Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pentagon Akui Tak Mampu Cegat Rudal Hipersonik

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 29 April 2026 - 20:39 WIB

Rabu, 29 April 2026 - 20:39 WIB

19 Views ㅤ

Pertemuan pejabat militer AS-Israel di Pentagon (foto: for MINA)

Washington, MINA — Pemerintah Amerika Serikat baru-baru ini mengakui belum memiliki sistem pertahanan yang mampu mencegat rudal hipersonik milik Rusia dan China.

‘Pengakuan ini disampaikan pejabat Pentagon di tengah meningkatnya kekhawatiran atas ketertinggalan teknologi militer Washington dibanding rival utamanya. NDTV melaporkan.

Dalam keterangan resmi kepada parlemen, pejabat pertahanan AS menyebut kemampuan pertahanan yang ada saat ini masih sangat terbatas dan belum dirancang untuk menghadapi ancaman senjata hipersonik.

Bahkan, sistem yang ada hanya efektif untuk menghadapi serangan skala kecil, bukan serangan canggih berkecepatan tinggi.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Rudal hipersonik dikenal memiliki kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara (Mach 5) dan mampu bermanuver di udara, sehingga sangat sulit dideteksi maupun dicegat oleh sistem pertahanan konvensional.

Teknologi ini kini dikembangkan secara agresif oleh Rusia dan China sebagai bagian dari modernisasi militer mereka.

Kondisi ini mendorong Washington mengusulkan pengembangan sistem pertahanan baru bernama “Golden Dome”, yang dirancang untuk memperkuat pertahanan udara berbasis darat dan luar angkasa.

tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sangat besar dalam jangka panjang guna mengejar ketertinggalan teknologi.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Sejumlah kajian ilmiah juga mengungkap adanya celah dalam sistem pertahanan rudal AS, termasuk kelemahan sensor dan keterbatasan dalam menghadapi manuver tak terduga dari rudal hipersonik.

Hal ini mempertegas bahwa sistem pertahanan berlapis yang selama ini diandalkan belum sepenuhnya siap menghadapi ancaman generasi baru.

Pengakuan terbuka ini menjadi sinyal meningkatnya perlombaan senjata global, terutama setelah berakhirnya sejumlah kesepakatan pengendalian nuklir antara negara besar.

Situasi tersebut dikhawatirkan dapat memperbesar risiko konflik strategis di masa depan, seiring berkembangnya teknologi senjata berkecepatan tinggi yang sulit ditangkal. []

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda