Politeknik Pekerjaan Umum Didirikan di Semarang

Jakarta, MINA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menyatakan, fokus pengembangan pendidikan tinggi pada tahun 2015- 2019 adalah pengembangan pendidikan vokasi (revitalisasi pendidikan vokasi).

Hal ini sangat penting sebagai upaya penyiapan sumber daya manusia (SDM) terampil dan bersertifikasi yang sangat dibutuhkan dunia kerja dan industr, katanya Kamis (27/12) pada acara penyerahan izin berdirinya Politeknik PU di Semarang kepada Menteri PUPR Moh. Basuki Hadimulyono dalam sebuahy acara di Jakarta.

Oleh karena itu, Kemenristekdikti menyambut baik dan mpendirian Politeknik PUndukung inisiatif dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mendirikan Politeknik Pekerjaan Umum (Poltek PU) Semarang yang akan mengisi kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang pekerjaan umum dan konstruksi di Indonesia yang saat ini jumlahnya sangat terbatas.

Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menunjukkan bahwa setiap pembangunan infrastruktur yang bernilai sekitar Rp 1 triliun dapat menyerap 14.000 tenaga kerja.

Namun demikian dari total tenaga kerja konstruksi di Indonesia sekitar 8,1 juta orang, 74% merupakan unskilled labour dengan pendidikan di bawah jenjang sekolah menengah atas (SMA). Dari jumlah tenaga kerja konstruksi tersebut baru 485.534 orang (5,97%) yang memiliki sertifikasi kompetensi.

“Pengajuan Pendirian Poltek PU ini merupakan langkah yang bagus untuk mensuplai tenaga kerja yang berkompeten khususnya bidang konstruksi. Lulusan Poltek PU diharapkan tidak cukup memiliki ijazah, namun harus mendapat sertifikat kompetensi,” ujar Menristekdikti.

Menteri Nasir menambahkan, Pendirian Poltek PU Semarang ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo agar pendidikan vokasional lebih ditingkatkan untuk mensuplai tenaga kerja terampil dan bersertifikat.

Kemenristekdikti telah merancang berbagai kebijakan dan program terobosan untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Indonesia. Pendidikan vokasi didorong dan difasilitasi untuk bekerjasama dengan industri atau pengguna lulusan.

Selain itu, pendidikan vokasi juga menerapkan sistem ganda (dual system) yaitu kuliah di kampus dan magang di industri. Lulusan pendidikan vokasi harus memiliki sertifikat kompetensi dan 50% dosennya adalah dari industri atau praktisi.

“Nantinya tenaga pengajar Poltek PU selain dari akademisi juga bisa dari tenaga ahli dari PUPR/industri. Syarat menjadi dosen di pendidikan vokasi tidak harus S2, namun dapat dari profesional yang kualifikasinya disesuaikan melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL),” imbuh Nasir.

Pada kesempatan yang sama Menteri PUPR mengapresiasi dukungan Kemenristekdikti dalam proses pendirian Poltek PU Semarang. Menteri Basuki mengatakan bahwa Kementerian PUPR memiliki tanggung jawab besar dalam pembangunan infrastruktur dan perumahan rakyat di Indonesia.

Kebutuhan akan tenaga kerja bersertifikasi khususnya dibidang pekerjaan umum dan konstruksi merupakan sebuah keniscayaan. Kehadiran Politeknik PU Semarang tidak hanya diharapkan mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja Kementerian PUPR namun juga kebutuhan tenaga kerja penyedia jasa.

Menteri Basuki menambahkan, dalam pendirian Poltek PU Semarang, Kementerian PU PR bekerjasama dengan perguruan tinggi terkemuka baik dalam maupun luar negeri. Poltek PU Semarang akan mulai menerima mahasiswa pada tahun ajaran 2019 dengan skema ikatan dinas.

“Kami bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dalam pendirian Poltek PU. Selain itu kami juga bekerja sama dengan IHE Delft Belanda untuk penyusunan kurikulum. Untuk beasiswanya, akan memakai LPDP, bukan dari APBN PUPR,” tutur Menteri Basuki.

Menteri Basuki juga berharap Poltek PU Semarang dapat berjalan dengan baik dan ke depannya dapat mendirikan Poltek PU lainnya di daerah lain untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan SDM di bidang pekerjaan umum dan konstruksi yang jumlahnya sangat besar. (R/R09/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)