Tel Aviv, MINA – Ratusan warga Israel berunjuk rasa di sejumlah kota, menuntut pembentukan pemerintahan gabungan partai Yahudi dan Arab. Aksi digelar sehari setelah pemilu parlemen Israel yang menghasilkan kebuntuan politik.
Menurut laporan harian Haaretz, Jumat (30/10), massa berkumpul di tiga lokasi, yakni Paris Square di Yerusalem, Unesco Square di Haifa, dan Taman Mesila di Tel Aviv. Mereka membawa spanduk bertuliskan dukungan terhadap pemerintahan Yahudi-Arab. Sebagian poster juga menyerukan kebebasan untuk semua warga.
Tuntutan itu muncul karena belum ada blok yang meraih ambang batas 61 dari 120 kursi Knesset. Berdasarkan penghitungan Komite Pusat Pemilihan Israel dengan 90,4 persen suara masuk hingga Kamis (29/10) sore WIB, blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meraih 52 kursi.
Sementara itu blok Gadi Eisenkot 48 kursi. Partai-partai Arab Israel meraih 20 kursi, masing-masing 12 untuk Joint List dan 8 untuk Ra’am.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
Dengan komposisi itu, partai Arab berpeluang menjadi penentu pembentukan pemerintahan. Pemimpin Joint List, Ahmad Tibi, menyatakan pihaknya mengulurkan tangan kepada “blok perubahan” untuk menggulingkan pemerintahan Netanyahu.
Blok tersebut mencakup Yashar pimpinan Eisenkot, Yesh Atid pimpinan Yair Lapid, Partai Demokrat pimpinan Yair Golan, Beyachad pimpinan Naftali Bennett, dan Yisrael Beiteinu pimpinan Avigdor Lieberman.
Tibi menyebut tingginya partisipasi pemilih Arab sebagai capaian bersejarah bagi Joint List. Ia juga mengatakan langkah pertama untuk menumbangkan pemerintahan Netanyahu adalah mencopot Ketua Knesset Amir Ohana.
Di sisi lain, Netanyahu sebelumnya menolak pemerintahan yang bergantung pada partai Arab. Hasil resmi dan proses konsultasi pembentukan pemerintahan oleh Presiden Isaac Herzog masih menunggu penghitungan final.
Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic