Kajian Tafsir Surat At-Taghabun Ayat 15

Oleh; Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur 

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS At-Taghabun: 5).

Penjelasan Surah At-Taghabun Ayat 5

Setelah membahas tentang musibah. Allah Subhanahu wa ta’ala mengingkatkan kepada orang beriman bahwasaan istri dan anak bisa menjadi musuh.

Musibah merupakan segala sesuatu tidak menyenangkan. Jadi jika kita mendapatkan istri yang memusuhi kita, itu adalah musibah. Juga jika kita memiliki anak anak yang memusuhi kita, itu juga adalah musibah.

Selanjutnya Allah memberikan tuntunan bagaimana supaya istri dan anak tidak menjadi musibah, Landasan pertama berhati-hatilah, waspadalah dan seriuslah. Dalam ranah pendidikan, kita mendidik anak-anak kadang-kadang tidak berhati-hati, tidak waspada, dan tidak serius.

Sebagaimana di Amerika Serikat orang tuanya mengantar anaknya ke sekolah sampai ortunya tahu betul duduk anaknya di kelas dan ia selalu mengontrol. Orang tua sering menanyakan kepada gurunya posisi duduk anaknya di kelas.

Sementara terkadang kita jika dipanggil untuk mengambil raport anak kita, tidak datang dengan berbagai alasan. Kalau anaknya bermasalah padahal ia belum izhar (serius) sehingga kita belum izhar terhadap akan-anak kita. Inilah kita mohon melakukan introfeksi kalau anak-anak kita kadang-kadang menjadi musuh, dan istri menjadi musuh kita. Bahkan dengan istri kita malah takut ini belum izhar.

Inilah realita kehidupan setelah itu kalau akhirnya istri dan anak mu melakukan kesalahan. Allah memberikan tiga tuntunan.

Pertama, kita memaafkan,

Kedua, kita memberikan kelonggaran,

Ketiga, kita mengampuni kesalahan-kesalahan mereka

Para ahli tafsir membedakan antara memaafkan tidak (bertindak keras atau lemah lembut), kemudian kelonggaran (memberikan toleransi), mengampuni (menutup kesalahan mereka).

Penafsiran dari Ibnu Kasir

Jadi, agar Allah mengetahui mana orang mentaati Allah setalah diberi harta dan anak,  dari yang maksiati harta didahulukan dari pada anak. Berat mana menghadapi coban harta dengan anak? berat harta! Begitu mengapa harta didahulukan. Kalau kalimat musuh mesti negatif, kalau kalimat fitnah belum tentu negatif.

Makanya Allah tidak mengunakan kalimat  Innama (إِنَّمَا) ini baru bahasaan kata sudah memahamkan.

Jadi Allah tidak menggunakan, karena ada anak atau istri yang bukan musuh. Tetapi kalau harta dan anak mesti cobaan.

Kadang-kadang anak dan harta ini terpengaruh bisa jadi baik, bisa juga jadi buruk itu namanya (ujian). Dengan anak kita bisa lebih bersyukur. Tetapi dengan anak kita bisa jadi kufur, sementara dengan harta kita bisa menjadi syukur.

Juga dengan anak kita bisa menjadi kufur, dengan anak kita bisa mendapatkan kebaikan. Namun dengan anak kita juga bisa mendapatkan keburukkan, harta bisa mendatangkan kebaikan, harta juga bisa mendatangan keburukkan.

Begitu juga anak, dengan anak mendatangkan kebaikan. Apa kebaikannya? Kalau anak kita baca Quran kita dapat pahala. Ibu saya yang tidak bisa apa-apa, hanya bisa membaca Quran. Kalau saya mengajar Quran, ibu saya di akhirat mendapatkan pahala terus.

Sebab amal Jariyah ada tiga, ilmu yang manfaat, anak yang sholeh, dan shadaqah jariyah. Maka jangan berkecil hati yang tidak mempunyai anak, masih ada dua lainnya, yaitu shadaqah jariyah dan ilmu yang manfaat.

Allah Subhanahu wa ta’ala begitu adilnya. Oleh karena itu, Allah mengingatkan dalam Quran, jangan sampai anak-anak dan harta membuat kita terlena dan maksiat kepada Allah. Jangan sampai terlena dengan anak. Jangan sampai juga membanggakan anak kita, sehingga muncul rasa sombong kita.

Kalau yang muncul kebanggaan dapat menjadi berdosa. Padahal itu semua kehendak Allah. Itulah fitnah yang tidak terasa oleh kita.

Maka Allah kemudian menyampaikan ada empat macam anak dalam Qur’an, pertama anak sebagai musuh, yang kedua anak sebagai fitnah, dan ketiga anak sebagai perhiasaan. Perhiasaan itu memberikan kebaikan tetapi sementara di dunia boleh kita banggakan. Di akhirat kita tidak dapat apa-apa. Itulah ada anak sebagai hiasan.

Keempat, anak sebagai penyejuk mata (qurrota a’yun). Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, yaitu ketika anak di dekat kita menyenangkan, dan ketika jauh menentramkan.  (A/R4/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)