Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendeta Betlehem Peringatkan Ancaman Israel terhadap Eksistensi Kristen di Palestina

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 18 detik yang lalu

18 detik yang lalu

0 Views

Ilustrasi: Salah satu gereja di Palestina (Foto: Palinfo)

Betlehem, MINA – Pendeta Betlehem, Munther Ishaq dari Gereja Lutheran Injili, memperingatkan bahwa Israel semakin menargetkan keberadaan umat Kristen di Palestina.

Pendeta itu menegaskan bahwa penderitaan umat Kristen tidak bisa dipisahkan dari realitas yang dialami oleh seluruh rakyat Palestina lainnya.

Dalam wawancaranya dengan Al-Araby Al-Jadeed, Senin (13/4) Pendeta Munther Ishaq mengungkapkan bahwa berbagai tindakan Israel, mulai dari larangan terbaru terhadap pendeta yang berdoa di Gereja Makam Suci, pembatasan dan pos pemeriksaan, pencegahan akses ke Masjid Al-Aqsa, hingga serangan berulang tanpa ada pertanggungjawaban. Itu semua membawa pesan yang jauh melampaui dimensi keamanan.

Menurutnya, tindakan-tindakan ini secara langsung menargetkan kebebasan beribadah, mengancam keberadaan umat Kristen, dan bertujuan untuk mengosongkan tanah Palestina dari penduduk aslinya.

Baca Juga: Universitas Kota di Khan Younis Hadirkan Kembali Harapan Pendidikan di Gaza

Umat Kristen dan Muslim Sama-Sama Menderita

Pendeta Ishaq menjelaskan bahwa umat Kristen Palestina, seperti seluruh warga Palestina lainnya, menderita akibat pos pemeriksaan, terorisme pemukim Israel, isolasi dari Yerusalem, serta pencegahan untuk beribadah di Gereja Makam Suci. Keadaan ini persis sama seperti umat Muslim yang dilarang beribadah di Masjid Al-Aqsa.

“Kami merasa menjadi sasaran langsung pendudukan Israel, terutama setelah penahanan empat ulama dalam perjalanan mereka menuju Gereja Makam Suci dan pencegahan mereka untuk beribadah,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa para pemukim Israel menyerang gereja-gereja di desa Taybeh, dekat Ramallah, seperti halnya yang mereka lakukan di semua desa di Tepi Barat.

Baca Juga: Faksi-Faksi Palestina Tegaskan Syarat Sebelum Bahas Masa Depan Gaza

Lebih lanjut, Pendeta Ishaq mengatakan, “Sebagai umat Kristen, kami merasa bahwa pendudukan Israel menargetkan kami untuk mengosongkan Yerusalem dan Tepi Barat dari umat Kristen. Ini demi melayani narasi Zionis yang menggambarkan konflik ini sebagai benturan antara kekuatan Barat yang beradab dan aliansi nilai-nilai tradisional Yahudi-Kristen melawan Islam dan Arab.”

Ia menegaskan, “Kehadiran kami sebagai umat Kristen Palestina merupakan penghalang bagi narasi ini dan bagi upaya Yahudisasi Tanah Suci.”

Pendeta Ishaq menekankan bahwa persoalan ini tidak boleh dibatasi hanya pada umat Kristen saja.

“Tidak ada solusi Kristen untuk konflik ini. Pendudukan harus berakhir dan semua orang menikmati hak yang sama, atau penderitaan dan pengungsian terus berlanjut,” katanya.

Baca Juga: Para Pemukim Ilegal Yahudi Pasang Gerbang Besi di Kota Tua Yerusalem

Ia mengingatkan bahwa Dewan Gereja Sedunia, Gereja Lutheran, dan Vatikan memiliki posisi yang jelas tentang perlunya mengakhiri pendudukan Israel. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ribuan Warga Argentina Turun ke Jalan Serukan Dukungan untuk Palestina

Rekomendasi untuk Anda