Pasukan Pemerintah Rebut Bandara Tripoli, Gencatan Senjata Dirundingkan

Pasukan pendukung Jenderal Khalifah Haftar menguasai bandara internasional Tripoli pada 2019. (Foto: Getty)

Tripoli, MINA – Pembicaraan gencatan senjata dilanjutkan pada Rabu (3/6) antara dua kekuatan saingan Libya ketika pasukan pro-pemerintah merebut kembali bandara internasional Ibu Kota.

Pasukan yang mendukung pemerintah persatuan Libya mengatakan pada Rabu, mereka telah meresesisasi bandara internasional Tripoli di ibu kota itu, yang dikuasai oleh pasukan pemberonyak pendukung Jenderal Khalifa Haftar sejak 2019.

Itu kemunduran terakhir pasukan Haftar dari serangkaian kekalahan bagi komandan militer yang berpangkalan di timur.

“Pasukan kami telah sepenuhnya membebaskan bandara internasional Tripoli,” kata Mohamad Gnounou, juru bicara pasukan yang mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA), demikian dikutip dari The New Arab.

Bandara sipil utama Libya, yang terletak di tepi selatan Ibu Kota telah ditutup sejak rusak parah pada bentrokan 2014.

Pasukan Pro-Haftar, yang melancarkan serangan di Ibu Kota pada April 2019, telah merebut bandara beberapa pekan kemudian.

Namun serangan mereka menjadi jalan buntu berdarah di pinggiran kota dan dalam beberapa pekan terakhir, pasukan pro-GNA telah merebut kembali serangkaian lokasi utama.

Gnounou mengatakan, selama dua pekan terakhir, pasukan pro-GNA telah melancarkan serangan darat dan udara besar, di sekitar area bandara sebelum serangan terakhir.

Ia menambahkan, operasi dimulai Rabu pagi dengan drone memberikan peelindungan udara.

Pasukan Pro-GNA sekarang “mengejar milisi Haftar yang melarikan diri (ke selatan) menuju Gasr Ben Gashir” sekitar 20 kilometer (13 mil) selatan Ibu Kota.

Saluran TV Pro-GNA dan saluran media sosial berbagi video yang menunjukkan pasukan loyalis memasuki bandara.

Pasukan Pro-GNA yang didukung oleh drone dan pertahanan udara Turki juga telah merebut kembali serangkaian kota-kota pesisir.

Pertempuran untuk Tripoli telah menewaskan ratusan orang dan memaksa sekitar 200.000 orang mengungsi. (T/RI-1/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)