Kajian Tafsir Surah Al-Jin Bahas Jin, Janin dan Majnun

Oleh Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur

Kata Jin, Janin dan Majnun satu kosakata kenapa? Karena kata “Jin” berasal dari “Jann” yang juga tertutup, tertutup dari pandangan manusia, ia tidak mampu dilihat oleh siapa pun, kecuali Allah tampakkan, dan ia masuk pada makhluq ghaib.

Dalam kitab “Tadzhib al-Lughah lil Harwi” ia bermakna bersembunyi, menahan diri, atau menutupi dirinya dari manusia.

Kata “Janin” bermakna “tertutup”, karena tidak mampu dilihat mata, bahkan alat canggih pun, ia masih samar, walau kadang bisa ditebak.

Kata “Majnun” (gila) adalah orang yang pikirannya “tertutup” atau terhalang, tidak mampu berfikir dengan baik, bahkan tertutup oleh apapun dari luar dirinya dan dari dalam dirinya.

Surah Al-Jin ini diturunkan Allah di Makkah setelah Surah al-A’râf. Dinamakan dengan surah Al-Jin karena memuat dan menyebutkan beberapa kondisi Jin, sikap mereka, perbincangan sesama mereka serta hubungan mereka dengan manusia. Sampai menjelaskan pencurian yang dilakukan sebagian mereka terhadap berita-berita ghaib di langit.

Inilah hubungan (Tanasub) antara surah-surah sebelumnya, demikian menurut tafsir Imam Al-Maraghi. Jadi, Jin adalah makhluk yang sangat dekat dengan manusia hanya saja tidak kelihatan (ghaib) dan dia makhluk mukallaf kehidupan bersama-sama dengan manusia, makhluk mukallaf pertama manusia dan kedua Jin.

Ada sebagian orang mengatakan jika ingin melihat Jin maka baca surah Al-Jinn. “Itu salah”. Sebab Jin itu makhluk ghaib.

Ayat ini dimulai dari perintah Allah dengan menghubungkan ayat-perayat. Jadi Rasulullah diperintah sekali lagi di sini yang disebut dengan Sam’iyyat.

As-Sam’iyyat ialah membincangkan perkara-perkara ghaib yang tidak dapat dilihat dengan mata dan tidak diketahui melainkan dengan perantaraan wahyu, seperti surga, neraka, dan mahsyar. Maka Jin hanya bisa  menerima dakwah Nabi karena mendengar bacaan Quran.

Sesuatu yang tidak tampak (Jin) dia dekat dengan manusia seperti nyawa tidak terlihat oleh mata. Coba perhatikan orang yang berpaham komunis, PKI dan materialisme. Ini orang yang tidak berakal, bahkan mereka tidak percaya sama nyawanya apalagi masalah yang ghaib.

Para sahabat Nabi tidak mengetahui informasi surah ini terkait perintah Allah kepada Rasul-nya, bahkan Rasul sendiri pun. Ini bukan Sam’iyyat tetapi Istima artinya memperhatikan sekelompok Jinn yang berbondong-bondong melewati Rasul, maka di antara mereka (Jin) berkata, “sesungguhnya kami mendenger bacaan Quran yang menakjubkan.”

Apa yang menakjubkan dari Quran adalah memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Maka Jin pun beriman kepada-Nya. Karen itu, Jin ada yang beriman.

Ini informasi Jin yang beriman, Jin yang tidak menyekutukan Allah sebagai terhadap sesuatu apa pun. Mereka (Jin) berbicara dengan keagungan Allah, ”dan sungguh Dia Maha Tinggi dan Agung. Dia tidak tidak beristri dan juga pula beranak, “ini Jin saja mengetahui bahwa Allah tidak punya istri dan anak.

Sesungguhnya ada sebagian manusia baik laki-laki dan perempuan meminta perlindungan dari selain Allah, yaitu dengan Jin. Mereka meminta perlindungan dan bahkan berinteraksi dengan Jin. Itu justru akan menambah kesalahan yang buruk. Maka hati-hati orang yang bermain dengan Jin.

Inilah kedahsyatan Al-Quran. Dari nama surah saja tidak begitu panjang, tapi bermakna dalam. Seperti juga Al-Baqarah (Sapi Betina), ini terangkum ayat demi ayat dan maknanya.

Begitu pun Surah Al-Jinn hanya dengan satu kata. “Saya kira ini sangat sulit ditiru oleh manusia membuat satu kata, tapi bermakna, oleh seorang penulis sekalipun.”

Maka begitu penting judul, hanya satu kata itu saja sangat sulit. Daftar surah Al-Quran semua hanya satu kata, maka berbahagialah orang yang masih berinteraksi dengan Quran.

Pada surah ini, Allah memerintahkan kepada Rasulullah ada sekelompok bangsa Jin yang memperhatikan dan mendengarkan bacaan Al-Quran, yaitu ketika Rasul shalat Subuh bersama para sahabat.

Nafar dapat difahami secara bahasa sebagai rombongan yang jumlahnya antara 3 sampai 10 orang, Istilah ini digunakan dalam ayat Al-Quran kelompok, Jamaah, Firqah (bilangan), jumlah paling kecil (Thoifah).

Kemudian Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk menyampaikan kepada para sahabatnya bahwasannya ada sekelompok Jin mendengarkan bacaan Al-Quran. Jadi Rasulullah dan para sahabat pun tidak mengetahui Jin mendengarkan bacaan Al-Quran mereka.

Menurut Imam Bukhori, hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah tidak pernah membacakan Al-Quran kepada Jin dan juga tidak pula melihat Jin. Akan tetapi suatu saat ketika beliau berjalan bersama para sahabat menuju pasar Ukaz untuk berdakwah waktu itu masih di Mekkah.

Sekelompok Jin ada yang berkata “Wah hubungan kita dengan langit kok terputus kenapa ini?” Bahkan Jin suka mencuri rahasia-rahasia langit hingga mereka dihalangi dengan panah dari api. Akhirnya mereka (Jin) mengatakan, “ini mesti ada sesuatu, kenapa kita tidak bisa lancar seperti biasa mencuri-mencuri rahasia langit.”

Kemudian di antara mereka ada yang memerintahkan, “coba kamu cari apa itu penyebabnya, sebab malam ini kita terputus rahasia-rahasia dari langit”.

Maka, sebagian mereka (Jin) pergi ke Tihamah تِهَامَةُ‎  (suatu daerah di Jazirah Arabia yang terbentang di sepanjang pesisir Laut Merah). Mereka (Jin) melewati Rasulullah bersama para sahabat sedang melaksanakan salat Subuh dekat pohon kurma. Ketika para Jin itu mendengar Rasul membaca Al-Quran ketika salat Subuh, mereka (Jin) mengatakan “Ternyata gara-gara orang ini penyebab kita terhalang dari rahasia-rahasia langit.”

Mereka (Jin) pun akhirnya kembali memberitahukan kepada kaumnya, “Wahai kaumku, penyebabnya adalah karena adanya sesorang yang sedang membaca Al-Quran sehingga hubungan kita dengan langit terputus”.

Menurut para ahli tarikh, peristiwa ini terjadi tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Maka Allah memerintahkan kepada Rasulullah peristiwa tersebut dengan kalimat “kenapa ini mesti harus disampaikan oleh Rasulullah kepada umatnya.”

Ada lima penyebab kenapa Jin mendengarkan Al-Quran harus disampaikan kepada para sahabat, pertama agar mereka mengetahui bahwasan Rasul di samping diutus kepada manusia juga diutus kepada Jin.

Kedua, agar mereka mengetahui bahwa bangsa Jin itu mendengar pembicaran dan memahami bahasa Quran. “Jadi saya mengadakan tali’m, Jin pun ikut bergabung”.

Ketiga, agar para sahabat mengetahui, kalau Jin itu mukallaf seperti manusia.

Keempat, agar para sahabat mengetahui bahwasannya bangsa Jin itu ada yang beriman dan mengajak kaumnya beriman kepada Allah.

Kelima, meski kaum Quraisy durhaka kepada Allah, tapi ketika mereka didengar ayat suci Al-Quran mereka sebenarnya sangat takjub. Ini adalah mukjizat, bukan dari orang yang baca. “Sementara manusia melecehkan”. Itulah mengapa mendengarnya Jin terhadap bacaan Al-Quran itu harus disampaikan Rasul dan para sahabat-Nya. (AK/R4/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)