Kajian Surah Al-Jinn: Iblis dari Golongan Jin

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Pembahasan di kalangan para ulama terkait jin, termasuk apakah Iblis dari golongan jin atau golongan malaikat? kita akan bahas dua pendapat berbeda tersebut beserta hujjah (argument) masing-masing.

Imam Al-Rozi mengatakan, dalam kitab tafsirnya yang masyhur dengan sebutan At-Tafsir Al-Kabir atau Mafaatiih Al-Ghoib: Jumhur (kebanyakan) ulama mengatakan bahwa Iblis itu dari golongan Malaikat. Sedangkan para ahli kalam (Muatakalimun) dan sebagian Ahli Ushul (Ushuliyun) mengatakan bahwa Iblis itu dari golongan jin.

Kenapa dikatakan jin dari golongan malaikat? Sebab ketika mereka (jin) diperintahkan untuk sujud maka sujudlah mereka kecuali Iblis tidak mau sujud. Dari sini ulama berpandangan jin itu dari golongan malaikat yang tidak mau sujud, kemudian ada yang berpandangan, Iblis itu bukan dari golongan malaikat tetapi jin.

Iblis bukan golongan malaikat, sebab jin menentang perintah Allah. Maka kebanyakan ulama lebih cenderung bahwa Iblis dari golongan Jin bukan dari malaikat. Kemudian apakah manusia bisa melihat Jin? sebagian besar ulama berpandangan “tidak bisa” sebagai landasan Surah Al-A’raf 27.

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

Jin termasuk makhluk Allah yang diciptakan untuk beribadah, layaknya manusia. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam diutus untuk menyampaikan risalah kepada mereka juga, sebagaimana kepada manusia.

Oleh karenanya, meyakini keberadaan jin adalah termasuk keimanan, mengingat banyaknya ayat dalam yang menjelaskan keberadaan mereka dan juga hadits-hadits shahih. Namun, jin berada di alam yang tak bisa dijangkau oleh mata manusia. Meski mereka mampu melihat manusia. Namun, mungkinkah manusia berkesempatan melihat jin?

Jawabannya adalah mungkin. Namun tidak dalam wujud aslinya, yaitu ketika jin menjelma menjadi manusia atau hewan. Tak ada seorangpun yang mampu melihat jin dalam wujud aslinya kecuali para Nabi. Selain Nabi, mereka mampu nelihat jin tatkala jin menjelma menjadi manusia atau hewan. Firman Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”. (QS. Al-A’raf : 27)

Dari ayat di atas, Imam Syafi’i rahimahullah mengambil kesimpulan, “Orang-orang adil yang menyangka dirinya mampu melihat wujud asli jin, maka persaksiannya kami batalkan, kecuali kalau dia Nabi.” (Lihat: Tobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra: 2/130)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan kepadaku menjaga harta zakat pada bulan Ramadhan. Ternyata ada seseorang datang dan mengambil sebagian makanan, lalu saya menangkapnya. Saya berkata kepadanya, ‘Sungguh, saya akan melaporkanmu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia berkata, ‘Sungguh, saya orang yang membutuhkan. Saya mempunyai keluarga dan saya mempunyai kebutuhan yang mendesak.’ Lantas saya melepasnya.

Pagi harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah! Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhannya dan keluarganya, maka saya kasihan padanya dan saya melepasnya.’

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah! Sesungguhnya dia berdusta kepadamu dan dia akan kembali lagi.’ Saya yakin bahwa dia akan kembali lagi berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan terakhir sebanyak tiga kali. Abu Hurairah berkata:” Kamu telah mengatakan bahwa kamu tidak akan mengulangi lagi, ternyata kamu mengulangi lagi.” Lalu dia berkata, “Lepaskanlah aku. Sungguh, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, pastilah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi manfaat kepadamu berkat kalimat-kalimat tersebut.’

Saya bertanya, ‘Apa kalimat-kalimat tersebut?’ Dia berkata, ‘Apabila kamu telah berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi, niscaya engkau senantiasa mendapat perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setan tidak akan mendekatimu sampai pagi. Hal itu disampaikanlah kepada Rasulullah, kata Rasul “itu adalah jin”, benar apa yang diajarkan, tidak benar (pendusta) yang mengajarkan”.

Jika terjadi semacam itu? itu adalah penjelmaan Jin. Jadi bukan dalam bentuk alsi Jin yang asli, tapi dia menjelma mungkin menjelma menjadi manusia atau binatang. Inilah pandangan Jumhur ulama. Jadi sekali lagi perlu kita ragukan apabila ada orang menyatakan bahwasannya mereka melihat Jin, maka yang dilihat adalah penyerupaan atau penjelmaan pada makhluk yang lain.

Sebagian menusia pernah melihat Jin itu adalah penjelmaan sebab jin bisa menjelma makhluk yang lain, namun sangat jarang sebab perlu proses, dan itu tidak mudah.

Misalkan jin mau menjelma manusia “bisa saja”, sebab memerlukan perjuangan yang tidak mudah bahkan menurut cerita tarikh jin merasakan sakitnya luar biasa untuk menjelma menjadi manusia dan untuk kembali pun sama, maka sangat jarang jin menjelma menjadi mahluk lain.

Perbedaan-Persamaan Jin dan Manusia

Pertama, jin dan manusia sama mempunyai jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Maka dianjurkan bisa kita (muslim) ketika masuk kamar mandi untuk selalu membaca doa.

Kedua, jin dan manusia mempunyai keturunan.

Ketiga, jin dan manusia sama-sama makan, hanya yang membedakan, jin makan kotoran, tulang dan makanan yang ketika makan tidak diawali dengan basmalah, sedangkan manusia makan materi (setiap objek atau bahan yang membutuhkan ruang, yang jumlahnya diukur oleh suatu sifat yang disebut massa).

Keempat, jin Islam mengikuti aturan syariat Allah misalkan menikah seperti halnya manusia, manusia juga ada yang Islam mentaati aturan Allah, kemudian yang kafir, tidak mentaati aturan Allah, seperti mereka yang tidak menikah dan memilih berzina. Maka jin juga ada yang menikah dan ada yang berzina.

Sedangkan perbedaannya; Jin (Iblis) hidupnya lebih lama dari manusia, bahkan Allah memberikan tangguh hingga hari kiamat, meski ada Jin sama usianya dengan manusia, hidup tidak lama (bisa mati).

Budaya Jin dan Manusia

Jin juga memiliki kebudayaan. Berbudaya artinya, Jin terus mempunyai kehidupan yang perkembangan maju sama halnya manusia. Sehingga dalam beberapa catatan para ulama kontemporer mereka (ulama) menemukan yang dikenal Unidentified Flying Object (UFO) atau Benda Terbang Aneh (piring terbang).

Dalam sebuah ahli kitab, seorang Ir dari Mesir pernah menjelaskan, “tentang fenomena ini dimana ada penelitian di kota Amerika Serikat Colorado (Colorado adalah sebuah negara bagian di barat Amerika Serikat. Colorado terkenal sebagai tempat puncak tertinggi dari pegunungan Rocky) ada piring terbang turun di kandang kuda, kemudian terdengar suara gaduh di kandang kuda tersebut tidak beberapa lama kemudian orang-orang pada berdatangan ke tempat tersebut itu ternyata seluruh isi dikandang kuda itu hanya kulitnya saja badan kuda hilang”.

Setelah diselidik, kemungkinan jin sedangan melakukan penelitian dengan menaiki kendaraan UFO sehingga para ilmuan menyimpulkan peradaban Jin lebih maju daripada beradaban manusia, sebab sulit membuat pesawat yang dapat turun cepat dan naik cepat paling Helicopter “tapi itu juga lambat”. Kalau pesawat terbang agak landai, akan tetapi piring terbang tidak.

Kemudian muncul kesimpulan-kesimpulan bahwa jin mempunyai budaya artinya berpengetahuan, memiliki tempat pendidikan “ternyata betul jin mempunyai tempat pendidikan” lembaga pendidikannya seperti dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga perguruan tinggi sesuai keperluan mereka (Jin). Inilah Persamaan dan Perbedaan teman kita” yang paling dekat dengan manusia tetapi manusia tidak melihat Jin.

Ini penjelasan beberapa para ulama yang menguasai di bidangnya.

Ucapan Jin pada ayat ke 5 Kami mengira tidak ada seorang pun yang mendustakan Allah, jadi perkiraan semacam itu ternyata memang perkiraan tidak benar, ada Jin yang mendustakan Allah juga ada manusia yang mendustakan Allah, sama ada juga manusia yang percaya kepada Allah, dan ada juga Jin yang percaya kepada Allah.

Dari “Kaziba” (Berbohong atau dusta) ini perkataan mereka dengan mendusta ayat-ayat Allah, dengan berkata bahwa Allah mempunyai pasangan dan keturunan (istri dan anak) Surat Al-Jinn: 3.

Surah Al-Jinn: 5

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.

Realita kehidupan banyak sebagian manusia meminta perlindungan kepada Jin. Padahal mereka sendiri mengatakan apabila ini dilakukan (permintaan atau perlindungan) tidak menambah kebaikan kecuali kesesatan. Ini menjadi sebuah peringatan agar manusia tidak meminta perlindungan kepada jin, sebab jin justru akan menyesatkan manusia, Jin tidak akan memberikan tuntunan yang benar siapa yang meminta perlindungan kepada Jin maka Jin itu akan menyesatkan dia (manusia).

Ayat ke 6

وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

Menurut Kitab Tafsir Al Maraghi, ketika manusia meminta perlindungan kepada jin, karena takut kepada jin dan mereka tidak meminta perlindungan kepada Allah, maka Jin akan menghinakan mereka, Jin makin tambah bangga, makin tambah senang, makin tambah menyesatkan kalimat Fazadhum Rohako memang itu yang diharapkan jin itulah manusia-manusia yang disesatkan jin.

Ayat ke 7

وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا۟ كَمَا ظَنَنتُمْ أَن لَّن يَبْعَثَ ٱللَّهُ أَحَدًا

Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (Rasul)pun.

Mereka (Jin kafir) menyangka sebagaimana yang dimaksud adalah penduduk Mekah. Sebab kebanyakan pendudukan Mekah saat itu masih banyak yang kafir, kemudian terus berkembang sampai saat ini. Satu kepercayaan yang sama dimiliki manusia dan Jin kafir, Apa itu? Bahwa mereka meyakini tidak akan ada hari kiamat. Allah menjadikan persamaan antara Jin dan manusia yang kafir yaitu tidak meyakini hari kebangkitan.

Kesimpulan dari Ibnu Katsir

Pertama, Allah tidak akan membangkitkan seorang rasul setelah Nabi Muhammad.

Kedua, yang dimaksud hari perbangkitan itu adalah hari kiamat. Adapun, Ibnu Kasir dari penjelasan Imam Juzai AlKalbi dan Ibn Al Jazari yang maksudkan adalah tidak dibangkitkan seorang Rasul (utusan Allah), Sehingga mereka (Jin dan manusia) tidak percaya bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Rasul, kalimatnya sama persis “tidak ada seorang pun dibangkitkan.

Allah tidak akan membangkitkan seorang rasul setelah Nabi Muhammad. “Kalau ada yang mengaku-aku Rasul itu tidak benar”.

Yakni kami dahulu berpandangan bahwa diri kami lebih utama daripada manusia karena mereka sering meminta perlindungan kepada kami, bila mereka berada di sebuah lembah atau suatu tempat yang mengerikan seperti di hutan dan tempat-tempat lainnya yang angker.

Sebagaimana yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab di masa Jahiliah mereka; mereka meminta perlindungan kepada pemimpin jin di tempat mereka beristirahat agar mereka tidak diganggu olehnya. Perihalnya sama dengan seseorang dari mereka bila memasuki kota musuh mereka di bawah jaminan perlindungan orang besar yang berpengaruh di kota tersebut.

Ketidakan melihat bahwa manusia itu selalu meminta perlindungan kepada mereka karena takut kepada mereka, maka justru Jin-Jin itu makin membuatnya menjadi lebih takut, lebih ngeri, dan lebih kecut hatinya.

Dimaksudkan agar manusia itu tetap takut kepada mereka dan lebih banyak meminta perlindungan kepada mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6) Yaitu makin menambah manusia berdosa, dan jin pun sebaliknya makin bertambah berani kepada manusia.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Ibrahim sehubungan dengan makna firman-Nya: maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6) Artinya, jin makin bertambah berani kepada manusia.

As-Saddi mengatakan, dahulu bila seseorang melakukan perjalanan bersama keluarganya, dan di suatu tempat ia turun istirahat, maka ia mengatakan, “Aku berlindung kepada pemimpin jin lembah ini agar aku jangan diganggu atau hartaku atau anakku atau ternakku.” Qatadah mengatakan bahwa apabila dia meminta perlindungan kepada Jin selain dari Allah, maka jin makin menambah gangguannya kepada dia, dan membuatnya makin merasa takut.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id alias Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Jarir, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Az-Zubair ibnul Kharit, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa dahulu Jin takut kepada manusia, sebagaimana sekarang manusia takut kepada Jin, atau bahkan lebih parah dari itu.

Dan tersebutlah bahwa pada mulanya apabila manusia turun istirahat di suatu tempat, maka Jin yang menghuni tempat ini bubar melarikan diri. Tetapi pemimpin manusia mengatakan, “Kita meminta perlindungan kepada pemimpin jin penghuni lembah ini.”

Maka Jin berkata, “Kita lihat manusia takut kepada kita, sebagaimana kita juga takut kepada mereka.” Akhirnya Jin mendekati manusia dan menimpakan kepada mereka penyakit kesurupan dan penyakit gila.

bersambung..

(AK/R4)

Mi’raj News Agency (MINA)