Ramallah, MINA – Lebih dari 9.400 tahanan Palestina di penjara Israel harus merayakan Idul Adha dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Alih-alih sukacita, mereka justru mengalami peningkatan penyiksaan dan perampasan hak yang semakin parah.
Padahal, menurut Pusat Studi Tahanan Palestina yang dikutip Palinfo, Selasa (26/5), tiga tahun lalu suasana Idul Adha di penjara masih terasa berbeda. Para tahanan masih bisa mengenakan pakaian terbaik, menghias sel dengan kain perca dan kertas warna-warni, bahkan membuat kue sederhana untuk berbagi kebahagiaan. Itu adalah bentuk kecil dari semangat dan ketahanan mereka.
Namun sejak 7 Oktober 2023, segalanya berubah. Idul Adha kini menjadi momen penyiksaan. Pemerintah pendudukan Israel dinilai sengaja membuat para tahanan menderita, baik secara fisik maupun mental.
Selama hampir tiga tahun, mereka tidak mendapat kunjungan keluarga. Padahal, momen bertemu keluarga adalah “tali kehidupan” bagi para tahanan, terutama saat hari raya. Tak hanya itu, penutupan koperasi penjara juga membuat mereka kekurangan kebutuhan pokok.
Baca Juga: Eisenkot Tolak Gabung Pemerintahan Netanyahu
Penyiksaan terus berlangsung. Para tahanun diborgol, dibanting ke tanah berjam-jam, dipukuli, dan disemprot gas tanpa mendapat perawatan medis. Kasur dan selimut pun kerap disita dari pagi hingga larut malam.
Para tahanan perempuan juga mengalami nasib serupa. Mereka kerap dipukul, dihina, diserang gas air mata, bahkan dimasukkan ke kurungan soliter. Sel-sel penjara juga penuh sesak.
Tak hanya itu, penyakit kudis (scabies) menyebar luas di dalam penjara. Hampir seperempat dari total tahanan mengidap penyakit ini. Bahkan, banyak yang sudah berbulan-bulan menderita bisul, luka terbuka, dan infeksi tanpa pengobatan yang memadai.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Israel Lanjutkan Penangkapan Warga Gaza Saat Kembali dari Pengobatan Luar Negeri
















Mina Indonesia
Mina Arabic