Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 16 September 2026 - 06:08 WIB

Rabu, 16 September 2026 - 06:08 WIB

71 Views ㅤ

Kompleks Masjid Al-Aqsa. (Mosoah)

ADA tempat yang luasnya tidak seberapa, tetapi sejarahnya melampaui batas zaman. Ada tanah yang mungkin tidak kita pijak setiap hari, tetapi namanya hidup di dalam doa.

Ada masjid yang mungkin belum pernah kita kunjungi, tetapi ketika namanya disebut, hati orang beriman terasa dekat. Itulah Masjid Al-Aqsa.

Masjid Al-Aqsa bukan sekadar bangunan di atas tanah Palestina. Al-Aqsa adalah bagian dari perjalanan panjang risalah para Nabi, utusan Allah. Al-Aqsa adalah tempat yang Allah sendiri sebut sebagai kawasan yang diberkahi.

Allah Ta’ala berfirman paling tidak pada lima ayat tentang keberkahan tanah tersebut:

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Pertama, Surat Al-Isra ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (QS. Al-Isra: 1).

Di sini, Allah tidak hanya menyebut Masjid Al-Aqsa. Allah juga menyebut “yang Kami berkahi sekelilingnya.” Ada keberkahan pada masjidnya. Ada keberkahan pada tanah di sekitarnya. Ada keberkahan dalam sejarahnya. Ada keberkahan dalam jejak para nabi yang pernah hidup dan beribadah di sana. Dan ada keberkahan yang terus mengalir sepanjang masa.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Kedua, Surat Al-A’raf ayat 137:

وَاَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ مَشَارِقَ الْاَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ

“Kami wariskan kepada kaum yang selalu ditindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi.” (QS. Al-A’raf: 137).

Ketiga, Surat Al-Anbiya ayat 71

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

“Kami menyelamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke tanah yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 71).

Kata-kata “lil ‘alamin”, maknanya untuk seluruh alam. Bukan hanya untuk satu keluarga. Bukan hanya untuk satu bangsa. Bukan hanya untuk satu zaman. Ada dimensi keberkahan yang luas bagi kehidupan.

Keempat, Surat Al-Anbiya ayat 81:

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ

“Dan Kami tundukkan kepada Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya, yang berembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya.” (QS. Al-Anbiya: 81).

Kelima, Surat Saba’ ayat 18:

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَا قُرًى ظَاهِرَةً

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

“Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi beberapa negeri yang berdekatan…” (QS. Saba: 18).

Para mufasir menjelaskan bahwa negeri yang diberkahi dalam sejumlah ayat tersebut berkaitan dengan kawasan Syam.

Di sinilah kita melihat satu benang merah yang sangat indah, yaitu tanah para nabi, tanah yang diberkahi, tanah yang terhubung dengan Al-Aqsa. Dan pusat dari semua ingatan itu adalah Masjidil Aqsa.

Al-Aqsa dalam Perjalanan Isra

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Kemudian sampailah kita kepada ayat yang paling masyhur tentang Al-Aqsha:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ 

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra: 1).

Subhanallah. Isra dimulai dari Masjidil Haram. Singgah di Masjidil Aqsa. Lalu dari Al-Aqsa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dinaikkan menuju langit, Sidratul Muntaha.

Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik

Ayat ini memberi Kesan bahwa Al-Aqsa menjadi sebuah persimpangan agung antara bumi dan langit, antara sejarah para nabi dan risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Di Al-Aqsa para nabi berkumpul. Di Al-Aqsa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi imam para nabi. Dan dari Al-Aqsa pula perjalanan Mi’raj dimulai.

Maka bagaimana mungkin seorang Muslim mengatakan, “Apa hubungannya Al-Aqsha dengan saya?”

Hubungannya adalah iman. Hubungannya adalah sejarah. Hubungannya adalah Al-Qur’an. Hubungannya adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan

Zaitun: Pohon yang Diberkahi

Lalu ada satu lagi tanda yang sangat menarik. Pohon Zaitun. Pohon yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Palestina.

Kebun-kebun zaitun menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Pohonnya dirawat, dipanen, dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dan Al-Qur’an menyebut zaitun dengan sebuah kata yang sangat indah:

Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi

مُبَارَكَةٍ “Yang diberkahi.”

Allah berfirman:

ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat…” (QS. An-Nur: 35).

Baca Juga: Doa Memohon Kekayaan yang Meningkatkan Takwa dan Memperluas Manfaat

Allah menggambarkan kaca itu dengan:

ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ

“Kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara.”

Sebagian ulama tafsir menjelaskan كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ dengan gambaran benda langit yang sangat bercahaya; di antaranya ada yang menafsirkannya sebagai planet Venus karena cahayanya yang terang.

Tetapi yang lebih penting untuk kita renungkan adalah rangkaian gambaran ayat itu, sebuah gambaran tentang cahaya yang begitu jernih. Menarik sekali bahwa Al-Qur’an mempertemukan kata “berkah” dengan zaitun.

