Khutbah Jumat: Kasih Sayang Sesama Umat Islam Mengundang Pertolongan Allah (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

Untitled

بسم الله الرحمن الرحيم

Khutbah ke-1:

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِى خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَفَضَّلَهُ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ بِالْإِنْعَامِ وَالتَّكْرِيْمِ، فَإِنِ اسْتَقَامَ عَلى طَاعَةِ اللهِ اسْتَمَرَّ لَهُ هٰذَا التَّفْضِيْلُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَهُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهِدَ لَهُ رَبُّهُ بِقَوْلِهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيْمِ} صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ سَارُوْا عَلَى النَّهْجِ القَوِيْمِ وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ، فَيَآيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Tiada kata terindah yang patut kita ungkapkan, selain rasa syukur kita kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga kita mampu melangkahkan kaki memenuhi panggilan Illahi Rabbi, menunaikan ibadah shalat Jumat di siang hari ini.

Sebagai wujud syukur tersebut, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita, dengan semurni-murninya iman dan sebenar-benarnya takwa.

Kemurnian iman dapat kita peroleh dengan beribadah dan mentauhidkan Allah Ta’ala sesuai tuntunan syariat. Adapun ketakwaan yang sesungguhnya yaitu menunaikan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh harap akan rahmat-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya diiringi rasa takut terhadap siksa-Nya.

Ayyuhal-hadiruun hafidzakumullah

Pada kesempatan khutbah Jumat ini, khatib akan meyampaikan materi khutbah berjudul: “Membangun Ukhuwah, Mengundang Pertolongan Allah.” Sebagai landasannya, marilah kita merenungkan firman Allah Ta’ala yang terdapat dalam surah Al-Anfal [8] ayat ke-62-63:

وَإِنْ يُرِيْدُوْا أَنْ يَخْدَعُوْكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ ۚ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِيْنَ. (٦٢) وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ (٦٣) (الأنفال [٨]: ٦٢-٦٣)

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin. (62) Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (63) (Q.S. Al Anfal [8]: 62-63)

Kedua ayat di atas memberi petunjuk bahwa pertolongan Allah itu pasti akan diberikan kepada orang yang beriman. Pertolongan Allah mencakup bermacam-macam bentuk, antara lain:

Pertama, pertolongan berbentuk kemenangan langsung yang dibuktikan dengan takluknya musuh, seperti yang dialami oleh Nabi Musa Alaihi salam melawan Fir’aun. Juga Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam Bersama para sahabatnya dalam persitiwa Fathul Makkah.

Kedua, kemenangan berupa balasan Allah Ta’ala kepada musuh setelah penegak kebenaran wafat. Seperti yang telah Allah Ta’ala berikan kepada Sya’ya, seorang nabi dari bangsa Israel. Setelah wafatnya, Allah Ta’ala memberi kekuasaan kepada orang lain untuk membalas pembunuhannya.

Allah juga memberikan kemenangan kepada pengikut Nabi Yahya Alaihi salam – setelah beliau terbunuh – para pengikutnya membinasakan bangsa Romawi yang hendak membunuh Nabi Isa Alaihi salam.

Ketiga, kemenangan dapat berwujud sesuatu yang kita anggap kekalahan karena terbunuh, dipenjara, diusir, atau dianiaya. Karena terbunuhnya penegak kebenaran merupakan kemenangan bagi dirinya berupa sebutan (nama) yang baik, Teraniayanya penegak kebenaran akan menjadi syahadah (persaksian) bagi generasi sesudahnya, yang merupakan bentuk kemenangan terbesar.

Ayyuhal-hadiruun hafidzakumullah

Selanjutnya, pada ayat 63 surat Al-Anfal di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nikmat yang dilimpahkan kepada orang yang beriman yang akan mendatangkan pertolongan-Nya yaitu ulfah (persaudaraan) di antara mereka.

Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi menyatakan,“Ayat ini mengisyaratkan bahwa pertolongan Allah itu diperoleh dengan berbagai faktor dan yang terpenting adalah kasih sayang dan persatuan.”

Sementara Ar-Raghib Al-Asfihani mengatakan, ulfah secara bahasa berarti:إِجْتِمَاعٌ مَعَ التُّئَامِ “Berkumpul dengan serasi.”

Dalam bahasa Indonesia, kata ulfah dapat diartikan persaudaraan, persahabatan, persatuan, kesesuaian, lemah lembut, kasih sayang dan yang senada dengannya.

Secara tekstual, ayat ini menggambarkan persaudaraan dan kerukunan orang Anshar dari suku Aus dan suku Khazraj setelah mereka masuk Islam. Di masa Jahiliyah, kedua suku ini dilanda permusuhan dan kebencian yang sangat dalam.

Peperangan yang berkepanjangan di antara mereka terjadi selama ratusan tahun, sehingga Allah memadamkan pertikaian itu dengan cahaya iman, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا ۚ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ (ال عمران [٣]: ١٠٣)

“Dan berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Imam Zamakhsyari di dalam Tafsirnya “Al-Kasysyaf”, sebagaimana yang dinukil oleh Prof. Dr. HAMKA dalam Tafsirnya “Al-Azhar” menulis: “Bersatu-padunya hati orang-orang yang didatangi oleh Rasulullah itu adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang mengagumkan. Karena orang Arab terkenal sangat keras dalam mempertahankan kesukuan dan kebangsaan. Meskipun dalam perkara yang remeh, mereka tidak mau mundur. Jika tersinggung sedikit, segera muncul dendam dan itu tidak habis sebelum malunya tertebus. Orang Arab tidak bisa bersatu, walaupun hanya di antara dua orang. Namun tiba-tiba mereka bersatu dalam mengikuti Rasulullah laksana sebusur anak panah yang diluncurkan tepat mengenai sasaran.”

Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an telah membimbing mereka dan menyatukan mereka sehingga timbul rasa cinta yang mendalam. Sirnalah rasa benci di antara mereka karena disatukan oleh rasa cinta dan benci karena Allah Ta’ala. Tidaklah seseorang akan sanggup berbuat demikian kalau bukan karena Allah yang menguasai hati, yang membolak-balikkan hati manusia menurut kehendak dan kemauan-Nya.”

Ayat di atas walaupun secara tekstual turun berkenaan dengan persaudaraan orang Anshar dari suku Aus dan suku Khazraj, tetapi maksudnya adalah berlaku umum. Kasih sayang di antara umat Islam merupakan salah satu penyebab datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ayyuhal-hadiruun hafidzakumullah

Bagaimana caranya untuk dapat menumbuhkan dan mempererat persaudaraan dan kasih sayang? Beberapa amalan yang dipraktikkan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam dan para sahabat beliau, antara lain:

Pertama, memberitahukan rasa cintanya kepada yang dicintai.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam bersabda, yang artinya: “Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya itu kepadanya”  (HR.Abu Daud dan Tirmidzi). Dengan menyampaikan rasa cinta dan kasih sayangnya itu akan terwujud persaudaraan, saling berbalas kebaikan dan menghilangkan permusuhan.

Kedua, saling mendoakan.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam bersabda yang artinya: “Tidaklah seorang mukmin yang berdoa untuk saudaranya dari kejauhan, melainkan Malaikat berkata, Dan bagimu pula yang seperti itu.  (HR.Muslim).

Maka, doakan saudaramu dengan kebaikan-kebaikan. Niscaya akan tumbuh kasih sayang, persaudaraan dan ringan dalam memberi pertolongan.

Ketiga, tunjukkan kegembiraan ketika berjumpa.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam bersabda, yang artinya: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekedar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.  (HR.Muslim).

Tersenyumlah di hadapan saudaramu, tunjukkan wajah yang ceria, niscaya ia akan membalas senyuman dan keceriaanmu, dan hilanglah perasaan buruk di antara kamu.

 Keempat, berjabat tangan.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam bersabda, yang artinya: “Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah”  (HR.Abu Daud).

Dengan berjabat tangan, mudah mudahan Allah melunakkan hati kita, mengampuni dosa-dosa dan menumbuhkan persaudaraan di antara sesama manusia.

Kelima, saling mengunjungi.

Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwaththa’ meriwayatkan, Nabi Shallallahu alaihi Wasalam bersabda, yang artinya: “Allah berfirman, pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung karena Aku, dan saling memberi karena Aku.”

Dengan saling mengunjungi, akan mengetahui keadaan saudara kita yang sebenarnya, sehingga bisa memberi bantuan apa yang ia perlukan.

Keenam, menghilangkan sekat-sekat buatan manusia dalam kehidupan beragama, seperti sekat kebangsaan, negara, suku, organisasi, partai dan lainnya.

Dengan menghilangkan sekat-sekat itulah, kaum Muslimin akan merasa bahwa tidak ada sekat apapun di antara mereka sehingga tidak ada yang menghalangi mereka untuk bersatu dan saling berkasih sayang, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ (المؤمنون [٢٣]: ٥٢)

Dan sesungguhnya (agama) tauhid ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku.”(Q.S. Al-Mu’minun [23]: 52)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menumbuhkan rasa kasih sayang di antara sesama umat Islam sehingga mampu menjadi umat terbaik, yang mampu menegakkan keadilan dan menyebabkan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 Khutbah ke-2:

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا  أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ،  فَيَآيُّهَا اْلمُؤْمِنُونَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسى بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

(A/P2/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)