Tirana, MINA – Demonstrasi terkait biaya hidup, perumahan, pendidikan, dan dugaan korupsi telah memicu bentrokan dengan polisi di sejumlah negara Eropa, sehingga menempatkan pemerintah di negara-negara tersebut di bawah tekanan yang kian meningkat.
Dilansir dari Ariana News pada Senin (19/10), aksi protes dan bentrokan kekerasan telah meluas bulan ini. Demonstrasi yang terjadi di Prancis, Belgia, Italia, Portugal, dan Albania mencerminkan meningkatnya frustrasi publik terhadap tekanan ekonomi, masalah pendidikan, serta akuntabilitas pemerintah.
Ratusan ribu orang turun ke jalan dalam berbagai aksi unjuk rasa sepanjang akhir pekan. Beberapa di antaranya berujung pada penjarahan, pembakaran, dan konfrontasi dengan aparat keamanan.
Di Albania, Perdana Menteri Edi Rama menuding pihak asing—yang tidak ia sebutkan secara spesifik—sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut. Ia menyebut kekerasan itu sebagai ulah “pihak luar” yang berupaya mendestabilisasi negara dan menggagalkan ambisi Albania untuk bergabung dengan Uni Eropa.
Baca Juga: PM Prancis Serukan Pemberlakuan Jam Malam Mulai Senin Malam di Tengah Kerusuhan
Tudingan ini muncul di tengah tuntutan ribuan pengunjuk rasa di ibu kota, Tirana, agar Rama mengundurkan diri. Aksi protes serupa juga telah menyebar ke kota-kota lain di Albania.
Albania telah mengalami demonstrasi anti-pemerintah yang semakin keras selama beberapa hari terakhir, dengan kelompok mahasiswa turut bergabung dalam gerakan yang lebih luas untuk menentang pemerintahan Rama.
Para pengunjuk rasa menyuarakan kekhawatiran mengenai dugaan korupsi, kondisi universitas, biaya pendidikan, serta pengangguran. Penolakan terhadap proyek pengembangan pariwisata mewah yang kontroversial di sepanjang pesisir selatan Albania juga turut memicu ketidakpuasan yang lebih luas. Proyek tersebut dikaitkan dengan Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump.
Dalam bentrokan di Tirana, para pengunjuk rasa melemparkan batu, kembang api, dan bom molotov ke arah polisi, sementara sejumlah gedung pemerintah dan properti lainnya mengalami kerusakan akibat kebakaran serta vandalisme.
Baca Juga: Kerusuhan di Prancis Memburuk, 2.000 Orang Ditangkap dan 600 Aparat Terluka
Polisi merespons dengan menggunakan gas air mata, meriam air, dan peluru karet. Pihak berwenang melaporkan adanya sejumlah penangkapan serta jatuhnya korban luka, baik dari pihak pengunjuk rasa maupun aparat.
Rama menolak tuntutan untuk mundur. Ia berargumen bahwa kekerasan tersebut mengancam ambisi integrasi Albania ke Eropa. Ia menyatakan bahwa pemerintah siap menanggapi kekhawatiran mahasiswa yang sah, tetapi tidak akan tunduk pada tuntutan yang disampaikan melalui kekerasan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Protes Biaya Hidup Merembet ke Italia dan Portugal: Milan dan Lisbon Ricuh
















Mina Indonesia
Mina Arabic