penyakit infeksi menular sejak 2003. Namun, kajiannya baru sebatas demam berdarah dan malaria, mereka sudah membuat permodelan bagaimana kenaikan suhu dan deforestrasi hutan akan menyebabkan kenaikan jumlah kasus demam berdarah dan malaria. Untuk kasus zoonosis (penyakit yang ditularkan melalui hewan), memang belum ada kajian ilmiahnya, pengaruh antara hewan-hewan carrier terhadap wabah yang terjadi sepuluh tahun terakhir. Karena untuk mengetahui hubungannya, perlu ada kajian lengkap antara ekosistem, kepadatan penduduk, mobilitas, kualitas lingkungan dan banyak faktor lainnya. Namun, ahli satwa liar sudah memperingatkan bahwa jangan merusak ekosistem asli satwa dan mengkonsumsinya Karena kita belum tahu apa saja yang mereka bawa. Misal seekor kelelawar diketahui menjadi inang setidaknya 60 virus (termasuk virus corona), dan mereka biasanya tinggal di gua-gua. Merusak habitat dan mengkonsumsi satwa liar, berarti sama saja membuka dan memperlemah benteng pertahanan manusia. Karena virus itu butuh inang untuk hidup, dan inang itu adalah satwa liar.

David Quammen, penulis buku Spillover: Animal Infections and the Next Pandemic, meringkas siklus dan penyebab munculnya banyak penyakit: virus, bakteri, kuman, kehilangan tempat tinggal akibat ekosistem hutan dan alam diinvasi manusia untuk keperluan hidup maupun keserakahan. “Kita memotong pohon, memburu binatang, merenggut mereka dari habitatnya, bahkan menjualnya ke pasar untuk dimakan membuat virus kehilangan rumah alamiahnya,” tulisnya dalam New York Times. “Mereka mencari inang baru dan itu adalah tubuh manusia.”

Kate Jones dkk yang menulis di jurnal Nature menemukan bahwa selama 1940-2004 ditemukan 335 jenis penyakit baru, 72% berasal dari satwa liar. Tepat pada periode itu, jumlah emisi Gas Rumah Kaca memecahkan rekor dalam 800.000 tahun dan jumlah CO2 di atmosfer tembus 400 ppm.

John Vidal, seorang redaktur lingkungan senior the Guardian, mendatangi Desa Maybout di Gabon, asal muasal virus ebola, yang membunuh 11.300 orang dalam dua tahun pada 1996. Ia penasaran, mengapa Mayobut yang berada di kawasan hutan tropis bisa menyimpan virus yang ganas itu. Vidal langsung menemukan jawabannya ketika ia berkano (sejenis ketinting/perahu) menyusuri hutan di sana yang telah rusak akibat pembalakan dan penambangan emas.

Dari penduduk desa ia mendapat cerita bahwa orang pertama yang meninggal akibat demam adalah seorang anak yang pergi ke hutan memburu simpanse dan memakan dagingnya. Orang-orang yang turut memakannya tak selamat setelah dua hari demam hebat. Daging simpanse itu kemudian dikenal menyimpan ebola yang menular antarmanusia.

MINA: Jika memang ada kaitannya, berarti ancaman biologis seperti itu masih akan menghantui umat manusia? Bagaimana antisipasi yang harus dilakukan oleh pemerintah dan umat manusia?

Niel  Makinuddin: Saya prediksi masih akan terjadi. Bumi kita kerusakannya sudah lumayan nyata dan dia akan memiliki cara (mekanisme) sendiri untuk melakukan pemulihan (recovery).  Dalam proses pemulihan dan upaya mencapai keseimbangan, akan ada berbagai kejadian yang harus dirasakan oleh manusia.

Sebenarnya sudah banyak peringatan yang diberikan oleh bumi. Kecepatan mencairnya es di Kutub Utara, cuaca panas dan kebakaran ekstrem di Australia akhir 2019, banjir berulang di Jakarta dan Samarinda. Bila bencana dan wabah terjadi bersamaan, manusia pasti akan kewalahan. Rumah sakit dan tenaga medis tidak akan mampu.

Saya mendengar kabar bahwa baru saja terjadi gempa di Kroasia, bayangkan bagaimana pemerintah dan penduduknya yang harus lockdown di rumah, terpaksa keluar karena ada gempa.

Indonesia dan Kaltim, harus menyadari bahwa kekayaan alam, berupa ekosistem hutan hujan tropis (torpical rainforest) dan eksosistem laut, yang tersisa ini adalah modal untuk mandiri, survival dan harus dijaga sekuat tenaga. Kita dianjurkan harus sering cuci tangan dan mandi setiap habis keluar, dan wabah ini terjadi di kala kita masih di musim penghujan sehingga air berlimpah. Ini adalah privilege (kenyaman/kenikmatan). Sumber air terjaga adalah buah keberadaan hutan. Coba bayangkan kalau hutan habis dan menjadi gurun? Kita akan sulit menemukan air. Lebih penting dari itu, di hutan juga tempat tinggal satwa liar yang menjadi inang-inang berbagai virus tersebut.

Sehingga intinya, pertama, kita harus sungguh-sungguh menjaga ekosistem hutan dan ekosistem laut kita. Ekosistem itu merupakan rumah alami aneka satwa liar baik yang berukuran besar maupun berukuran nano (semisal virus corona). Laut kita adalah masa depan kita. 2/3 kawasan NKRI adalah ekosistem laut dan pesisir yang bila dikelola dengan pendekatan sustainability akan menjadi lumbung pangan dan sumber protein jangka panjang.

Kedua, kita sudah harus meninggalkan cara-cara eksploitatif dalam memanfaatkan sumber daya alam. Sudah saatnya mendorong ekonomi hijau yang berorientasi kepada keberlanjutan (sustainable development) dan keadilan sosial. Jaga ekosistem di Kaltim karena di dalamnya ada ribuan goa yang menjadi rumah alami kelelawar dan aneka satwa. Manfaatkan secara bijak, misal dengan pengembangan Taman Bumi (geopark) untuk wisata berbasis alam. Cina, Vietnam dan tetangga dekat Malaysia sudah memulai dan hasilnya luar biasa. Alamnya terjaga namun pendapatan (devisa) terus masuk.

Ketiga, hijaukan kota-kota dan tambah rasio ruang terbuka hijau. Untuk ini, Pemerintah Daerah bisa buat kebijakan yang kewajiban menanam pohon tiap pengantin dan tiap rumah. Restorasi yang sudah rusak (lubang tambang). Bila lubang bekas tambang secara teknis ekonomis sulit ditutup, maka bisa dijadikan lokasi budidaya aneka ikan airtawar. Tentu, setelah dipastikan kualitas airnya memenuhi kaidah kesehatan.

Terakhir namun penting dan strategis, jadikan momentum wabah ini sebagai titik balik memperkuat fondasi kejayaan NKRI melalui upaya memperkuat ketahanan pangan dan aneka rempah nusantara. Pangan tentu tidak terbatas hanya beras, melainkan aneka umbi, jagung dan sagu patut diberikan ruang untuk berkembang. Jangan biarkan ada lahan kosong (tidak produktif) sejengkal pun. Isu ketahanan panagan (food security) adalah isu strategis sekarang maupun masa depan, selain isu ketahanan air dan energi.

 

MINA : Apakah langkah yang dilakukan pemerintah saat ini untuk meredam penularan virus corona sudah tepat?

Niel  Makinuddin: Dalam derajat tertentu, langkah mencegah dan memutus rantai penyebaran virus merupakan opsi terbaik yang harus diprioritas. Mencegah jauh lebih penting mengingat kapasitas rumah sakit dan tenaga medis kita jauh dari cukup. Ikhtiar ini akan menjadi sempurna manakala warga masyarakat dan dunia usaha turut berperan dalam mengurangi interaksi antarmanusia. Kurangi kumpul-kumpul dan jaga jarak (physical distancing). Saya lebih cenderung menggunakan istilah physical distancing (jaga jarak fisik), dibandingkan menggunakan istilah social distancing. Di era seperti sekarang ini kohesivitas (ikatan) sosial harus dikuatkan dan didekatkan agar menjadi semacam “teamwork” tangguh menghadapi wabah corona. Diperlukan jiwa sukarela untuk melakukan collective actions agar efektif memutus rantai dan kecepatan penyebaran virus ini.

Namun, saya akan terus mengingatkan bahwa akar masalahnya adalah kita harus berdamai dan memperbaiki hubungan dengan alam. Merubah cara pandang dan cara hidup manusia di muka bumi. Kita harus banyak memohon ampun kepada Sang Pemilik Alam. Tidak hanya untuk mencegah mewabahnya virus corona namun juga untuk mencegah dan meminimalkan bencana lainnya seperti kebakaran, banjir, longsor, abrasi, dsb. Bukankah Allah SWT sudah mengingatkan kita bahwa berbagai kerusakan dan bencana itu akibat perbuatan tangan manusia (bima kassabat aidinnas)?

Dalam konteks sosio-kultural Indonesia, masjid sudah seharusnya menjadi pusat “Gerakan” masyarakat yang efektif. Karena masjid umumnya berada di tengah atau dekat dengan pemukiman masyarakat.  Bayangkan saja, dari hampir 1 juta di Indonesia, 50% saja mereka menjalankan fungsi sosial, ekonomi budaya, maka persoalan apapun yang melanda bangsa ini, akan jauh lebih mudah dikelola dan dicarikan solusinya. Tentu, masjid di sini adalah masjid yang yang tidak hanya berfungsi sebagai lokasi ritual ibadah mahdhah saja, melainkan juga berfungsi secara social, kultural dan ekonomi bagi masyarakat di sekelilingnya. Beberapa masjid berikut ini telah dikelola sedemikian rupa sehingga menjalankan fungsi sosial dan ekonomi, di antaranya Masjid Jogokaryan, Masjid Namira Lamongan, Masjid Salman ITB, Masjid Sunda Kelapa Jakarta. Saya kira masih ada banyak lagi masjid yang sudah dikelola seperti ini dan perlu dipromosikan agar bisa menjadi model kelola kepentingan sosial ekonomi umat.

 

MINA: Kira-kira berapa lama lagi teror virus corona ini akan berlalu?

Niel  Makinuddin: Akan tergantung dari seberapa efektif ikhtiar kita dalam mencegah dan memutus rantai penyebaran virus ini. Saya tentu berharap secepatnya. Semakin disiplin dan kuat kerja sama (jamaah) dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan tokoh publik, maka semakin cepat badai ini akan berlalu.

Untuk lahirnya collective actions yang efektif, diperlukan kesadaran bahwa kita sedang menghadapi krisis (sense of crisis). Krisis ini hanya bisa kita cegah manakala kita semua, siapa pun kita dan apa pun posisi kita, turut mengambil peran aktif di dalamnya. Salah satunya, dengan mematuhi arahan pemerintah dan ulama, yakni meminimalkan interaksi fisik dan kumpul-kumpul. Sebab “musuh” yang menyerang kita sungguh tidak terlihat dan karenanya kita cenderung meremehkan. Selain itu, mari kita terus doakan dan dukung para tenaga medis yang sedang berjihad mempertaruhkan nyawanya, dengan stay at home (tinggal di rumah).

Ini adalah saatnya menunjukkan bahwa pandemi adalah waktunya untuk saling menguatkan, saling mendukung dan berlomba untuk menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang peduli sesamanya dan peduli kesehatan bumi. (W/RS5/AF/RI-1)

 

Nama: Ir. Niel Makinuddin MA.

Penasihat Ponpes Shuffah Hizbullah Al-Fatah Samarinda, Kaltim.

Aktif di Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN-TNC).

Pendidikan: S-1 Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda, Kaltim, lulus 1992.

S-2 di Terry Sanford School of Public Policy, Duke University, Durham – North Carolina, Amerika Serikat, lulus 1996.

 

Mi’raj News Agency (MINA)