New York, MINA — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengecam keras serangan udara militer Myanmar yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 50 orang di Negara Bagian Rakhine. Ia menyerukan penghentian kekerasan dan perlindungan terhadap warga sipil.
Serangan terjadi pada Senin (28/9) di sekitar sebuah pasar di wilayah Kyauktaw. Laporan PBB menyebut sedikitnya 58 orang lainnya terluka, dengan sejumlah korban mengalami luka serius. Serangan berlangsung ketika kawasan pasar sedang ramai aktivitas warga. Al-Jazeera melaporkan, Kamis (1/10).
Kantor HAM PBB menyebut kawasan pasar tersebut memiliki lebih dari 200 toko yang digunakan berbagai komunitas, termasuk Rakhine, Rohingya, Hindu dan Daingnet. Korban dilaporkan mencakup pedagang, pembeli, pekerja transportasi, perempuan dan anak-anak.
Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric mengatakan Guterres meminta seluruh pihak yang terlibat konflik segera menghentikan kekerasan, melindungi warga sipil, serta memenuhi kewajiban berdasarkan hukum internasional. PBB juga menyerukan agar pelaku serangan dimintai pertanggungjawaban.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Guterres turut mendesak semua pihak memberikan akses yang aman, berkelanjutan dan tanpa hambatan bagi PBB serta organisasi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan. PBB menilai kondisi di Rakhine saat ini belum memungkinkan bagi pemulangan pengungsi, termasuk Rohingya, secara aman, sukarela, bermartabat dan berkelanjutan.
Myanmar masih dilanda konflik bersenjata sejak kudeta militer pada Februari 2021. Di Rakhine, konflik melibatkan militer Myanmar dan kelompok bersenjata Arakan Army, sementara masyarakat sipil terus menghadapi risiko serangan udara, penembakan artileri, pengungsian dan terbatasnya akses bantuan kemanusiaan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
















Mina Indonesia
Mina Arabic