Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Produksi Zaitun Gaza Anjlok, 1,8 Juta Pohon Hancur akibat Serangan Zionis Israel

Arina Islami Editor : Ali Farkhan Tsani - Senin, 28 September 2026 - 05:48 WIB

Senin, 28 September 2026 - 05:48 WIB

22 Views ㅤ

Ilustrasi: pohon-pohon zaitun warga Palestina di Tepi Barat dicabuti oleh penjajah Israel. (Foto: QNN)

Gaza, MINA — Produksi zaitun di Jalur Gaza anjlok drastis setelah lebih dari 1,8 juta pohon zaitun hancur dan luas lahan pertanian zaitun menyusut hampir 90 persen akibat serangan, penembakan, dan pembuldoseran Zionis Israel.

Data Kementerian Pertanian di Gaza untuk musim 2026 menunjukkan luas lahan yang ditanami zaitun turun dari sekitar 50.000 dunum sebelum agresi militer Zionis Israel menjadi hanya 5.000 dunum. Palinfo melaporkan, Ahad (27/9).

Jumlah pohon zaitun juga merosot dari hampir dua juta menjadi sekitar 150.000 pohon setelah lebih dari 1,8 juta pohon mengalami kehancuran.

Sementara itu, produksi buah zaitun turun dari sekitar 40.000 ton per tahun sebelum agresi militer menjadi hanya sekitar 5.000 ton pada musim 2026.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Penurunan tersebut berarti Gaza kehilangan sekitar 87,5 persen produksi zaitunnya.

Di sejumlah indikator pertanian, penurunan bahkan mencapai lebih dari 80 persen, memperlihatkan besarnya dampak kerusakan terhadap sektor pertanian.

Sebelum serangan, sekitar 35.000 ton buah zaitun digunakan untuk produksi minyak dan 5.000 ton untuk pengawetan.

Pada musim 2026, produksi hanya mencapai sekitar 4.000 ton untuk minyak dan 1.000 ton untuk pengawetan.

Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel

Produksi minyak zaitun juga turun dari hampir 5.000 ton menjadi sekitar 700 ton.

Kondisi tersebut menyebabkan kesenjangan pasokan minyak zaitun untuk kebutuhan pasar lokal diperkirakan mencapai sekitar 85 persen.

Di wilayah Al-Qarara, timur laut Khan Yunis,  Abu Muhammad Sharab (45) mengatakan tiga tahun terakhir menjadi masa terburuk dalam kehidupan pertaniannya.

Ia mengatakan lahan yang dahulu dipenuhi ratusan pohon zaitun kini sebagian besar berubah menjadi lahan tandus.

Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat

Banyak petani juga tidak dapat menjangkau lahan yang berada di dekat Garis Kuning.

Beberapa pohon yang masih bertahan dari serangan dan pembuldoseran hanya menghasilkan sedikit buah.

Sharab mengaitkan penurunan hasil panen dengan kekurangan air, pupuk, dan perlengkapan pertanian, serta kesulitan petani menjangkau lahan mereka.

Kerusakan juga meluas ke sektor pengolahan zaitun. Jumlah tempat penggilingan di Gaza turun dari sekitar 40 menjadi hanya tujuh tempat.

Baca Juga: Jelang Musim Dingin, PBB Peringatkan Krisis Pengungsian Gaza

Jumlah jalur penggilingan berkurang dari sekitar 68 menjadi 15 jalur, sementara kapasitas pengolahan turun dari hampir 150 ton per jam menjadi 25 ton.

Di sektor pengawetan, jumlah pabrik turun dari 14 menjadi tiga pabrik. Kapasitas produksi juga merosot dari sekitar 1.500 ton menjadi hanya 200 ton.

Penurunan produksi dan meningkatnya biaya pertanian turut berdampak kepada masyarakat. Harga rata-rata satu wadah minyak zaitun meningkat dari sekitar 137 dolar AS menjadi hampir 411 dolar AS.

Di pasar Al-Zawayda, seorang petani bernama Um Asim mengatakan hasil panen zaitun jenis Souri dari lahannya musim ini sangat sedikit dan kualitasnya menurun.

Baca Juga: Sembilan Warga Palestina Syahid dalam Serangan Terbaru Israel di Gaza

Ia mengatakan kekurangan pupuk dan perlengkapan perawatan pohon menjadi salah satu penyebab menurunnya hasil panen.

Sebagian hasil panen disimpan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sedangkan sisanya dijual untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut Um Asim, kenaikan harga minyak zaitun tidak otomatis meningkatkan pendapatan petani karena biaya air, pupuk, dan perlengkapan perawatan pohon juga meningkat.

Kondisi ekonomi yang sulit membuatnya memanen lebih awal untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama setelah dimulainya musim sekolah.

Baca Juga: Eisenkot Janji akan Segera Manfaatkan Mayoritas di Knesset ‘Lawan Pemerintahan 7 Oktober’

Kerugian sektor zaitun di Gaza bukan sekadar kehilangan hasil panen satu musim. Pohon zaitun membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mencapai tahap produksi ekonomis.

Karena itu, pemulihan sektor zaitun membutuhkan rehabilitasi lahan, penyediaan air, pupuk, dan perlengkapan pertanian, serta jaminan akses bagi petani menuju lahan mereka.

Tempat penggilingan dan pabrik pengawetan yang rusak juga perlu dipulihkan agar rantai produksi zaitun di Gaza dapat kembali berjalan.

Bagi para petani, hancurnya pohon zaitun berarti hilangnya hasil panen sekaligus bertahun-tahun kerja dan investasi yang dibutuhkan untuk menumbuhkan pohon hingga produktif. []

Baca Juga: Blok Netanyahu Dipastikan Tak Dapat Koalisi Pascapemilu Israel

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda