Jurnalis Gaza, Korbankan Jiwa Raga Demi Sampaikan Kebenaran

wawancara dengan Bilaal Jaadallah, Gaza city. (Foto:Mirajnews.com)
Wawancara ekslusif dengan Bilaal Jaadallah, Gaza City. (Foto: Mirajnews.com)

Gaza, 20 Rabi’ul Awwal 1437/31  Desember 2015 (MINA) – Ketika Berbicara tentang Jalur Gaza, berarti juga berbicara tentang berbagai pelanggaran hak-hak kemanusiaan oleh Israel atas warga Palestina, khususnya di Jalur Gaza.

Tidak hanya dari kalangan sipil, para awak media, jurnalis dan wartawan yang selama ini memperjuangkan kebenaran dan realita di lapangan juga kerap menjadi sasaran kebrutalan aparat Israel.

Kebebasan berpendapat menjadi harga mahal bagi para pelaku media di Gaza. Tidak hanya sekedar profesi, jiwa dan raga turut dikorbankan demi menyampaikan cerita sesungguhnya yang terjadi di lapangan.

Tim Kantor Berita Islam Miraj (MINA) di Gaza mendapat kehormatan untuk bertemu langsung dan mewawancarai seorang wartawan senior Gaza , Bilal Jaadallah, sosok yang berhasil mendirikan sebuah “Rumah Media Palestina”  (Press House – Palestine) tempat bernaungnya para awak media Palestina di Gaza dan menyatukan visi misi mereka.

Berikut hasil wawancara tim MINA Gaza dengan sang jurnalis mujahid, Rabu (30/12) di kantor beliau di markas “Rumah Media Palestina”:

Perkenalkan diri anda dan jelaskan sedikit tentang rumah media palestina serta tujuan didirikannya!

Nama saya, Bilal Jaadallaah, pendiri Rumah Media Palestina. Rumah Media berdiri pada akhir tahun 2012 atau awal  tahun 2013 atas ide dari para elit media, penulis dan sastrawan Palestina di Gaza.

Tujuannya mengokohkan semangat kebebasan berfikir dan perpendapat, khususnya di wilayah Palestina serta mendukung eksistensi para media Palestina yang bersifat independen.

Apa peran media dalam isu Palestina-Israel?

Media adalah cerminan realitas dan pembawa pesan nyata berbagai penderitaan warga palestina  kepada dunia khususnya, bahkan penderitaan para awak media sendiri terhadap berbagai aksi represif militer zionis Israel.

Militer zionis tidak pernah membedakan targetnya, baik itu sipil maupun awak media. pada tahun 2014 silam, sebanyak 17 wartawan Palestina gugur dalam berbagai aksi penyerangan yang dilakukan dengan sengaja oleh militer zionis Israel.

bahkan tahun 2015 ini terhitung tahun yang paling banyak terjadinya aksi kekerasan terhadap awak media Palestina. Terutama di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, tepatnya sejak awal bulan Oktober, saat meletusnya Intifadhah Al-Quds. Maka dari itu, para pelaku media Palestina memliki tugas yang sangat mulia dalam menyampaikan kebenaran dan realitas yang terjadi dengan mengorbankan jiwa serta raga mereka.

Sejauh mana dampak blokade terhadap pergerakan para awak media Palestina?

Beberapa hari yang lalu, pada peringatan hak asasi manusia sedunia yang jatuh pada 10 Desember, kami mengadakan aksi solidaritas terhadap para wartawan Palestina yang gugur dan melakukan aksi demonstrasi untuk menekan zionis Israel agar membiarkan kami melakukan kebebasan bersuara.

Kami para wartawan Palestina tidak bisa bergerak sama sekali, mereka yang di Tepi Barat tidak diperbolehkan masuk ke Gaza, begitu juga sebaliknya.

Bahkan para wartawan Palestina di Gaza tidak diperbolehkan memiliki peralatan keselamatan seperti rompi anti-peluru, karena zionis Israel dengan blokadenya melarang masuknya barang-barang tersebut ke dalam wilayah Jalur Gaza.

Sementara itu, para pelaku media Palestina di Gaza terus menerus mengalami berbagai aksi kekerasan dari pihak zionis Israel secara berkesinambungan.

