MINA – Informasi terkait musim dingin, badai dan hujan di Gaza, Palestina memperburuk krisis kemanusiaan menjadi sorotan pembaca Minanews.net dalam sepekan edisi 8-15 Desember 2025.
Hujan deras yang melanda Jalur Gaza sejak Rabu (10/12) telah menyebabkan banjir luas di berbagai lokasi pengungsian, merendam ribuan tenda dan memperparah krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, dilansir Anadolu Agency.
Ketinggian air mencapai lebih dari 40 sentimeter di dalam sejumlah tenda, memaksa ribuan keluarga pengungsi bertahan di tengah genangan, udara dingin, dan kondisi hidup yang semakin tidak layak.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, memperingatkan terjadinya “bencana kemanusiaan yang segera” akibat kombinasi cuaca ekstrem dan minimnya infrastruktur akibat serangan brutal bombardir Israel sejak Oktober 2023 hingga sekarang.
Baca Juga: Solidaritas Spanyol untuk Palestina, Dari Kibaran Bendera Yamal Hingga Kebijakan PM Sánchez
Ia menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan yang masuk masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 2,4 juta penduduk Gaza. Kondisi ini diperburuk oleh tekanan sistem cuaca musim dingin yang diperkirakan berlangsung beberapa hari dan mengancam ratusan ribu keluarga pengungsi.
Kerusakan infrastruktur yang masif membuat Gaza hampir lumpuh dalam menghadapi banjir. Pemerintah Kota Gaza menyebut tujuh dari delapan stasiun pompa air limbah utama hancur akibat serangan Israel, menyebabkan kemampuan pengaliran air hujan menurun hingga 80 persen.
Kekurangan bahan bakar serta keterbatasan peralatan membuat tim pemerintah kota hanya mampu beroperasi dengan sekitar 15 persen dari kapasitas normal, sementara puing-puing bangunan menutup saluran drainase.
Banjir telah merendam tempat tidur, pakaian, dan persediaan makanan warga pengungsi, meningkatkan risiko penyakit, terutama bagi anak-anak dan lansia. Badan Pertahanan Sipil melaporkan ratusan tenda terendam di berbagai wilayah, termasuk Rafah di selatan Gaza, sehingga puluhan keluarga terpaksa dievakuasi.
Baca Juga: Hikmah Kurban Yang Jarang Dibahas Dari Ketahanan Pangan dan Suplemen Otak
Lebih dari 250.000 keluarga kini berada dalam kondisi sangat rentan karena tenda-tenda yang mereka tempati sudah usang dan tidak tahan hujan lebat.
Melansir Aljazeera, cuaca dingin ekstrem juga merenggut korban jiwa. Seorang bayi perempuan berusia delapan bulan, Rahaf Abu Jazar, meninggal dunia di Khan Yunis akibat kedinginan. Ibunya mengaku telah berusaha menghangatkan anaknya dengan segala keterbatasan yang ada, namun hujan dan suhu dingin yang menusuk membuat upaya tersebut tidak cukup menyelamatkan nyawa bayinya.
Dalam waktu kurang dari 24 jam, pada Sabtu (13/12) dilaporkan badai musim dingin yang dipicu oleh Badai Byron dilaporkan menewaskan sedikitnya 14 warga Palestina.
Sejumlah rumah runtuh di Gaza utara dan Kota Gaza akibat hujan deras dan angin kencang, menimbulkan korban jiwa serta memerangkap warga di bawah reruntuhan. Tim pertahanan sipil masih terus melakukan pencarian dan evakuasi di tengah kondisi cuaca yang sangat menantang.
Baca Juga: Israel Dituduh Memata-matai Guru-Guru Palestina yang Kritik Perang Gaza
Organisasi internasional memperingatkan bahwa pembatasan bantuan kemanusiaan semakin memperparah situasi. Dewan Pengungsi Norwegia menyebut hanya 15.600 tenda yang berhasil masuk ke Gaza, sementara lebih dari 1,29 juta orang masih membutuhkan tempat tinggal. Ribuan palet material hunian ditolak masuk, dan peralatan berat untuk memperkuat kamp pengungsian masih belum diizinkan, meski risiko banjir terus meningkat.
Di tengah keterbatasan ekstrem, sebagian warga Gaza mencoba bertahan dengan cara seadanya. Di wilayah Al-Zawayda, Gaza tengah, para pengungsi membangun tempat berlindung dari pasir, lumpur, dan jerami akibat mahalnya harga tenda dan bahan bangunan. Blokade yang berlangsung lebih dari dua tahun membuat harga semen melonjak tajam, memaksa warga menciptakan solusi darurat demi melindungi keluarga mereka dari dingin dan hujan, dalam krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Mali Bangkit dengan Tambang Emas dalam Nasionalisme dan Kedaulatan
















Mina Indonesia
Mina Arabic