Teheran, MINA – Pemerintah Iran mengklaim produksi senjata dan peralatan pertahanannya meningkat dua kali lipat dalam setahun terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, di tengah meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel.
Talaei-Nik mengatakan peningkatan produksi berlangsung setelah konflik selama 12 hari dengan Israel dan Amerika Serikat pada Juni 2025. Menurutnya, produksi sejumlah peralatan pertahanan strategis yang diprioritaskan untuk kebutuhan perang bahkan meningkat lebih dari tiga kali lipat selama konflik terbaru. Tasnim melaporkan, Ahad (23/8).
Pejabat Iran tersebut juga menyebut industri pertahanan negaranya kini memproduksi lebih dari 1.000 jenis sistem dan senjata canggih. Jumlah itu jauh meningkat dibandingkan sekitar 31 jenis peralatan dasar pada masa awal perkembangan industri pertahanan Iran.
Pernyataan itu muncul ketika Iran terus memperkuat kemampuan militernya di tengah ketegangan dengan Washington. Seorang penasihat senior Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebelumnya juga mengklaim produksi rudal balistik Iran telah melampaui tingkat penggunaannya, sementara kapasitas produksi drone disebut lebih besar dibandingkan tingkat pengerahannya.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Talaei-Nik juga mengungkapkan Iran sengaja mengurangi pameran dan pengungkapan senjata baru kepada publik untuk menjaga kerahasiaan kemampuan militernya. Langkah tersebut, menurutnya, dimaksudkan untuk mempertahankan unsur kejutan terhadap pihak yang dianggap sebagai lawan.
Klaim tersebut menjadi sinyal bahwa Teheran berupaya menunjukkan ketahanan industri pertahanannya meski menghadapi tekanan dan serangan militer.
Di sisi lain, angka produksi yang disampaikan merupakan klaim pemerintah Iran dan tidak disertai data independen yang dapat memverifikasi secara langsung besaran peningkatan tersebut. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic