Teheran, MINA – Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam menghadapi serangan terbaru Amerika Serikat yang disebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan antara kedua negara.
Dalam pernyataan tertulis yang dipublikasikan melalui kanal resminya, Ahad (19/7) Khamenei menyampaikan tiga pesan utama, yakni mengecam pelanggaran AS, memperingatkan akan adanya balasan, dan menegaskan Iran tidak akan menyerah di bawah tekanan. Farsnews melaporkan.
Khamenei menyebut tindakan Washington sebagai bukti bahwa komitmen pemerintah Amerika Serikat tidak dapat dipercaya. Ia menilai serangan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump kembali mengingkari nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati kedua negara. Menurutnya, kebijakan yang ditempuh AS justru memperbesar risiko konflik dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.
Dalam pesannya, Khamenei juga menegaskan bahwa Iran memiliki hak untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasional.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Ia memperingatkan bahwa setiap aksi militer terhadap wilayah Iran akan mendapat respons yang tegas, baik dari angkatan bersenjata Iran maupun kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran di kawasan. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi militer antara kedua negara dalam beberapa hari terakhir.
Serangan terbaru AS dilaporkan menyasar fasilitas yang diklaim berkaitan dengan kemampuan militer Iran, termasuk infrastruktur yang dinilai mendukung ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Washington menyatakan operasi itu bertujuan melemahkan kapasitas Iran untuk mengganggu keamanan maritim, sementara Teheran menilai serangan tersebut sebagai bentuk agresi yang melanggar hukum internasional.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat sejak konflik bersenjata yang melibatkan Israel pada awal 2026.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Setelah Ali Khamenei wafat akibat serangan udara, Mojtaba Khamenei ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran dan mengambil sikap keras terhadap tekanan dari Washington maupun Tel Aviv. Sejak saat itu, hubungan kedua negara semakin memburuk dengan saling melancarkan ancaman dan aksi militer.
Pernyataan Mojtaba Khamenei menunjukkan bahwa peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi semakin mengecil apabila tidak disertai langkah deeskalasi dari semua pihak.
Ketegangan yang terus meningkat dikhawatirkan tidak hanya memengaruhi keamanan kawasan Timur Tengah, tetapi juga stabilitas pasar energi global, terutama jika konflik kembali mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic