DI ZAMAN ketika kecepatan menjadi ukuran kemajuan, sering kali nilai ditimbang bukan dari kedalaman makna, melainkan dari seberapa cepat ia menyesuaikan diri dengan arus. Dalam pusaran itu, menutup aurat perlahan diposisikan sebagai sesuatu yang “tidak relevan”, “kuno”, bahkan “menghambat kebebasan”. Mereka yang memilih menutup aurat kerap dipandang aneh, dianggap kurang modern, atau dicap tidak mampu mengikuti perkembangan zaman. Padahal, benarkah kemajuan harus selalu berarti menanggalkan nilai?
Menutup aurat sejatinya bukan sekadar urusan kain dan tubuh. Ia adalah pilihan sadar, sebuah pernyataan nilai tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Dalam tradisi Islam, aurat dijaga bukan karena tubuh itu hina, tetapi justru karena ia mulia. Sesuatu yang bernilai tinggi selalu dijaga, bukan diumbar. Logika sederhana ini sering hilang ketika standar berpikir dibentuk oleh iklan, media sosial, dan industri hiburan yang menggiring persepsi bahwa nilai seseorang terletak pada seberapa banyak ia berani memperlihatkan diri.
Ironisnya, narasi “ketinggalan zaman” sering dibungkus dengan jargon kebebasan. Seolah-olah menutup aurat adalah hasil paksaan, bukan pilihan. Padahal, di banyak tempat, justru mereka yang menutup auratlah yang harus berjuang mempertahankan pilihannya. Di sekolah, di tempat kerja, bahkan di ruang publik digital, cibiran dan stereotip mengalir tanpa diminta. Di sini kita perlu jujur bertanya: kebebasan versi siapa yang sedang kita bela?
Psikologi modern mencatat bahwa tekanan sosial memiliki pengaruh besar terhadap identitas diri. Ketika standar kecantikan dan penerimaan sosial disempitkan pada tampilan fisik, manusia—terutama perempuan—rentan kehilangan kendali atas makna dirinya. Banyak penelitian menunjukkan bahwa objektifikasi tubuh berkorelasi dengan kecemasan, rendahnya harga diri, dan gangguan citra tubuh. Dalam konteks ini, menutup aurat justru dapat menjadi bentuk perlawanan halus terhadap budaya yang mereduksi manusia menjadi komoditas visual.
Baca Juga: Perempuan Tadarus Al-Qur’an Pakai Speaker, Apakah Boleh?
Menutup aurat juga mengajarkan disiplin batin. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa tidak semua hal harus dipamerkan untuk diakui. Di dunia yang serba “unggah”, “tayang”, dan “viral”, sikap ini terasa asing. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ketika seseorang mampu berkata “cukup” pada dorongan pamer, ia sedang melatih kontrol diri—sebuah kualitas yang oleh banyak pakar dianggap sebagai fondasi kesuksesan jangka panjang dan kesehatan mental.
Sayangnya, sebagian orang menilai kemajuan hanya dari perubahan luar. Pakaian dianggap simbol utama modernitas. Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak runtuh karena cara berpakaian, melainkan karena kerusakan nilai: hilangnya kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Jika ukuran “maju” hanyalah soal seberapa berani melanggar batas, maka kita perlu khawatir: ke mana sebenarnya kita sedang melaju?
Bagi mereka yang memilih menutup aurat, keputusan itu sering lahir dari perjalanan batin yang panjang. Ada proses berpikir, pergulatan rasa, dan pencarian makna. Ia bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan hasil kesadaran bahwa hidup membutuhkan kompas. Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak arah, aurat yang terjaga menjadi penanda bahwa ada nilai yang tidak dinegosiasikan.
Inspirasi terbesar justru muncul ketika seseorang berani teguh di tengah arus. Keteguhan itu bukan keras, bukan menghakimi, melainkan tenang dan konsisten. Ia tidak perlu berteriak untuk membuktikan diri. Diamnya bermakna. Sikapnya mengundang rasa hormat, bahkan dari mereka yang berbeda pandangan. Di situlah dakwah nilai bekerja: bukan lewat paksaan, tetapi melalui keteladanan.
Baca Juga: Emak-Emak Mencicipi Masakan di Saat Puasa, Bolehkah?
Pada akhirnya, zaman akan terus berubah. Tren akan datang dan pergi. Apa yang hari ini dianggap modern, esok bisa terlihat usang. Namun nilai yang berakar pada kesadaran diri dan penghormatan terhadap martabat manusia akan selalu menemukan relevansinya. Menutup aurat bukan tentang mundur ke masa lalu, melainkan tentang memilih masa depan dengan fondasi yang kokoh.
Maka ketika menutup aurat dianggap ketinggalan zaman, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan “apakah aku tertinggal?”, tetapi “apakah aku masih tahu ke mana aku melangkah?”. Sebab tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang tenang itu tertinggal. Kadang, justru dengan menjaga batas, kita sedang menjaga arah.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Awas Jangan Salah Beli! Kenali 6 Ciri Kurma Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic