Moskow, MINA – Konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel disebut justru memberikan keuntungan ekonomi bagi Rusia, terutama di sektor energi, di tengah lonjakan harga minyak dan gas dunia akibat ketegangan di Timur Tengah.
Sejumlah analis menilai perang tersebut mengganggu pasokan energi global, khususnya dari kawasan Teluk Persia yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Kondisi itu mendorong negara-negara pengimpor energi mencari alternatif pasokan, termasuk dari Rusia yang menjadi salah satu produsen energi terbesar di dunia.
Kremlin menyatakan permintaan terhadap minyak dan gas Rusia meningkat signifikan sejak konflik Iran pecah. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia tetap menjadi pemasok energi yang dapat diandalkan, baik melalui jaringan pipa maupun ekspor gas alam cair (LNG), sehingga banyak negara beralih ke energi Rusia ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu. RTworld melaporkan, Sabtu (7/3).
Lonjakan harga energi juga menjadi faktor penting. Harga minyak dunia melonjak tajam setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran terganggunya jalur distribusi energi, termasuk di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak global.
Baca Juga: Hakim Prancis Selidiki Aduan Kejahatan Perang Tentara Israel di Lebanon
Kenaikan harga tersebut memberi ruang bagi Rusia untuk meningkatkan pendapatan ekspor energi, bahkan di tengah sanksi Barat terkait perang Rusia-Ukraina. Permintaan dari negara-negara Asia, termasuk India, dilaporkan meningkat sehingga memperkuat posisi Rusia di pasar energi global.
Perang Iran sendiri dimulai pada 28 Februari 2026 setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer dan pemerintah Iran.
Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik regional yang berdampak pada stabilitas geopolitik dan ekonomi dunia. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
















Mina Indonesia
Mina Arabic