Al-Aqsa dikelilingi keberkahan. Zaitun adalah pohon yang diberkahi. Di satu sisi kita melihat tanah yang diberkahi. Dan di sisi lain kita melihat pohon yang diberkahi.

Dan di atas semuanya ada:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah adalah cahaya langit dan bumi.”

Secara tadabbur, kita dapat merasakan sebuah keindahan hubungan: kawasan Syam dan Baitul Maqdis dikenal dalam wahyu sebagai tanah yang diberkahi. Sementara zaitun disebut sebagai pohon yang diberkahi dan menjadi bagian penting dari kehidupan tanah tersebut.

Di sinilah sastra Al-Qur’an terasa begitu dalam. Tanahnya diberkahi. Pohonnya diberkahi. Cahayanya menjadi perumpamaan. Dan sejarahnya dipenuhi jejak para nabi.

Bahkan Allah membuka Surah At-Tin dengan sumpah:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

“Demi buah tin dan buah zaitun.” (QS. At-Tin: 1)

Tin dan zaitun bukan sekadar nama buah, atau pohn atau bukit.

Keduanya membawa kita kepada sebuah ruang perenungan tentang tanah, manusia, sejarah dan risalah.

Ada ruang tadabbur yang indah, yaiyu At-Tiin dan Az-Zaitun mengingatkan kita kepada tanah para nabi.

Tanah yang pernah menjadi tempat perjuangan tauhid. Tanah yang menjadi saksi perjalanan Ibrahim ‘Alaihis Salam. Tanah yang menyimpan jejak Nabi Musa dan Isa ‘Alaihis Salam, diperintahkan menuju Kawasan itu.

Al-Aqsa dan Masa Depan yang Tidak Pernah Berhenti

Berabad-abad telah berlalu. Babylonia datang. Persia datang. Romawi datang. Berbagai kerajaan dan kekuasaan silih berganti.

Kemudian Islam datang membawa pembebasan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memasuki Kota Al-Quds. Berabad-abad kemudian Shalahuddin Al-Ayyubi merebut kembali Kota Al-Quds dari pasukan Salib.

Lalu datang lagi masa-masa sulit. Kekuasaan berganti. Peta berubah. Bangsa-bangsa datang dan pergi. Tetapi Al-Aqsa tetap berada di sana.

Seakan sejarah berkata kepada manusia: “Kalian boleh berganti. Aku tetap di sini.” “Kalian boleh menggambar ulang peta. Aku tetap di sini.” “Kalian boleh mengganti nama dan kekuasaan. Aku tetap menjadi Al-Aqsa.”

Di sinilah kita mulai memahami bahwa Al-Aqsa bukan hanya persoalan bangunan.

Baitul Maqdis berada di kawasan yang secara geografis sangat strategis, di persimpangan antara Asia, Afrika dan Eropa, sekaligus berada dalam kawasan Levant (Timur Tengah) yang sejak dahulu menjadi jalur pertemuan berbagai kekuatan.

Karena itu, sejarah Baitul Maqdis tidak pernah sepi dari perebutan pengaruh. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan: nilai Al-Aqsha tidak lahir dari geopolitik.

Geopolitik hanya membantu kita memahami mengapa kawasan itu strategis. Adapun kemuliaan Al-Aqsa berasal dari wahyu Allah.

Ini perbedaan yang sangat penting. Dunia mungkin melihat Palestina dari sisi peta. Allah mengajarkan kita melihatnya dari sisi keberkahan.

Dunia melihat tanah. Orang beriman melihat amanah. Dunia menghitung luas wilayah. Orang beriman mengingat jejak para nabi.

Keberkahan untuk Seluruh Alam

Selanjutnya kita simak firman Allah:

إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

“Ke tanah yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 71).

Ayat ini seharusnya membuat hati kita berhenti sejenak, pada kata “ntuk seluruh alam”. Keberkahan bukan alasan untuk membenci manusia. Keberkahan bukan alasan untuk menzalimi. Keberkahan justru mengajarkan manusia tentang kehidupan, keadilan dan kasih sayang.

Sebab para nabi tidak datang untuk membuat bumi semakin rusak. Mereka datang untuk mengajak manusia kembali kepada Allah.

Maka kecintaan kepada Al-Aqsa harus melahirkan iman yang lebih baik, akhlak yang lebih baik, persaudaraan yang lebih kuat dan kepedulian kemanusiaan yang lebih luas.

Jangan mengenal Palestina hanya dari asap pertempuran. Jangan mengenal Gaza hanya dari reruntuhan. Jangan mengenal Al-Aqsa hanya dari serangan penjajahan.

Di sana ada ibu yang memasak. Ada ayah yang bekerja. Ada anak-anak yang belajar. Ada petani yang menjaga pohon zaitun. Ada keluarga yang berkumpul saat panen. Ada orang tua yang mewariskan cerita kepada cucunya.

Ada seorang anak yang mungkin belum pernah meninggalkan kotanya, tetapi sudah hafal nama Al-Aqsa sejak kecil. Di sana ada kehidupan. Dan kehidupan itu sendiri adalah bentuk keteguhan (Sumud).

Apa yang Harus Kita Wariskan?

Pohon zaitun mengajarkan sesuatu kepada kita. Ia tidak tergesa-gesa. Ia tumbuh perlahan. Akarnya menghunjam. Batangnya bertahan. Buahnya datang pada waktunya. Dan manfaatnya dinikmati bukan hanya oleh satu generasi.

Begitulah seharusnya kita membangun kecintaan kepada Al-Aqsa. Bukan hanya dengan emosi sesaat. Tetapi dengan ilmu yang diwariskan. Bukan hanya dengan slogan. Tetapi dengan Pendidikan (tarbiyah, daurah dan dakwah).

Bukan hanya dengan kemarahan. Tetapi dengan hikmah dan perjuangan yang bermartabat. Bukan hanya dengan mengenang sejarah. Tetapi dengan menyiapkan generasi yang memahami sejarah.

Karena kalau kita tidak mengajarkan Al-Aqsa kepada anak-anak kita, siapa yang akan mengenalkannya kepada mereka? Kalau kita tidak menceritakan sejarah para nabi, dari mana mereka akan belajar?

Kalau kita tidak menanamkan kecintaan kepada tempat-tempat yang diberkahi Allah, apa yang akan memenuhi hati generasi mendatang?

Al-Aqsa adalah Amanah

Mungkin kaki kita belum pernah menginjak halaman Al-Aqsa. Mungkin mata kita belum pernah menyaksikan Kubah Shakhrah dari dekat. Mungkin tangan kita belum pernah menyentuh batu-batu tua Baitul Maqdis.

Tetapi kita dapat mengirimkan doa. Kita dapat belajar. Kita dapat mengajarkan. Kita dapat menulis. Kita dapat berbicara. Kita dapat membantu kemanusiaan. Dan yang paling penting: kita dapat menjaga agar Al-Aqsa tetap hidup di dalam hati umat.

Sebab sebuah tempat bisa jauh dari mata, tetapi jangan sampai jauh dari hati. Sebuah kota bisa berada ribuan kilometer dari kaki kita, tetapi jangan sampai terhapus dari doa kita.

Cahaya Itu Jangan Sampai Padam

Allah adalah cahaya langit dan bumi. Dan Allah memberikan perumpamaan cahaya itu dengan pelita yang dinyalakan dari minyak pohon zaitun yang diberkahi. Maka mungkin ada pelajaran besar untuk kita:

Jangan hanya mencari cahaya. Jadilah pembawa cahaya.  Bukan cahaya yang membakar. Tetapi cahaya yang menerangi. Bukan cahaya yang menyilaukan. Tetapi cahaya yang menuntun. Bukan suara yang menimbulkan kebencian. Tetapi kebenaran yang menumbuhkan kesadaran.

Begitulah seharusnya kecintaan kita kepada Al-Aqsa. Menjadikan kita lebih dekat kepada Allah. Lebih cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Lebih mencintai ilmu. Lebih peduli kepada manusia. Lebih kuat dalam persaudaraan. Dan lebih sabar dalam memperjuangkan kebaikan. Sepanjang Masa

Al-Aqsa telah melihat begitu banyak generasi. Nabi-nabi telah datang dan pergi. Kerajaan telah bangkit dan runtuh. Para penguasa telah berganti. Pasukan telah datang. Pasukan telah pergi. Tetapi tanah itu masih ada. Pohon zaitun masih tumbuh. Doa masih dipanjatkan.

Anak-anak masih mengenal nama Al-Aqsha. Dan umat masih berharap. Maka jangan pernah mengira bahwa sejarah telah selesai.

Sebab selama masih ada hati yang mencintai Al-Aqsa, selama masih ada lisan yang mendoakannya, selama masih ada generasi yang mempelajarinya, selama masih ada manusia yang memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Cahaya itu belum padam.

Karenanya, Al-Aqsa bukan hanya cerita masa lalu. Al-Aqsa bukan sekadar bangunan tua. Al-Aqsa bukan sekadar nama di peta. Al-Aqsa adalah amanah. Amanah yang melewati generasi. Amanah yang menghubungkan para nabi. Amanah yang mengikat hati umat. Amanah yang mengajarkan kita tentang keberkahan.

Dan pada akhirnya, Al-Aqsa mengajarkan satu hal yang paling sederhana: Tanah yang diberkahi harus melahirkan manusia yang membawa keberkahan.

Semoga Allah menjaga Masjid Al-Aqsa. Semoga Allah melindungi rakyat Palestina. Semoga Allah menguatkan orang-orang yang sabar. Semoga Allah menjaga generasi Palestina agar tetap mencintai tanah dan masjidnya. Dan semoga Allah menjaga hati kita agar tidak pernah menjadi asing terhadap Al-Aqsa.

Sebab mungkin suatu hari kaki kita akan sampai ke sana. Tetapi sebelum kaki sampai, biarlah hati kita lebih dahulu sampai.

Al-Aqsa tetap di sana. Keberkahannya tetap mengalir.
Cahayanya tetap menyala. Dan amanahnya tetap menunggu kita. Sepanjang masa.

Allahu Akbar! Al-Aqsa Haqquna!

Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda