Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakta Pertahanan Makkah Poros Kekuatan Baru yang Mengubah Wajah Timur Tengah

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:53 WIB

142 Views ㅤ

Pakta Pertahanan Arab Saudi - Turkiye - Pakistan. (Egypt Independent)

ARAB SAUDI, Turkiye, dan Pakistan membentuk aliansi pertahanan kolektif di tengah perang AS-Iran. Bagaimana peluang Iran, Irak, Mesir, dan dampaknya bagi UEA serta Israel?

Pada 7 Agustus 2026, sebuah perjanjian bersejarah ditandatangani di Kota Makkah. Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan secara resmi membentuk Pakta Pertahanan Bersama Mekah (Mecca Joint Defence Agreement). Sebuah aliansi pertahanan trilateral yang oleh banyak pengamat disebut sebagai cermin Pasal 5 NATO, yang menyebutkan bahwa  serangan bersenjata terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Penandatanganan yang berlangsung di Istana Al-Safa ini dilakukan langsung oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Ini bukan sekadar kesepakatan biasa, tapi adalah respons strategis terhadap kegagalan perang AS-Israel melawan Iran yang mulai Februari 2026, yang telah mengguncang kepercayaan negara-negara kawasan terhadap payung keamanan Amerika Serikat.

Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya

Isi dan Latar Belakang

Inti perjanjian ini adalah komitmen pertahanan kolektif, yaitu bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap semua. Namun di balik klausul itu, ada narasi yang lebih dalam.

Ketidakpercayaan pada AS menjadi pendorong utama. Selama perang AS-Iran, pangkalan-pangkalan Amerika di Teluk menjadi sasaran serangan balasan, dan Washington dinilai gagal melindungi sekutunya secara memadai.

Riyadh melihat bahwa outsourcing keamanan ke AS gagal karena dua alasan, yaitu prioritas AS adalah Israel, dan persenjataan AS tidak mampu menghentikan rudal Iran.

Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa

Kekuatan komplementer ketiga negara memperkuat pakta ini, yaitu Arab Saudi dengan kekuatan finansial dan posisi geografis di jalur maritim Hormuz-Laut Merah. Lalu, Turkiye dengan kekuatan militer terbesar kedua di NATO dengan industri pertahanan yang berkembang pesat (tingkat kemandirian senjata mencapai 80%). Kemudian, Pakistan, satu-satunya negara Muslim dengan senjata nuklir dan pengalaman militer yang luas.

Bagaimana Peluang Negara Lain Bergabung?

Iran Target Mitra Potensial?

Meski banyak spekulasi bahwa pakta ini dibentuk untuk membendung pengaruh Iran, ketiga negara secara konsisten menyatakan bahwa perjanjian ini tidak ditujukan untuk melawan Iran. Bahkan, Pakistan membuka pintu bagi kemungkinan Iran bergabung, sebuah pernyataan yang mengindikasikan bahwa aliansi ini bisa berkembang menjadi kerangka keamanan regional yang lebih luas, bukan poros anti-Iran.

Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik

Namun, bergabungnya Iran akan menjadi ujian berat. Teheran memiliki hubungan yang bertentangan dengan beberapa negara pendiri. Tapi jika Iran benar-benar masuk, ini akan mengubah peta geopolitik Kawasan, akan menjadi awal jalur baru kepentingan bersama, bukan sumbu yang saling bertentangan.

Irak Mulai Didekati

Laporan menyebutkan bahwa Irak mulai didekati untuk bergabung dalam kerangka keamanan ini. Posisi Irak yang berada di antara Iran dan negara-negara Teluk membuatnya menjadi anggota potensial yang strategis. Namun, hubungan Irak yang kompleks dengan Iran dan AS akan menjadi pertimbangan utama.

Mesir Peluang yang Terbuka

Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan

Presiden Turkiye Erdogan secara terbuka menyebut bahwa Mesir berpotensi bergabung di masa mendatang. Mesir memiliki militer terbesar di dunia Arab dan posisi geografis yang strategis.

Namun, Arab Saudi tidak serta-merta berkenan. Hubungan Riyadh-Kairo telah mengalami pasang surut, terutama setelah Mesir menunjukkan sikap yang lebih independen dalam beberapa isu regional. Mesir juga memiliki hubungan yang relatif baik dengan AS dan Israel, yang bisa menjadi hambatan.

Dampak bagi UEA

Pakta Makkah telah memperdalam persaingan strategis antara Riyadh dan Abu Dhabi. Uni Emirat Arab, yang melalui Abraham Accords telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, memiliki orientasi keamanan yang berbeda dengan Saudi.

Baca Juga: Qatar Bantah Campur Tangan di Pemilu Israel: “Tuduhan Konyol dan Berbahaya!”

UEA kini berada di posisi sulit, di satu sisi, ia ingin mempertahankan hubungan dengan Israel dan AS, tapi di sisi lain, ia tidak ingin terisolasi dari poros keamanan regional yang dipimpin oleh Saudi, negara tetangga dan mitra dagang utamanya.

Kecurigaan Israel

Israel melihat pakta ini dengan kecurigaan yang mendalam. Pakta Makkah dianggap sebagai penghalang bagi perluasan Abraham Accords dan normalisasi Arab-Israel.

Para perencana strategis Israel telah lama ingin membangun aliansi melawan “pakta Muslim Sunni,” dan kerja sama militer dengan UEA adalah inti dari strategi ini.

Baca Juga: Pertahanan Udara Saudi Cegat Dua Rudal Houthi yang Targetkan Riyadh

Dengan pakta ini, dua blok yang saling bersaing mulai terbentuk, yaitu Blok Pakta Makkah: Saudi, Turkiye, Pakistan, menawarkan otonomi strategis dan kepemimpinan di dunia Muslim. Serta Blok Abraham Accords, UEA, Israel, dengan dukungan AS, menawarkan insentif ekonomi dan perlindungan AS.

Makna Tersembunyi Tanggapan AS

Presiden Donald Trump menyambut baik pakta ini, menyebutnya sebagai “langkah pertama yang besar, berani, dan penting” menuju kemampuan kawasan untuk mempertahankan diri secara lebih efektif.

Sikap ini konsisten dengan kebijakan Trump yang mendorong sekutu untuk meningkatkan beban pertahanan mereka sendiri. Namun di balik sambutan itu, para analis melihat bahwa Pakta Makkah adalah tanda bahwa pengaruh AS di Timur Tengah sedang menurun.

Baca Juga: Ketika Bayangan Rudal Menyasar Tanah Suci Makkah sebagai Garis Merah

Pakta ini bukan menandakan perpecahan dengan AS, tetapi transisi dari doktrin pertahanan lapis tunggal ke jaringan keamanan multi-lapis. Dengan kata lain, negara-negara kawasan tetap ingin bersahabat dengan AS, tetapi mereka juga mengambil polis asuransi jika payung keamanan AS gagal.

Prospek Poros Baru

Pakta Makkah adalah realitas baru yang akan mendefinisikan ulang Timur Tengah. Ini adalah pernyataan bahwa negara-negara kawasan tidak lagi ingin menjadi arena konflik kekuatan besar. Mereka ingin menjadi pemain, bukan pion.

Namun tantangan tetap besar. Tanpa struktur komando terintegrasi, doktrin militer yang seragam, atau kewajiban militer yang jelas, pakta ini masih berupa sinyal politik dengan potensi kelembagaan. Kepentingan strategis ketiga negara berbeda-beda, Pakistan fokus pada India, Turki pada NATO dan Suriah, Saudi pada Teluk dan Yaman.

Baca Juga: Puing Rudal Houthi Jatuh di Riyadh, Rusak Bangunan dan Kendaraan

Pertanyaan besarnya: akankah Pakta Mekah menjadi fondasi keamanan kolektif yang nyata atau hanya sebuah pertemuan kepentingan yang rapuh? Jawabannya akan menentukan apakah Timur Tengah bergerak menuju stabilitas baru atau konflik yang lebih dalam. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Pemimpin Jamaat-e-Islami Pakistan Sebut Aliansi Regional Dapat Bantu Masalah Afghanistan

Rekomendasi untuk Anda