Bagaimana Rumah Media Palestina bisa mempertahankan eksistensinya ditengah kondisi sulit yang melanda Jalur Gaza?

Kami adalah organisasi non-profit dan non-pemerintah, keberadaan kami bukan semat- mata mencari keuntungan materi. Kami, Rumah Media Palestina mendapatkan dukungan sponsor dari pemerintah Swiss dengan agenda yang jelas, yaitu mengokohkan prinsip kebebasan berpendapat para media, yang salah satu caranya adalah meningkatkan kemampuan para wartawan Palestina melalui berbagai program pelatihan.

Siapa saja yang bernaung di bawah payung Rumah Media Palestina ini?

Rumah Media Palestina adalah wadah perkumpulan para jurnalis dan wartawan dari berbagai latar belakang yang sifatnya independen dengan dasar profesionalitas dan integritas.

Fasilitas apa saja yang ditawarkan oleh Rumah Media Palestina ini?

Kami memiliki bebagai fasilitas, di antaranya tempat dan ruangan yang didesain khusus untuk pertemuan dan perkumpulan para awak media Palestina, baik itu junior maupun senior. Sehingga dengan demikian, kami berusaha mengadakan aksi pertukaran kemampuan antara yang muda dan senior, para mahasiswa jurnalis, para profesional, dan lain lain.

Kami menyediakan untuk mereka tempat secara gratis, fasilitas listrik dan internet gratis, bahkan bagi para jurnalis yang belum memiliki kantor, kami persilahkan berkantor di tempat kami.

Kami juga kerap mempertemukan media asing dan lokal, hingga mereka bisa saling bertukar pengalaman baik dari luar ke dalam maupun sebaliknya. Selain itu juga, tempat ini menjadi ajang ta’aruf (berkenalan) di mana mereka bisa saling ngobrol dan bertatap muka setiap harinya hingga ke tingkat mereka bisa bekerja sama saat meliput di lapangan.

Dan menurut kami, kegiatan seperti ini sangat positif untuk mereka di tengah-tengah penderitaan dan aksi kekerasan yang mereka alami tiap harinya. Bisa dikatakan, hal ini adalah hiburan tersendiri bagi mereka, sekaligus menambah kemampuan mereka di bidangnya.

kami juga memiliki berbagai jenis program pelatihan yang berkaitan dengan dunia jurnalistik. Tema dari program-program tersebut merupakan hasil dari evaluasi para jurnalis itu sendiri, sehingga mereka bisa semakin mengasah kemampuan mereka.

Selain itu, kami juga setiap tahun mengadakan semacam  ajang penghargaan bagi para jurnalis yang memiliki prestasi dalam dunia jurnalistik.  Kami berikan penghargaan bagi kameramen video terbaik, penulis terbaik, fotografer terbaik  dan lain sebagainya.

Kami juga memiliki kantor berita khusus yang memberikan kesempatan bagi para wartawan junior maupun senior untuk berkreasi dan mengembangkan bakat jurnalis mereka.

Apa pesan anda sebagai salah seorang wartawan senior di Gaza untuk dunia, khususnya Indonesia?

Pesan kami jelas. Kami para jurnalis dan wartawan Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat, setiap harinya mengalami berbagai aksi  penyerngan dan kekerasan yang dilakukan oleh militer zionis Israel, dan sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, pada tahun 2014 silam, 17 saudara jurnalis kami gugur oleh berbagai aksi brutal zionis Israel selama 51 hari agresi militer. Ini adalah jumlah yang sangat banyak bagi kami. Dan masalahnya bukan di jumlah, akan tetapi mereka adalah para jurnalis yang berkorban dengan jiwa raga demi menyampaikan pesan dan realita.

Kami membutuhkan aksi dukungan dan advokasi untuk para jurnalis Palestina  dengan menekan zionis Israel agar mereka memberikan kami kebebasan dalam bergerak, kebebasan dalam berpendapat serta kebebasan untuk memiliki peralatan keselamatan yang dibutuhkan oleh para jurnalis.

kami juga meminta dukungan dunia untuk membawa permasalahan pelanggaran atas hak hak para jurnalis kami ke meja peradilan internasional hingga para jurnalis Palestina bisa mendapatkan kembali hak-hak mereka. (L/K02/Reza/P001)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)