Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Al-Aqsa, Benang Merah Perjuangan Para Nabi dan Janji Kemenangan Akhir Zaman

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 5 Agustus 2026 - 11:24 WIB

Rabu, 5 Agustus 2026 - 11:24 WIB

77 Views ㅤ

Kompleks Masjid Al-Aqsa. (Mosoah)

ADA satu tempat di muka bumi yang menjadi poros sejarah kenabian, saksi bisu perjuangan para utusan Allah, dan sekaligus menjadi pusat harapan umat Islam hingga akhir zaman. Tempat itu adalah Masjidil Aqsa, tanah yang diberkahi, kiblat pertama umat Islam, dan tempat singgah peristiwa agung Isra Mi’raj.

Tidak ada tempat lain yang sedemikian erat terhubung dengan perjalanan dakwah para nabi dari generasi ke generasi. Al-Aqsa bukan sekadar bangunan suci. Ia adalah benang merah yang menghubungkan Nabi Adam, Ibrahim, Sulaiman, Zakaria, hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan akan terus menjadi pusat perhatian hingga hari kebangkitan kelak.

Nabi Adam Peletak Pondasi Pertama

Perjalanan suci Al-Aqsa dimulai dari Nabi Adam ‘Alaihis Salam, manusia pertama sekaligus nabi pertama. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Dzar al-Ghifari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

“Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun di muka bumi?’ Beliau menjawab: ‘Masjidil Haram.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab: ‘Masjidil Aqsa.’ Aku bertanya: ‘Berapa jarak waktu antara keduanya?’ Beliau menjawab: ‘Empat puluh tahun.'” (HR. Muslim).

Hadits ini menjadi dasar keyakinan bahwa Masjidil Aqsa adalah masjid tertua kedua di dunia setelah Ka’bah. Nabi Adam ‘Alaihis Salam-lah yang pertama kali meletakkan fondasinya atas perintah Allah.

Sebagian ulama bahkan menyebut bahwa Nabi Adam ‘Alaihis Salam membangun Al-Aqsa setelah mendapatkan petunjuk dari Malaikat Jibril tentang cara dan ukuran pembangunannya. Beliau kemudian beribadah di sana, menjadikannya sebagai tempat suci yang disucikan sejak awal penciptaan manusia .

Dari Nabi Adam ‘Alaihis Salam, garis kesucian Al-Aqsa terus mengalir ke generasi-generasi berikutnya.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Nabi Ibrahim Meninggikan Bangunannya

Berabad-abad kemudian, Allah mengutus Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, kekasih Allah, bapak para nabi. Beliau datang ke negeri yang diberkahi, Palestina, dan bersama keluarganya menetap di kota Al-Khalil (Hebron).

Allah berfirman dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 71:

وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

“Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke negeri yang Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 71).

Di sana, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam berperan dalam  memakmurkan dan meninggikan kembali Masjidil Aqsa sekitar tahun 2000 SM.

Inilah pengakuan Ilahi bahwa tanah Palestina, tempat Al-Aqsa berdiri, adalah negeri yang diberkahi untuk seluruh alam.

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dan anak keturunannya, Nabi Ishaq ‘Alaihis Salam dan Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam, terus memakmurkan dan menjaga kesucian Masjid Al-Aqsa. Makam mereka berada di Hebron, di kompleks Masjid Al-Ibrahimi yang menjadi bagian dari kompleks kesucian tanah Palestina.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Nabi Sulaiman Menyempurnakan Kemegahannya

Jika Nabi Adam ‘Alaihis Salam meletakkan pondasi dan Nabi Ibrahim ‘Alahis Salam meninggikan bangunannya, maka Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam adalah sosok yang menyempurnakan kemegahan Masjidil Aqsa. Beliau membangunnya kembali dengan arsitektur yang lebih indah sekitar tahun 1000 SM.

Sulaiman adalah nabi yang dianugerahi Allah kekuasaan luar biasa, atas jin, manusia, dan angin. Namun kemegahan yang ia bangun di Al-Aqsa bukanlah untuk keangkuhan, melainkan untuk kemuliaan ibadah kepada Allah.

Namun, sebagaimana takdir Ilahi, kemegahan itu runtuh ketika bangsa Babilonia menyerbu dan menghancurkannya pada tahun 586 SM . Namun Allah selalu memiliki rencana-Nya sendiri.

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Nabi Zakaria dan Yahya Memakmurkannya dengan Ibadah

Di antara para nabi yang memakmurkan Masjidil Aqsa dengan ibadah dan pengajaran adalah Nabi Zakaria ‘Alaihis Salam. Beliau adalah seorang imam di Masjid Al-Aqsa, yang menghabiskan waktunya untuk beribadah dan mendidik generasi di lingkungan masjid yang suci ini.

Di tempat inilah Nabi Zakaria ‘Alaihis Salam mendapatkan kabar gembira tentang kelahiran putranya, Nabi Yahya ‘Alaihis Salam, seorang nabi yang juga menjadi saksi kebenaran dan akan mendukung kenabian Isa ‘Alaihis Salam.

Masjidil Aqsa menjadi saksi bisu dari doa-doa tulus Nabi Zakaria ‘Alaihis Salam di mihrabnya, yang kemudian diabadikan Allah dalam Al-Qur’an:

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.'” (QS. Ali ‘Imran [3]: 38).

Nabi Muhammad Isra dan Singgah di Al-Aqsha

Puncak dari penghormatan Ilahi kepada Masjidil Aqsa adalah ketika Allah memperjalankan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam peristiwa Isra, lalu dinaikkan ke langit dalam Mi’raj. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam firman-Nya:

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ [17]: 1).

Di Al-Aqsa, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi imam bagi seluruh nabi yang pernah berdakwah di muka bumi, termasuk Nabi Adam, Ibrahim, Musa, Isa, dan semua utusan Allah. Ini adalah simbol yang sangat kuat bahwa Al-Aqsa adalah titik pertemuan seluruh risalah kenabian, dari awal hingga akhir.

Al-Aqsha Hingga Akhir Zaman

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Perjalanan Al-Aqsa tidak berhenti pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Al-Aqsa terus menjadi pusat harapan dan perjuangan hingga akhir zaman. Dan kabar gembira yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya Adalah, Al-Aqsa akan kembali ke pangkuan umat Islam dengan penuh kemenangan.

Kemenangan ini telah dijanjikan Allah. Namun kita juga diajarkan oleh Sejarah bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi tidak menunggu kedatangan Imam Mahdi atau turunnya Nabi Isa untuk membebaskan Al-Quds. Ia bergerak Bersama pasukannya, mengorbankan jiwa dan hartanya, dan Allah memberikan kemenangan kepadanya.

Ini adalah pelajaran penting bahwa kita harus terus berjuang di jalan Allah untuk pembebasan Al-Aqsa, dan Allah akan memberikan pertolongan-Nya pada waktu yang telah ditentukan.

Padang Mahsyar Dimulai dari Tanah Suci

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Dalam ajaran Islam, Padang Mahsyar adalah tempat berkumpulnya seluruh manusia dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman untuk menjalani hisab (perhitungan amal). Tempat ini berpusat di bumi yang sama, tanah yang suci, yang juga merupakan tempat Al-Aqsa berdiri.

Para ulama menyebutkan bahwa Padang Mahsyar akan dimulai dari tanah Baitul Maqdis, tempat semua manusia dibangkitkan dan dikumpulkan. Ini menunjukkan betapa sentralnya posisi Palestina dalam rencana besar Allah untuk seluruh umat manusia . Dari sanalah semuanya dimulai, dan di sanalah semuanya akan berakhir.

Begitulah, dari Nabi Adam ‘Alaihis Salam yang meletakkan pondasi pertama, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang meninggikan bangunannya, Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam yang menyempurnakan kemegahannya, Nabi Zakaria ‘Alaihis Salam yang memakmurkannya dengan ibadah, hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang memimpin seluruh nabi di dalamnya, Al-Aqsa adalah benang merah yang menyambungkan seluruh sejarah kenabian.

Al-Aqsa adalah simbol kehormatan umat Islam yang tak pernah pudar. Al-Aqsa adalah pusat perjuangan dari generasi ke generasi. Dan Al-Aqsa adalah saksi bahwa janji Allah pasti datang, kemenangan akan tiba, Al-Aqsa akan merdeka, dan umat Islam akan kembali memimpin dunia dari tanah yang diberkahi ini.

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Maka, jangan pernah ada istilah menyerah. Jangan pernah berhenti berdoa dan berjuang. Karena Al-Aqsa bukan hanya milik masa lalu, tapi Al-Aqsa adalah milik masa depan umat Islam yang gemilang. Allahu Akbar! Al-Aqsa Haqquna!!

Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional, Redaktur Senior MINA News.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda