Vatikan, MINA — Pemimpin Gereja Katolik dunia Paus Leo XIV menyerukan penghentian segera aksi kekerasan di kawasan Timur Tengah serta mendesak semua pihak membuka kembali jalur dialog untuk mencegah konflik semakin meluas.
Seruan tersebut disampaikan dalam doa Angelus di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik militer di kawasan tersebut. Anadolu melaporkan, Senin (9/3).
Dalam pernyataannya, Paus mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap situasi yang ditandai dengan meningkatnya kebencian, ketakutan, serta kehancuran akibat perang. Ia mengingatkan bahwa kekerasan dan penggunaan senjata tidak akan membawa perdamaian yang sejati bagi kawasan yang telah lama dilanda konflik.
Paus Leo XIV juga mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk berdoa agar “gemuruh bom berhenti dan senjata terdiam,” sehingga ruang dialog dapat kembali terbuka dan aspirasi masyarakat terdampak konflik dapat didengar oleh para pemimpin dunia.
Baca Juga: Hakim Prancis Selidiki Aduan Kejahatan Perang Tentara Israel di Lebanon
Seruan tersebut muncul ketika konflik di Timur Tengah terus meningkat sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 yang kemudian memicu aksi balasan dari Teheran terhadap sejumlah target di kawasan.
Eskalasi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke negara-negara lain, termasuk Lebanon dan wilayah sekitar Teluk.
Selain Paus, pejabat tinggi Vatikan juga mengingatkan bahwa serangan militer terhadap suatu negara dapat melemahkan tatanan hukum internasional. Vatikan bahkan mengkritik konsep “perang pencegahan” yang dianggap berpotensi memicu konflik lebih luas dan memperburuk stabilitas global.
Paus Leo XIV sendiri dikenal konsisten menyerukan diplomasi dan dialog dalam berbagai konflik internasional.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Sejak awal masa kepemimpinannya di Vatikan, ia berulang kali menegaskan bahwa perdamaian tidak dapat dibangun melalui ancaman atau kekuatan militer, melainkan melalui dialog yang tulus, tanggung jawab moral para pemimpin dunia, serta penghormatan terhadap kemanusiaan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
















Mina Indonesia
Mina Arabic