Milan, MINA – Gelombang protes menentang mahalnya biaya hidup yang melanda Spanyol dan Prancis meluas ke Italia dan Portugal sepanjang akhir pekan, Sabtu-Minggu (17-18/10).
Di Milan, demonstrasi berujung bentrokan dengan polisi dan pembakaran properti, sedangkan di Lisbon warga mendirikan kamp tenda untuk memprotes krisis perumahan.
Aksi di pusat Milan awalnya damai, tetapi memanas setelah sejumlah perusuh bertopeng melempari polisi antihuru-hara dengan batu dan bongkahan paving serta membakar barikade dari meja bar.
Polisi menembakkan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Menurut kantor berita LaPresse, sedikitnya dua polisi terluka dan sekitar 50 demonstran ditahan, banyak di antaranya masih di bawah umur.
Baca Juga: Trump Sebut Paris Segera Jadi Kota Muslim, Desak Macron Tutup Perbatasan
Al Jazeera melaporkan sejumlah toko dijarah, sementara Piazza del Duomo dan galeri belanja mewah yang biasanya ramai mendadak kosong.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menegaskan unjuk rasa adalah hak warga, tetapi membakar kota tidak bisa dibenarkan.
Ia menuding perusuh memanfaatkan aksi untuk menebar kekacauan dan menyerang aparat. Wali Kota Milan, Giuseppe Sala, menyebut alasan di balik protes bisa dipahami, tetapi kekerasan terhadap polisi dan kerusakan kota tidak dapat dibenarkan.
Di Lisbon, ratusan orang berkumpul di Lapangan Rossio pada Sabtu malam setelah ribuan orang berdemonstrasi di sejumlah wilayah Portugal atas seruan konfederasi serikat buruh CGTP. Mereka menuntut kenaikan upah dan pensiun, perbaikan layanan publik, serta kebijakan menekan biaya perumahan.
Baca Juga: Macron Kecam Kerusuhan Demo Biaya Hidup di Prancis, Hampir 2.400 Orang Ditangkap
Aksi ini memperluas protes yang lebih dahulu muncul di Porto, dan mengingatkan pada kamp serupa di Madrid tiga pekan lalu. Sekitar 40 tenda berdiri di Rossio. Seorang peserta, pekerja sosial Elena Costa, menyebut kelas pembayar pajak merasa tercekik, terutama soal hak atas tempat tinggal.
Data resmi menunjukkan harga perumahan di Portugal naik 124 persen pada 2015-2024, sekitar dua kali lipat rata-rata Uni Eropa. Perdana Menteri Portugal Luís Montenegro menyatakan pemerintahnya memahami kemarahan warga, tetapi memperingatkan lawan politik agar tidak “mengimpor suasana ketidakstabilan” ke Portugal, yang diduga merujuk kerusuhan di Prancis.
Di Prancis, Kementerian Dalam Negeri melaporkan ratusan penangkapan pada unjuk rasa Sabtu, dan seorang demonstran dilaporkan tewas di Paris. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Wapres AS Akui Kesalahan dalam Perang Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic