Makkah, MINA – Getaran rudal balistik menyasar kota suci Makkah al-Mukarramah. Puing-puing rudal jatuh di Wadi Al-Mughammas, hanya sekitar 20 kilometer dari Masjidil Haram.
Di tanah yang seharusnya menjadi tempat hati manusia paling tenang, perang telah menyentuh ambang pintu rumah Allah.
Houthi membantah. Juru bicara militer mereka, Yahya Saree, menyebut tuduhan bahwa mereka menargetkan Makkah dan Madinah sebagai “kebohongan besar dan keji”.
Mereka bersikeras bahwa operasi mereka menyasar fasilitas minyak dan pangkalan militer Saudi, bukan kota suci.
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Namun, Otoritas Pertahanan Sipil Saudi tetap melaporkan adanya puing-puing dari dua rudal balistik yang dicegat berjatuhan di beberapa lokasi, termasuk Wadi Al-Mughammas, Jeddah, Taif, dan Rabigh.
Bagi Imam Besar Masjidil Haram, Syekh Abdulrahman Al-Sudais, yang menjadi persoalan bukanlah siapa yang berbicara benar, melainkan niat kriminal yang terungkap dari serangan berulang terhadap dua kota suci.
Syekh Al-Sudais menegaskan bahwa keamanan Makkah dan Madinah adalah “garis merah yang tidak boleh dilanggar”.
Dan ketika garis merah itu disentuh, bahkan oleh puing yang jatuh tanpa sengaja, seluruh umat Islam merasakan getarannya.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Ketika Perang Menemukan Celah
Di balik klaim dan bantahan, ada satu fakta yang sulit diabaikan: Israel sedang mengamati. Dan lebih dari sekadar mengamati, mereka mencoba memanfaatkan situasi.
Laporan Haaretz mengungkap bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, melalui mediasi Amerika Serikat, menawarkan kepada Arab Saudi agar Israel ikut serta dalam pertempuran melawan Houthi.
Tawaran itu bukan sekadar bantuan militer. Ia adalah pintu masuk menuju normalisasi, sebuah upaya untuk mengubah musuh bersama menjadi aliansi strategis. Namun, Putra Mahkota Mohammed bin Salman menolak tawaran itu.
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
Ia khawatir kemarahan publik Saudi yang masih sangat sensitif terhadap isu Palestina.
Penolakan itu adalah pesan yang jelas: Arab Saudi tidak akan menjual harga diri politiknya demi keamanan sesaat. Riyadh tahu bahwa Houthi adalah ancaman. Tetapi Riyadh juga tahu bahwa Palestina bukanlah kartu yang bisa ditukar dengan bantuan militer dari negara yang selama ini membiarkan Gaza berdarah.
Israel, di sisi lain, terus memainkan perannya. Netanyahu dengan lantang mengecam serangan Houthi ke Bandara Riyadh dan menyampaikan belasungkawa. Sebuah gestur diplomatik yang, di permukaan, tampak seperti solidaritas kemanusiaan. Namun, di baliknya, ada kalkulasi politik yang dingin: memanfaatkan kekacauan untuk mendekati Riyadh.
Houthi mungkin benar bahwa mereka tidak menargetkan Makkah. Mereka mungkin benar bahwa operasi mereka menyasar fasilitas minyak dan pangkalan militer.
Baca Juga: Saudi Koordinasi dengan NATO dan Eropa Bahas Perkembangan Kawasan
Namun, perang tidak pernah selektif. Rudal yang meleset, intersepsi yang gagal, atau puing yang jatuh di tempat yang salah, semua itu adalah risiko yang tidak bisa ditanggung oleh kota yang menjadi kiblat miliaran manusia.
Arab Saudi mungkin benar bahwa Houthi menargetkan kota suci. Atau mungkin mereka sedang membangun narasi untuk mendapatkan simpati internasional. Namun, narasi apa pun tidak bisa mengubah fakta bahwa puing-puing itu nyata, dan bahwa Wadi Al-Mughammas adalah saksi bahwa perang telah sampai di ambang pintu Tanah Suci.
Dan Israel? Mereka mungkin benar bahwa Houthi adalah ancaman. Namun, tawaran bantuan mereka bukanlah tanpa harga. Harga itu adalah normalisasi, pengakuan, dan legitimasi, sesuatu yang tidak boleh diberikan selama Palestina masih berdarah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Qatar Bantah Campur Tangan di Pemilu Israel: “Tuduhan Konyol dan Berbahaya!”
















Mina Indonesia
Mina Arabic