Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran Tegaskan Kemitraan dengan China Tidak Perlu Izin Siapa Pun

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:35 WIB

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:35 WIB

28 Views ㅤ

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. (Press TV)

Teheran, MINA – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan bahwa kemitraan strategis dengan China tidak memerlukan izin siapa pun.

“Hubungan ini tidak memerlukan izin siapa pun,” tambah Qalibaf, yang juga menjabat sebagai utusan khusus Iran untuk urusan China.

Qalibaf mengatakan dalam sebuah posting Rabu (26/8) di akun X-nya bahwa Iran dan China akan terus memperkuat hubungan mereka berdasarkan program kemitraan 25 tahun yang mereka sepakati pada Maret 2021. Press TV melaporkan.

“Kemitraan strategis komprehensif Iran-China berakar pada saling menghormati, kerja sama saling menguntungkan, dan visi bersama untuk dunia yang multipolar,” katanya dalam tulisan tersebut.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa Beijing akan melakukan segala yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan China setelah pengumuman AS tentang penerapan sanksi ekonomi “D-Day” terhadap Iran.

“Kerja sama China dengan Iran mematuhi hukum internasional. China dengan tegas menentang sanksi yang tidak berdasar dalam hukum internasional atau mandat Dewan Keamanan PBB,” kata juru bicara tersebut.

Qalibaf telah menjabat sebagai negosiator utama Iran dalam serangkaian pembicaraan dengan AS dalam beberapa bulan terakhir yang bertujuan mengakhiri secara permanen agresi AS-Israel, dimulai pada akhir Februari dan berakhir dengan gencatan senjata pada pertengahan April, diikuti oleh kampanye blokade dan sanksi AS terhadap negara tersebut.

China telah menjadi mitra dagang terbesar Iran sejak AS menarik diri dari kesepakatan internasional tentang program nuklir Iran pada tahun 2018 dan memberlakukan sanksi besar-besaran terhadap negara tersebut.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Pertukaran ekonomi Beijing dengan Iran, termasuk impor minyak dan produk minyak bumi yang cukup besar, terus berkembang selama beberapa tahun terakhir meskipun tekanan sanksi AS terhadap mitra dagang Iran semakin meningkat. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

Rekomendasi untuk Anda