New York, MINA — Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan mengecam keputusan Amerika Serikat (AS) yang menolak visa Presiden Palestina Mahmoud Abbas sehingga tidak dapat menghadiri secara langsung Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York.
Erdogan menyebut absennya Abbas selama dua tahun berturut-turut sebagai ketidakadilan yang melukai hati nurani. Maka dunia tidak boleh diam melihat hal itu.
Dalam pidatonya pada Selasa (22/9), Erdogan mengatakan Turkiye akan tetap menyuarakan Palestina meskipun Abbas tidak dapat hadir secara langsung. Ia juga kembali menyerukan kepada negara-negara yang belum mengakui Palestina sebagai negara agar mempertimbangkan kembali sikap mereka.
Majelis Umum PBB sebelumnya mengadopsi resolusi yang memungkinkan Presiden Palestina menyampaikan pidato melalui rekaman video. Resolusi tersebut disahkan pada 17 September dengan dukungan 152 negara, sementara tiga negara, yakni AS, Israel, dan Paraguay, menolaknya dan empat negara memilih abstain.
Baca Juga: Trump Ancam Gunakan Veto Usai Demokrat Menang Pemilu Sela AS
PBB menyatakan mekanisme tersebut diperlukan setelah AS menolak atau mencabut visa sejumlah pejabat Palestina menjelang Sidang Umum PBB. Berdasarkan Perjanjian Markas Besar PBB-AS 1947, negara tuan rumah berkewajiban memfasilitasi akses delegasi negara anggota ke markas PBB di New York.
Erdogan dalam pidatonya juga menyerukan peningkatan tekanan internasional terhadap Israel terkait situasi di Jalur Gaza serta mendesak dimulainya rekonstruksi wilayah tersebut. Ia menyatakan Turkiye akan terus berbicara untuk Palestina yang merdeka dan berdaulat di tengah krisis yang berlangsung.
Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas tetap dijadwalkan menyampaikan pernyataan melalui video yang telah direkam sebelumnya. Pengaturan tersebut menjadi mekanisme khusus yang disetujui Majelis Umum agar Palestina tetap dapat berpartisipasi dalam debat tingkat tinggi meskipun delegasinya menghadapi pembatasan visa dari AS. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Demokrat Unggul di Pemilu Sela AS, Keisha Bottoms hingga Deb Haaland Ukir Sejarah Baru
















Mina Indonesia
Mina Arabic