‘Palestine Drinks’ Minuman Pengganti Coca Cola dan Pepsi Makin Populer

Minuman ringan Palestine Cola menjadi alternatif pengganti produk minuman pro Israel.(Foto: The National News)

Palestine Drinks, merek produk minuman ringan baru yang makin populer sebagai minuman alternatif pengganti Coca-Cola dan Pepsi.

Minuman ini telah mencatat penjualan produknya mencapai empat juta kaleng, hanya dalam waktu kurang dari dua bulan.

Perusahaan yang memproduksinya didirikan oleh tiga bersaudara keturunan Palestina di Malmo, Swedia.
Permintaan terhadap produk pertama perusahaan Palestine Cola ini telah melonjak sejak The National
mempublikasikannya pada pekan ini, khususnya di Asia Timur.

Sementara penjualannya masih dilakukan di Eropa dan rencananya akan membawa Palestine Cola ke pasar global, dimulai dari Amerika dan Kanada, hingga ke Timur Tengah.

Selain menawarkan merek baru yang berdampak bagi konsumen, keuntungan dari penjualan Palestine Cola akan disumbangkan ke badan amal yang bekerja di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.

Bagaimana ide Palestina Cola dimulai?

Hussein, Mohammed dan Ahmad Hassoun memutuskan untuk menciptakan minuman ringan alternatif pengganti Pepsi dan Coca-Cola, setelah menyadari bahwa restoran dan toko didominasi oleh dua merek dari Amerika Serikat (AS) tersebut.

Ide pendirian perusahaan dimunculkan oleh Hussein yang merasa banyak restoran di Swedia dan Eropa tidak mau menjual minuman produk AS.

Sebab, tergolong merek global yang diboikot konsumen, karena tetap mendukung Israel di tengah berlanjutnya perang Gaza. .

Kakak beradik ini memilih bisnis minuman ringan karena ingin menghasilkan sesuatu yang juga menguntungkan.

Mereka telah menginvestasikan sekitar $50.000 dan dalam menjalakan bisnisnya, mereka tak segan meminta saran dari konsultan di Eropa yang punya pengalaman luas di industri minuman.

Baca Juga:  Peran Ulama dalam Memperbaiki Akhlak Umat

Di mana Palestina Cola tersedia?

Palestine Cola didistribusikan melalui grosir dan bisnis di Swedia. Dijual juga
di Denmark dan Finlandia melalui distributor lokal.

Perusahaan mengatakan, mereka akan fokus pada pasar Eropa untuk saat ini, dengan rencana peluncuran berikutnya di AS dan Kanada, kemudian Timur Tengah.

Kapan Palestine Cola akan tersedia di UEA?

Palestine Drinks menyebut minat dari UEA sangat kuat, dengan lebih dari 10 perusahaan ingin menjadi distributor dan juga membantu produksi.

Rencananya di Timur Tengah akan memiliki pabrik lokal di wilayah tersebut yang akan memproduksi dan menjual dengan kemasan kaleng berlabel Arab.

Persiapannya sampai berprosuksi akan memakan waktu “tiga hingga empat bulan”, kata perusahaan itu.

Apa cerita dibalik desain kaleng tersebut?

Menariknya, kemasan Cola Palestina yang khas menampilkan simbol-simbol bersejarah Palestina, dimulai dengan ranting zaitun di kaleng kemasannya.

Pohon zaitun adalah simbol identitas nasional Palestina yang sudah mendarah daging, sekaligus menjadi sumber pendapatan penting bagi ribuan keluarga.

Pada bagian bawah kaleng menampilkan desain keffiyeh Palestina. Syal kotak-kotak juga dikenakan oleh para pekerja pertanian sebagai pelindung dari sinar matahari.

Selain itu juga menjadi simbol protes selama pemberontakan Arab tahun 1936-1939 ketika warga Palestina bangkit melawan pemerintahan Inggris.

Baca Juga:  Dua Serangan Udara Israel di Kamp Nuseirat, 17 Warga Syahid

Kata-kata “kebebasan untuk semua orang” tertulis di sisi kaleng, menggarisbawahi pesan para pendirinya, bahwa apapun suku dan agamanya, setiap orang berhak atas kebebasan.

Mengapa induk perusahaan Palestine Drinks bernama Safad Food?

Nama perusahaan induk Minuman Palestina, Safad Food, diambil dari nama kota di utara Danau Tiberias di Galilea (di wilayah Palestina) tempat kakek dan paman keluarga Hassoun melarikan diri pada tahun 1948.

Mereka diusir ke Lebanon dan dari sana mereka pindah ke Swedia.

Keluarga tersebut juga berencana mendirikan Safad Foundation di Swedia, di mana dana yang dikumpulkan melalui perusahaan tersebut akan dikumpulkan dan disumbangkan untuk proyek-proyek di Palestina.

Ke mana keuntungan penjualannya?

Ide dan tujuan dari Palestine Drinks adalah bahwa keuntungan yang dihasilkan melalui usaha ini akan disalurkan untuk membantu warga Palestina yang membutuhkan.

Semua keuntungan dari Palestine Drinks akan disumbangkan ke badan amal yang bekerja di Gaza dan Tepi Barat melalui Safad Foundation, yang akan didaftarkan pada otoritas Swedia.

Palestine Drinks telah mulai pembicaraan dengan organisasi-organisasi yang hadir di Tepi Barat dan Gaza untuk bekerja sama dengan mereka terlebih dahulu sebelum mereka mendirikan yayasan.

Tujuan jangka panjang tiga bersaudara ini adalah memiliki organisasi sendiri bersama Safad Foundation dan orang-orang di lapangan, sehingga mereka dapat mengendalikan seluruh rantai dan mengetahui secara langsung bahwa pendanaan tersebut disalurkan ke tempat yang seharusnya.

Baca Juga:  Ben-Gvir Desak ‘Migrasi Sukarela’ Warga Palestina

Apakah akan ada rasa lain?

Awalnya, Palestine Drinks hanya tersedia dalam rasa cola, namun resep telah dikembangkan dan tujuh rasa tambahan baru akan segera diluncurkan.

Yaitu Palestine Cola Sugar Free, Palestine Orange, Palestine Lemon, Palestine Energy Drink, Palestine Ice Tea, Palestine Ice Coffee dan Palestine Water.

Ada juga rencana untuk mengembangkan kemasan botol 1,5 liter yang lebih besar.

Di manakah Coca-Cola dan Pepsi diboikot?

Palestine Drinks ini benar-benar menjadi produk alternatif bagi konsumen memboikot produk lain yang selama ini memiliki hubungan dengan Israel. Maka tidak heran jika hal itu menyebabkan peningkatan penjualannya secara signifikan.

Bahkan pada November, Reuters melaporkan bahwa Parlemen Turki menghapus produk Coca-Cola dari restorannya karena dugaan dukungannya terhadap Israel.

Di Lebanon, alternatif Jalloul dan Zee Cola terbukti lebih populer di kalangan penduduk setempat, sementara Spiro Spathis mencatat peningkatan penjualan sebesar 350 persen di Mesir, media lokal melaporkan.

Di Bangladesh, Akij Food and Beverage berjanji untuk berkontribusi sebagian dari setiap produk Mojo cola yang dijual untuk bantu Palestina. Sehingga penjualannya melonjak sebesar 140 persen, meningkatkan pangsa pasar minuman ringan sebesar 6 persen, menurut laporan media Bangladesh.

Gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS), sebuah kelompok hak asasi manusia pro-Palestina yang diluncurkan pada tahun 2005, mengecam Coca-Cola karena mengoperasikan pabrik di pemukiman ilegal Israel di Atarot di Tepi Barat yang diduduki.

Pada tahun 2018, BDS menyaksikan boikot terhadap Pepsi setelah mereka mengakuisisi SodaStream, produsen minuman ringan yang berbasis di Israel. []
(Dikutip dari The National News, tulisan Neil Halligan)

Mi’raj News Agency (MINA)