Kisah Pemilik Kebun, Kajian Tafsir Surah Al-Qalam Ayat 17-33

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

إِنَّا بَلَوْنَٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا۟ لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ

Sesungguhnya Kami telah mencoba mereka) Kami telah menguji orang-orang musyrik Mekah dengan paceklik dan kelaparan (sebagaimana Kami telah mencoba pemilik-pemilik kebun) atau ladang (ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya) akan memetik buahnya (di pagi hari) di pagi buta, supaya orang-orang miskin tidak mengetahuinya.  (QS: Al-Qalam: 17).

Kisah Pemilik Kebun

Kisah tersebut benar terjadi di Yaman, diceritakan dalam Al-Quran dan sebagai pelajaran. Ada beberapa ulama berbeda pendapat tentang hal tersebut. Kisah ini diungkap dalam QS Al-Qalam:17-33. Syahid bin Zubair berkata, mereka itu penduduk desa bernama Drowan yang letaknya sekitar 6 mil dari kota Sanaa.

Tetapi ada yang mengatakan bahwasannya mereka itu adalah penduduk Habasah. Bapak mereka adalah orang-orang yang sholeh. Ia meninggalkan warisan berupa kebun untuk keluarga. Mereka termasuk keluarga ahli kitab.

Al-kisah, ada seorang pemilik kebun yang dermawan. Ia selalu membagikan hasil panen kebunnya kepada fakir miskin. Ia memiliki rumus, sepertiga untuk modal (investasi), sepertiga untuk keluarga dan sepertiga lainnya untuk fakir miskin. Karena sifat kedermawanannya, ia dicintai masyarakat, kebunnya pun tumbuh subur dan bekembang dengan baik.

Akan tetapi, ketika Sang Ayah sudah meninggal dan diwarisi oleh anak-anaknya (Ia memiliki tiga orang anak). Mereka kemudian enggan berbagi hasil panennya kepada fakir miskin.  Mereka berkata: “Bapak kita ini bodoh, kenapa? hasil kebun kenapa mesti diberikan kepada orang-orang miskin, kalau tidak kita bagi, niscaya kita akan jauh lebih kaya lagi”.

Meski ada saudara mereka (yang tengah) sempat memberi nasehat kepada kakak dan adik mereka, namun nasihat itu tidak dihiraukan. Akhirnya mereka memutuskan, hasil panen tidak ada yang dibagikan kepada fakir miskin.

Untuk mengelabuhi fakir miskin, mereka pergi ke kebun untuk memetik hasil panennya pada waktu pagi hari sebelum orang-orang bangun tidur agar tidak dilihat orang.  Mereka sengaja merencanakan untuk tidak disisakan bagi fakir miskin.

Maka, ketika pada pagi buta mereka sampai di kebun, Mereka kaget karena kebun mereka telah hancur. Tidak ada lagi sisa buah-buahan yang bisa dipanen. Bencana telah menghancurkan dan meleburkan kebun sehingga tidak menyisakan sama sekali sedikit pun.

Setelah melihat kebun yang sudah hancur, mereka berkata “sungguh kita telah tersesat, ini bukan kebun kita”. Akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka.

Hikmah dari Kisah Pemilik Kebun 
Menurut M.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbahnya, dari kisah diatas ada beberapa hikmah yang bisa kita simpulkan. Pertama jika kisah tersebut merupakan kisah yang benar-benar terjadi, maka ini merupakan peringatan untuk berbuat baik kepada fakir miskin dan kurang mampu. Karena dalam harta orang yang bertaqwa ada hak fakir miskin baik yang minta maupun yang tidak meminta.
Kedua, walaupun kita telah berzakat, kita tetap dianjurkan membantu fakir miskin yang ada di sekitar kita jika kita memang mampu. Kemudian, ibroh lainnya yaitu sesungguhnya azab Allah bisa terjadi seketika dan kapan saja, sehingga jangan pernah merasa aman dari azab.
Ketiga, kata “ ’Asaa robbunaa” dalam ayat 32 menandakan bahwa para pemilik kebun menyadari ujian merupakan didikan dari Rabb mereka, sehingga ketika kita mendapat ujian maka kita wajib mengambil pelajaran darinya. Dilanjutkan dengan kata “…ayyubdilanaa khoiroo minhaa innaa ilaa robbinaa rooghibun” mereka meminta untuk digantikan dengan kebun yang lebih baik daripada ini dan memohon ampun kepada Rabb mereka.
Keempat, tidak ada kamus putus asa bagi seorang muslim, sehingga mereka meminta ampun dan berharap ada yang lebih baik. Jika ini merupakan kisah simbolik maka kita dapat mengambil hikmah bahwa seperti kita lihat sekarang banyak orang (dan mungkin kita juga) pernah berpikir bahwa kita merasa sudah berbuat banyak dan yakin sekali bahwa akan mendapat tempat terpuji dimata Allah.
Kelima, jangan merasa cukup dengan amalan-amalan yang sudah dilakukan dan jangan berpikir di akhirat kelak akan memetik pahala hasil jerih payah kita. Padahal belum tentu demikian adanya. Jangan tertipu, seperti kisah para pemilik kebun diatas yang membayangkan dapat memetik hasilnya, namun Allah memusnahkan kebun mereka karena kesalahan mereka, dan mereka pun tidak mendapat apa-apa dari kerja keras mereka.
Dari sini, kita menyadari bahwa jangan pernah merasa cukup dengan amalan-amalan yang sudah kita lakukan, mari kita terus tingkatkan amal kita sampai maut menjemput kita dan mari kita ingat juga firman Allah bahwa yang terbaik itu bukan yang paling banyak amalannya melainkan yang paling baik amalannya.
Mari kita berdo’a agar senantiasa dijauhkan dari azabNya dan diberi petunjuk yang lurus terhadap segala ketentuanNya. (A/P2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)