Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Isteri Shalehah, Pelita di Jalan Dakwah

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 38 menit yang lalu

38 menit yang lalu

3 Views

Ilustrasi: Keluarga sakinah (Ist)

DALAM setiap langkah dakwah, selalu ada sosok yang sinarnya tak terlihat di panggung, namun cahayanya menerangi langkah para pejuang.

Dialah isteri shalehah, pelita di jalan dakwah. Ia mungkin tak berdiri di mimbar, tak tampil di layar, tapi doanya menembus langit dan sabarnya mengokohkan perjuangan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Baca Juga: Utang Puasa Jangan Tunggu Lama-Lama, Nanti Terlanjur Ramadhan Lagi

Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (H.R. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma).

Hadits ini menegaskan bahwa kemuliaan seorang isteri tidak diukur dari kilau dunia, tapi dari kejernihan imannya. Ia bukan sekadar penghias rumah tangga, melainkan penopang perjuangan dakwah.

Lihatlah betapa Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha, pelita pertama dalam rumah Rasulullah ﷺ. Saat wahyu pertama turun dan Rasulullah ﷺ gemetar, Khadijah menenangkan dengan penuh cinta, “Tenanglah, demi Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakan engkau.”

Ia meneguhkan hati Nabi, mengorbankan harta dan dirinya demi tegaknya Islam.

Baca Juga: Bagi Muslimah, Perhatikan 5 Hal Ini Saat Merayakan Lebaran

Setelah Khadijah, cahaya itu diteruskan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, isteri yang cerdas, lembut, dan penuh semangat ilmu.

Dari rumahnya, dakwah Rasulullah ﷺ berlanjut dalam bentuk ilmu yang menyinari generasi setelahnya. Lebih dari dua ribu hadits diriwayatkan darinya.

‘Aisyah menjadi guru besar umat, mengajarkan Al-Quran, akhlak, dan hikmah. Dakwahnya tak di medan perang, tapi di medan ilmu yang melahirkan ribuan penerus dakwah.

Dan berikutnya, lihatlah Fathimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha, putri Rasulullah ﷺ yang lembut namun tegar. Ia mendampingi suaminya, Ali bin Abi Thalib, dalam kesederhanaan dan perjuangan.

Baca Juga: Perempuan Tadarus Al-Qur’an Pakai Speaker, Apakah Boleh?

Fathimah tahu suaminya pejuang, dan ia pun berjuang dengan caranya, dengan kesabaran, dengan air mata, dengan doa di malam yang panjang. Ia tak menuntut kemewahan, cukup baginya ridha Allah dan keberkahan perjuangan suaminya.

Tiga sosok agung itu, Khadijah, ‘Aisyah, dan Fathimah, adalah tiga cahaya yang abadi. Mereka menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya urusan lisan, tapi juga hati dan pengorbanan. Bahwa di balik setiap dakwah besar, selalu ada cinta besar yang menyalakan kekuatan dari balik tirai rumah.

Isteri shalehah memahami bahwa menikah dengan seorang pejuang dakwah bukan berarti hidup dalam kemudahan, tapi dalam makna. Ia siap menanggung rindu, menahan letih, dan tetap tersenyum dalam ujian. Ia menjadikan rumahnya mihrab dan keluarganya ladang amal.

Dakwah akan terus hidup karena ada isteri-isteri shalehah yang menjadi penjaga semangat, penyiram api jihad, dan pelita bagi hati yang lelah.

Baca Juga: Emak-Emak Mencicipi Masakan di Saat Puasa, Bolehkah?

Mereka bukan hanya dikenal di dunia, tapi juga dikenal di langit. Isteri-isteri kita, kaum akhwat, jikaouin kalian tidak dikenal di medan dakwah dan juang, tapi ketahuilah kalian dikenal di langit, karena kesetiaan dan dukungan kalian untuk suami dalam meniti jalan di jalan Allah.

Begituah, bagi kaum ummahat, setiap sujudnya adalah bagian dari perjuangan, dan setiap kesabarannya adalah bagian dari dakwah di jalan Allah. Aamiin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Awas Jangan Salah Beli! Kenali 6 Ciri Kurma Israel

Rekomendasi untuk Anda

Khadijah
Khadijah
Khadijah
Khadijah
Khadijah
Khadijah