DI SEBUAH kota besar di Indonesia, seorang ibu menangis ketika menceritakan perubahan anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Awalnya anak itu ceria, dekat dengan keluarga, dan rajin beribadah. Namun setelah berbulan-bulan menghabiskan waktu di media sosial tanpa pengawasan, perilakunya mulai berubah.
Ia menjadi tertutup, mudah marah, dan perlahan menjauh dari nilai-nilai yang selama ini diajarkan keluarganya. Sang ibu berkata lirih, “Saya tidak kehilangan anak saya secara fisik, tetapi saya merasa kehilangan arah hidupnya.”
Kisah seperti ini bukanlah satu-satunya. Banyak orang tua hari ini menghadapi tantangan yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Jika dahulu ancaman terhadap anak datang dari lingkungan sekitar rumah, kini berbagai ide, nilai, dan gaya hidup dapat masuk langsung ke kamar mereka melalui layar ponsel. Dalam hitungan detik, anak-anak dapat mengakses ribuan informasi yang membentuk cara berpikir mereka tentang kehidupan, keluarga, moralitas, dan identitas diri.
Para ahli pendidikan sepakat bahwa masa anak-anak dan remaja merupakan periode pembentukan karakter yang sangat menentukan. Nilai yang tertanam pada masa ini akan memengaruhi keputusan mereka di masa depan. Karena itu, ketika anak kehilangan pegangan moral dan spiritual, dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga bertahun-tahun kemudian.
Baca Juga: Mengembalikan Jiwa yang Hilang dalam Pola Interaksi Keluarga Era Digital
Islam sejak awal telah memberikan perhatian besar terhadap pendidikan generasi. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya memberi makan, pakaian, dan pendidikan formal. Orang tua juga bertanggung jawab menjaga aqidah, akhlak, dan arah hidup anak-anaknya. Sebab kerugian terbesar bukanlah ketika anak gagal meraih jabatan atau kekayaan, melainkan ketika mereka kehilangan petunjuk menuju ridha Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, yang artinya, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI
Hadis ini mengingatkan bahwa orang tua bukan sekadar penonton perkembangan anak. Mereka adalah pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan dan pembinaan generasi yang berada di bawah asuhannya.
Di tengah derasnya arus informasi, banyak orang tua merasa cukup ketika anak memperoleh nilai bagus di sekolah. Padahal kecerdasan tanpa bimbingan iman bisa menjadi pedang bermata dua. Sejarah menunjukkan bahwa banyak orang cerdas yang tersesat karena kehilangan kompas moral. Sebaliknya, banyak tokoh besar lahir dari keluarga yang sederhana tetapi kaya nilai dan keteladanan.
Luqman Al-Hakim memberikan teladan yang sangat indah ketika mendidik anaknya. Dalam Al-Qur’an, nasihat pertama yang beliau sampaikan bukan tentang kekayaan, jabatan, atau prestasi dunia, melainkan tentang tauhid. Ini menunjukkan bahwa fondasi kehidupan seorang anak harus dimulai dari mengenal Allah, mencintai Allah, dan takut kepada Allah.
Hari ini, tantangan terbesar umat bukan hanya kemiskinan atau keterbelakangan teknologi. Tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga generasi agar tetap memiliki identitas, keyakinan, dan akhlak yang kuat. Sebab sebuah bangsa dapat bangkit kembali setelah mengalami krisis ekonomi, tetapi akan sangat sulit bangkit jika generasinya kehilangan arah moral dan spiritual.
Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban
Karena itu, jangan serahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Jangan biarkan media sosial menjadi guru utama mereka. Jadilah sahabat bagi anak-anak kita. Dengarkan cerita mereka. Kenali pergaulan mereka. Dampingi proses tumbuh kembang mereka dengan kasih sayang dan keteladanan.
Luangkan waktu untuk shalat berjamaah bersama, membaca Al-Qur’an, berdiskusi tentang kehidupan, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka hadapi. Anak yang dekat dengan orang tuanya akan lebih mudah menerima nasihat daripada anak yang hanya menerima perintah tanpa perhatian.
Mari kita renungkan sejenak. Rumah seperti apa yang ingin kita tinggalkan ketika usia kita berakhir? Harta yang melimpah belum tentu menjadi penyelamat. Jabatan yang tinggi juga tidak akan menemani kita di alam kubur. Namun anak yang saleh, yang mengenal Rabb-nya, yang menjaga agamanya, dan yang mendoakan orang tuanya, itulah investasi terbesar yang nilainya tidak pernah habis.
Jangan biarkan anak-anak kita kehilangan arah. Jangan menunggu sampai mereka jauh baru kita mencarinya. Mulailah hari ini. Peluk mereka. Bimbing mereka. Doakan mereka. Tanamkan iman dalam hati mereka. Sebab masa depan umat, masa depan bangsa, dan masa depan peradaban sedang tumbuh di rumah-rumah kita hari ini. []
Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic