Ramallah, MINA – Sejumlah lembaga yang menangani isu tahanan Palestina menyatakan bahwa penjara dan kamp-kamp militer Israel kini telah berubah menjadi jaringan terorganisir untuk melakukan penyiksaan sistematis terhadap ribuan warga Palestina yang ditahan sejak agresi di Gaza terus berlangsung.
Palestinian Prisoner’s Society, Komisi Urusan Tahanan, dan Addameer sebuah Asosiasi Dukungan Tahanan dan Hak Asasi Manusia merilis laporan bertajuk “Selamat Datang di Neraka”. Sebuah organisasi hak asasi manusia berbasis di Israel, B’Tselem yang berbasis di Israel menyebutkan adanya penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi terhadap warga Palestina yang ditahan oleh pihak Israel sejak 7 Oktober 2023.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Jumat (26/6) bertepatan dengan Hari Internasional untuk Mendukung Korban Penyiksaan yang diperingati setiap 26 Juni, lembaga-lembaga tersebut mengungkap bahwa para tahanan Palestina setiap hari menghadapi berbagai bentuk kekerasan fisik maupun psikologis, perlakuan tidak manusiawi, penghinaan, serta perampasan hak-hak dasar selama berada di fasilitas penahanan Israel.
Mereka menegaskan, praktik tersebut tidak hanya berupa penyiksaan konvensional, tetapi juga mencakup kebijakan kelaparan, tekanan mental yang berat, penghilangan martabat kemanusiaan, hingga tindakan yang secara sengaja menyebabkan penderitaan fisik dan psikologis berkepanjangan terhadap para tahanan.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Menurut laporan itu, berbagai pelanggaran tersebut menimpa seluruh kelompok tahanan Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, lansia, tahanan yang terluka, hingga mereka yang sedang sakit. Praktik tersebut dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk Konvensi Menentang Penyiksaan 1984, Konvensi Jenewa, serta Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional, yang mengategorikan penyiksaan sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Lembaga-lembaga itu juga menyebut tingkat kekerasan terhadap tahanan Palestina sejak dimulainya perang di Gaza Strip telah melampaui bentuk penyiksaan yang pernah terjadi sebelumnya, baik dari sisi skala, tingkat kekejaman, maupun metode yang digunakan.
“Masa saat ini menjadi salah satu periode paling berdarah dan paling brutal dalam sejarah gerakan tahanan Palestina,” demikian pernyataan tersebut.
Lebih lanjut, mereka menegaskan bahwa ratusan laporan dan kesaksian yang berhasil didokumentasikan organisasi hak asasi manusia Palestina menunjukkan bahwa penyiksaan yang terjadi bukan lagi tindakan individual atau insiden terpisah, melainkan telah menjadi kebijakan resmi yang dilakukan secara sistematis oleh otoritas Israel di berbagai tingkat lembaga penahanan.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
Lembaga-lembaga tersebut mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah nyata guna menghentikan praktik penyiksaan, meminta pertanggungjawaban Israel atas dugaan pelanggaran hukum internasional, serta memberikan perlindungan bagi ribuan tahanan Palestina yang masih berada di dalam penjara dan kamp militer Israel. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid
















Mina Indonesia
Mina Arabic