Aceh Timur, MINA – Sepekan menjelang Ramadhan, sebanyak 675 kepala keluarga (KK) atau 2.368 warga masih bertahan di pengungsian Aceh Timur.
Para pengungsi tersebut tersebar di 14 titik pada lima kecamatan, yakni Simpang Ulim, Pante Bidari, Julok, Serbajadi, dan Simpang Jernih. Jumlah itu menurun signifikan dibandingkan sebelumnya yang mencapai 236.822 jiwa, tersebar di 24 kecamatan.
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, Kamis (12/2), mengatakan pemerintah daerah saat ini memfokuskan percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir.
“Huntara yang baru rampung dan dihuni untuk model insitu (dibangun di atas lahan korban banjir) sebanyak 439 unit dari total 2.591 unit. Sedangkan model komunal yang sudah dihuni 102 unit dari 821 unit,” ujar Al-Farlaky.
Baca Juga: Menko Yusril: Kasus Penyadapan Presiden Belum Mengarah ke Makar
Ia mendorong rekanan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar mempercepat proses pembangunan huntara tersebut, sehingga saat Ramadhan yang diperkirakan dimulai 18 Februari 2026 tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian.
Al-Farlaky juga menyampaikan bahwa dana tunggu hunian telah disalurkan kepada 373 KK dari total 432 KK yang terdata.
Selain pembangunan huntara, tim BNPB saat ini tengah melakukan verifikasi terhadap rumah-rumah warga yang terdampak banjir. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Aceh Timur yang diserahkan ke BNPB, tercatat 16.590 unit rumah mengalami rusak ringan, 5.484 unit rusak sedang, dan 3.844 unit rusak berat. Total rumah warga yang terdampak banjir pada November lalu mencapai 25.918 unit.
Ia menegaskan kepada para rekanan agar pembangunan huntara tidak hanya mengejar penyelesaian, tetapi juga memperhatikan kualitas bangunan demi kenyamanan korban banjir.
Baca Juga: Listyo Sigit Ditahan di Mabes Polri, Kasus Penyadapan HP Presiden Prabowo
“Bukan sekadar selesai, tetapi kualitas juga harus diperhatikan agar korban banjir merasa nyaman,” tegasnya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic