HARI-HARI ini udara berembus membawa hawa bulan suci Ramadhan, membawa kabar gembira yang telah dinanti-nanti sepanjang tahun. Sebentar lagi, tamu agung akan tiba.
Bulan suci Ramadhan datang tidak dengan membawa tangan kosong, melainkan dengan membawa keberkahan, kasih sayang, ampunan yang luas, dan pembebasan dari api neraka. Maka, dengan gembira kita pun mengucapkan, “Marhaban yaa Ramadhan.”
Marhaban ya Ramadhan. Kalimat ini begitu akrab di telinga kita. Namun, pernahkah kita merenungkan apa sebenarnya makna di balik ungkapan ini?
Secara bahasa, Marhaban berasal dari akar kata rahb yang berarti luas atau lapang. Dari akar kata yang sama, terbentuk pula kata rahbah yang berarti ruangan luas yang disediakan bagi kendaraan untuk beristirahat, memperbaiki diri, dan mengisi bekal sebelum melanjutkan perjalanan .
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Maka, ketika kita mengucapkan Marhaban ya Ramadhan, kita bukan sekadar mengatakan “selamat datang Ramadhan”. Lebih dari itu, kita sedang menyatakan: “Kami menyambutmu, wahai Ramadhan, dengan hati yang lapang. Kami persiapkan untukmu ruang yang luas dalam jiwa kami, agar engkau bebas melakukan apa saja yang engkau kehendaki untuk mengasah dan mengasuh diri kami dalam perjalanan menuju keridhaan dan ampunan Allah.”
Jadi, Marhaban ya Ramadhan mengandung makna menyambut bulan suci dengan kegembiraan dan kesediaan untuk memperbaiki yang kurang baik menjadi lebih baik. Kegembiraan ini bukan sekadar euforia biasa, melainkan ekspresi syukur karena Allah masih memberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan mulia.
Jika Marhaban berarti menyambut dengan lapang dada, maka Ramadhan sendiri, secara etimologi berasal dari kata ramadha yang berarti membakar. Apa yang dibakar? Yakni sifat-sifat buruk kita, membakar penyakit-penyakit yang bersemayam di hati kita. Ini semua jalan menuju takwa kepada Allah.
Sebagaimana tujuan puasa yang tercantum dalam Al-Quran:
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183).
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan akhir puasa adalah takwa. Dan takwa tidak akan tercapai jika hati masih kotor. Karena itu, membersihkan hati sebelum memasuki Ramadhan adalah keniscayaan.
Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan keras:
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani).
Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka hanya meramadhankan fisik, menahan lapar dan dahaga, tetapi tidak meramadhankan hati. Mereka masih membiarkan penyakit-penyakit batin bersarang: suka berdusta, gemar menggunjing, iri hati, dengki, sombong, dan berbagai penyakit lainnya .
Padahal Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan:
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR Bukhari).
Hadits ini menjadi peringatan tegas bahwa puasa Ramadhan yang berkualitas adalah puasa yang disertai dengan penjagaan seluruh anggota tubuh, terutama hati dan lisan.
Pada akhirnya, Marhaban ya Ramadhan bukan sekadar ucapan yang tertulis di spanduk atau terkirim di pesan singkat. Ia adalah deklarasi hati bahwa kita siap menyambut bulan suci dengan lapang dada, siap membakar segala penyakit hati, siap saling memaafkan, siap menjauhi iri dan dengki, dan siap mengisi Ramadhan dengan amal terbaik.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Semoga kita semua dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan dalam keadaan sehat, iman yang kokoh, dan hati yang benar-benar bersih. Sehingga ketika Ramadhan datang, ia menemukan ruang yang luas dalam jiwa kita, dan ketika ia pergi, ia meninggalkan bekas takwa yang melekat hingga Ramadhan berikutnya.
Marhaban ya Ramadhan! Selamat datang bulan penuh ampunan! Selamat datang bulan penyucian hati!
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
















Mina Indonesia
Mina Arabic