Casablanca, MINA — Sepak bola kerap melahirkan kisah-kisah yang terasa mustahil dipercaya. Tentang seorang pemain yang dianggap tak punya masa depan, namun justru tampil sebagai penentu sejarah. Kisah itulah yang kini melekat pada nama Ismael Saibari, sosok yang menjelma menjadi pahlawan kemenangan Maroko saat menyingkirkan Belanda di panggung Piala Dunia 2026.
Di tengah ketegangan adu penalti babak 32 besar yang mempertemukan Maroko melawan Belanda, Saibari berdiri di titik putih memikul beban jutaan rakyat negaranya. Dengan tenang, pemain berusia muda itu melepaskan tendangan penentu yang memastikan Singa Atlas melaju ke babak berikutnya sekaligus memulangkan Oranje lebih cepat dari perkiraan banyak orang.
Namun di balik momen heroik itu, tersimpan perjalanan hidup yang jauh lebih dramatis daripada pertandingan selama 120 menit di lapangan. Tak banyak yang tahu, jauh sebelum menjadi bintang sepak bola, Saibari bahkan sempat diragukan bisa berjalan normal.
Kelainan Tulang Kaki
Baca Juga: Megawati Hangestri Tampil Buruk, IBK Altos Tekuk Hyundai Hillstate 3-0
Ikram Srahna menuliskan kisah Ismael Saibari dalam laporan jurnalistiknya di laman moroccoworldnews.com edisi 30 Juni 2026. Saat masih balita, dokter mendiagnosis dirinya mengalami kelainan serius pada kedua kaki. Struktur tulangnya tumbuh tidak sempurna sehingga kedua telapak kakinya mengarah tajam ke dalam. Kondisi itu membuat dokter tidak berani memastikan apakah ia kelak bisa berjalan seperti anak-anak lain.
Selama setahun penuh, tubuh kecil Saibari harus bertahan dengan penyangga ortopedi berat yang dipasang di kedua kakinya. Alat itu dirancang untuk memaksa struktur tulang perlahan kembali ke posisi normal, sebuah proses panjang yang menyakitkan dan tanpa jaminan keberhasilan.
Di masa-masa sulit itu, keluarganya hanya bertumpu pada harapan dan keyakinan. Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kaki Saibari perlahan kembali normal. Namun rupanya, itu baru awal dari rangkaian ujian yang harus ia hadapi.
Memasuki usia remaja saat meniti karier di akademi sepak bola Eropa, Saibari kembali mendapat pukulan telak. Pada usia 14 tahun, ia dikeluarkan dari akademi karena dianggap kelebihan berat badan dan tidak memiliki kebugaran yang cukup untuk memenuhi standar sepak bola profesional.
Baca Juga: Pakhtakor vs Al-Nassr: 2-6, Tuan Rumah Dibantai
Bagi banyak pemain muda, penolakan semacam itu sering kali menjadi akhir dari mimpi. Tetapi bagi Saibari, justru itulah titik balik hidupnya.
Ia mulai mengubah pola makan, menjalani program latihan ketat, dan membentuk ulang fisiknya selama bertahun-tahun. Tubuh yang dulu dianggap kelemahan justru berubah menjadi kekuatan utamanya.
Dengan postur setinggi 182 sentimeter, kekuatan fisik dan daya jelajahnya kini menjadi senjata penting dalam permainan.
Kariernya kemudian berkembang pesat di Belanda. Hampir seluruh perjalanan profesionalnya ditempa di kompetisi Eredivisie bersama PSV Eindhoven. Musim lalu menjadi salah satu fase terbaik dalam kariernya ketika ia tampil gemilang dan meraih penghargaan Pemain Terbaik Eredivisie.
Baca Juga: Pakhtakor vs Al-Nassr: 1-3 pada Babak Pertama, Joao Felix Brace
Penampilan impresif itu membuat klub-klub elite Eropa mulai memburunya. Momentum terbaik kemudian datang di Piala Dunia.
Saibari langsung menunjukkan kualitasnya dengan mencetak gol saat Maroko menghadapi Brasil pada laga pembuka. Ia melanjutkan tren positif dengan mencetak gol pada dua pertandingan grup berikutnya dan mencatat sejarah sebagai pemain Maroko pertama yang mampu mencetak gol dalam tiga laga Piala Dunia secara beruntun.
Namun panggung terbesar datang saat menghadapi Belanda, negara yang selama ini menjadi tempat ia tumbuh sebagai pesepak bola profesional.
Laga berlangsung keras dan melelahkan. Bahkan Saibari sempat mengalami luka robek di wajah akibat benturan keras dalam pertandingan.
Baca Juga: Megawati Hangestri Tanding Selasa Besok, GS Caltex dan Pink Spider Menang di Laga Pertama
Saat laga berakhir imbang dan harus ditentukan melalui adu penalti, Saibari mengambil tanggung jawab terbesar. Ia sukses menjalankan tugasnya, Maroko menang. Belanda tersingkir.
Tetapi pemandangan paling emosional justru terjadi setelah itu. Sesaat setelah mencetak gol kemenangan, Saibari tidak merayakan bersama rekan-rekannya. Ia langsung berlari menuju tribun dan memeluk sang ibu yang menangis haru.
Tangisan sang ibu seolah menjadi simbol dari perjalanan panjang keluarga itu, dari seorang anak yang dulu bahkan diragukan bisa berjalan, hingga kini menjadi pahlawan bangsa di panggung sepak bola terbesar dunia.
Di tengah gemilang penampilannya, kabar besar lain datang dari Eropa. Bayern Munich dikabarkan telah mencapai kesepakatan transfer senilai 55 juta euro untuk memboyong Saibari dari PSV Eindhoven, yang akan menjadi transfer terbesar dalam sejarah klub Belanda tersebut.
Baca Juga: Liverpool vs Arsenal: The Gunners Menang Bersejarah di Anfield dan Kokoh di Puncak
Kisah Ismael Saibari pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang sepak bola. Ini adalah kisah tentang seorang anak yang sejak kecil menghadapi kenyataan bahwa mimpinya hampir mustahil terwujud, tetapi memilih terus melangkah. Tentang pengorbanan keluarga yang tak pernah berhenti percaya. Dan tentang bagaimana keyakinan, kerja keras, serta keteguhan hati kadang mampu mengalahkan segala keterbatasan.
Dunia mungkin melihat seorang penendang penalti. Tetapi bagi Maroko, Ismael Saibari adalah bukti bahwa keajaiban sering lahir dari perjuangan yang nyaris tak terlihat. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic