Beirut, MINA – Israel kembali menggempur wilayah pinggiran Beirut, Lebanon, Kamis (28/5), hanya beberapa jam menjelang perundingan gencatan senjata di Washington, Amerika Serikat.
Pemerintah Lebanon menuding serangan tersebut sebagai upaya Tel Aviv menggagalkan proses diplomasi dan memperkeruh situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Serangan udara menghantam kawasan selatan Beirut yang selama ini dikenal sebagai basis pendukung Hezbollah. Media Lebanon Al-Mayadeen melaporkan ledakan besar terdengar di sejumlah titik, memicu kepanikan warga sipil dan menyebabkan gelombang pengungsian baru.
Israel mengklaim serangan itu menargetkan fasilitas dan tokoh penting yang terkait dengan Hizbullah.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Pemerintah Lebanon mengecam keras aksi militer Israel tersebut karena dilakukan di tengah upaya internasional untuk meredakan konflik lintas perbatasan.
Beirut menilai serangan itu menunjukkan Israel tidak memiliki komitmen terhadap perdamaian dan justru sengaja meningkatkan eskalasi menjelang perundingan penting di Washington.
Perundingan yang dimediasi Amerika Serikat dijadwalkan membahas penghentian serangan di Lebanon selatan, penarikan pasukan dari wilayah perbatasan, serta upaya mencegah perang lebih luas di kawasan. Namun, serangan terbaru Israel dinilai memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pasukan penjaga perdamaian UNIFIL sebelumnya telah memperingatkan meningkatnya intensitas serangan Israel di Lebanon dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Data kemanusiaan menunjukkan ribuan warga Lebanon kembali mengungsi akibat eskalasi terbaru, sementara korban sipil terus bertambah, termasuk perempuan dan anak-anak.
Sejak konflik kembali memanas awal tahun ini, ketegangan antara Israel dan Hizbullah terus meningkat dan memicu kekhawatiran dunia internasional.
Serangan Israel ke Beirut menjelang negosiasi damai memperlihatkan strategi tekanan militer untuk memperkuat posisi politik Tel Aviv, meski langkah tersebut berisiko memicu perang regional yang lebih besar. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic