Teheran, MINA – Militer Israel dilaporkan menargetkan fasilitas kepresidenan sekaligus sejumlah sasaran strategis lainnya di Iran dalam serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2).
Serangan tersebut menjadi bagian dari operasi udara yang digelar Israel bersama dengan Amerika Serikat, memicu ledakan di wilayah ibu kota Teheran termasuk di dekat kawasan kantor pemerintahan dan kediaman pejabat tinggi Iran.
Menurut laporan otoritas Iran yang disiarkan media domestik, Presiden Masoud Pezeshkian dinyatakan dalam kondisi aman setelah ledakan terdengar di sekitar kompleks kepresidenan. Pihak Istana Kepresidenan menegaskan Pezeshkian tidak mengalami luka dan telah dipastikan berada jauh dari lokasi serangan.
Serangan ini merupakan bagian dari aksi militer bersama yang diumumkan Israel dan AS sebagai respons terhadap kekhawatiran kedua negara akan peningkatan kemampuan nuklir dan rudal balistik Iran.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Militer Israel menyebutkan bahwa operasi itu bertujuan “menghilangkan ancaman terhadap keamanan negara Israel”. Sebagai bagian dari langkah antisipatif, Israel menutup ruang udara dan memberlakukan status darurat nasional di seluruh negaranya.
Ledakan terdengar kuat di pusat kota Teheran, sementara pemerintah Iran langsung menutup sebagian besar wilayah udara dan layanan telekomunikasi untuk mencegah penyebaran informasi yang tidak terkontrol.
Warga setempat menggambarkan suasana panik dan kepanikan saat sirene darurat menyala serentak dan banyak bangunan mengalami kerusakan akibat hantaman bom.
Pekan ini, serangan yang semakin intens ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran untuk menyelesaikan sengketa program nuklir Iran melalui jalur diplomasi.
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Namun, kegagalan negosiasi dan perbedaan keras soal pengawasan program nuklir diyakini menjadi salah satu faktor yang mendorong eskalasi militer terbaru ini.
Ketegangan antara Iran dan Israel telah meningkat tajam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak konflik udara besar pada Juni 2025 yang melibatkan serangan terhadap fasilitas nuklir dan militer kedua negara, serta respon rudal yang menyebabkan kerusakan dan korban di kedua belah pihak.
Ketegangan itu dipicu oleh isu program nuklir Iran yang dianggap ancaman oleh Israel dan sekutunya, terutama Amerika Serikat, walaupun Iran menegaskan bahwa programnya bersifat damai.
Peristiwa Sabtu ini dianggap sebagai salah satu eskalasi paling signifikan dalam konflik yang sudah berlangsung lama tersebut dan berpotensi memperluas dampaknya pada stabilitas regional di Timur Tengah. []
Baca Juga: Arab Saudi Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan dengan AS di Tengah Serangan Houthi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic